Kamis, 1 Oktober 2020

Heri Setiawan: Pembaharuan Manajemen Perunggasan

Heri Setiawan: Pembaharuan Manajemen Perunggasan

Foto: dok. trobos
Heri Setiawan

Dalam situasi pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) ini memasuki masa kenormalan baru atau new normal, masyarakat mulai kembali melakukan aktivitas seperti biasa dengan menerapkan protokol kesehatan. Tak hanya di ruang publik, seperti kantor atau mall saja, tetapi kandang pun tak luput dari penerapan protokol kesehatan. Semua yang terlibat dalam kegiatan budidaya ternak patut menaati semua protokol kesehatan, supaya tidak tertular Covid-19 dengan lebih memperhatikan kebersihan diri dan juga kandang.
 
 
Selain untuk menjaga kesehatan pelaku usaha peternakan, penerapan protokol kesehatan juga menjadi tantangan baru bagi peternak, guna menghasilkan protein hewani yang aman untuk masyarakat. Selain itu, komponen pakan memegang peranan yang krusial dalam keberhasilan budidaya atau industri perunggasan. Mengingat kontribusi pakan dalam biaya usaha peternakan paling tidak sebanyak 70 %, dan pakan juga akan menentukan harga pokok produksi (HPP) bagi usaha perunggasan. 
 
 
Berdasarkan data dari Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), saat ini di Indonesia terdapat 92 perusahaan yang telah terdaftar. Tentu saja masing-masing perusahaan memiliki beberapa lokasi pabrik dengan total 112 feedmill (pabrik pakan) yang tersebar di 11 provinsi di seluruh Indonesia. Kondisi industri pakan saat ini pun sejalan dengan perkembangan populasi ternak, dibandingkan dengan produksi pakan pada 2015 silam.
 
 
Produksi Pakan yang Aman
Adapun peningkatan produksi pakan yang tak biasa dari total produksi pakan nasional, yaitu sebesar sepertiganya yang setara dengan 21,5 juta ton pakan. Jumlah produksi pakan yang cukup besar tersebut, jika dilihat dari konsumsinya, ternyata dari 21,5 juta ton didominasi oleh adalah pakan unggas sebesar 90 %. Dari 90 % pakan unggas, kurang lebih 80 % digunakan sebagai pakan broiler (ayam pedaging), layer (ayam petelur) dan termasuk Grand Parent Stock (GPS), sementara sebagian kecil sisanya (10 %) untuk jenis unggas lainnya, seperti puyuh, bebek, dan ayam bukan ras (buras). 
 
 
Perlu diketahui bahwa komponen pakan merupakan isu yang sangat penting, sebesar 50 % dari bahan baku pakan adalah jagung. Saat pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) menerbitkan suatu larangan, awalnya sempat timbul kegaduhan, karena pada saat yang sama industri jagung di dalam negeri sedang terseok. Namun demikian, dengan segala dinamikanya, peternak tetap menggunakan jagung lokal, dan pada 2019 komponen jagung yang digunakan adalah 6,6 juta ton setara nilainya dengan Rp 26 triliun.
 
 
Artinya, dengan diizinkannya impor jagung, negara bisa menghemat devisa sebanyak Rp 26 triliun. Kemudian sebanyak 87 % biaya pakan sendiri adalah untuk pembelian bahan baku pakan. Sementara sisanya untuk biaya operasional, dan biaya-biaya lain hanya 12,5 %. 
 
 
Kendati jagung sudah tidak impor, tetapi bahan-bahan pakan lainnya seperti soybean meal (SBM), corn gluten meal (CGM), meat bone meal (MBM) dan lain-lain masih mengandalkan impor juga. Harapannya, seiring dengan berjalannya waktu generasi-generasi dokter hewan dan sarjana peternakan baru dapat menemukan suatu cara guna mengurangi ketergantungan bahan baku pakan impor.
 
 
Kualitas pakan sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kualitas bahan baku pakannya, formulasi, proses produksi, pelepasan quality control (QC), penyimpanan, serta pengiriman. Keenam faktor ini harus benar-benar dijaga, diperhatikan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, supaya pakan yang diproduksi bisa sampai kepada ayam dalam kualitas yang tetap terjaga. Sehingga, pakan yang berkualitas tersebut bisa memenuhi kebutuhan ayam.
 
 
Transformasi Baru
Pada masa new normal ini pabrik pakan harus melakukan dua transformasi yaitu transformasi teknis dan bisnis. Transformasi teknis terdiri dari tiga hal, yaitu pertama adalah optimalisasi bahan baku pakan, sebab, masih banyak bahan baku pakan yang masih impor dari luar negeri khususnya China. Dengan adanya musibah pandemi ini, suplai dan logistik bahan baku pakan dari China menjadi terbatas.
 
 
Bahan baku pakan semakin lama semakin menipis, jikalau ada harganya pasti akan menyesuaikan. Di sini, para nutrisionis dan formulator pakan harus benar-benar inovatif untuk memanfaatkan bahan baku yang masih tersedia dan masuk spesifikasinya. 
 
 
Hal tersebut juga harus diperhitungkan harganya supaya dapat dijangkau oleh peternak. Lebih baik lagi jika bisa memanfaatkan bahan baku lokal atau menggunakan substitusi bahan baku lain. Yang paling penting adalah harus diupayakan supaya kualitas pakan tetap terjaga.
 
 
Kedua, dikaitkan dengan sinkronisasi formulasi pakan yaitu dengan bahan baku yang ada. Maka, formulasinya harus disesuaikan tanpa meninggalkan spesifikasi bahan pakan atau spesifikasi pakan jadi yang akan dihasilkan. Ketiga adalah efisiensi kegiatan, yaitu harus efektif dalam bekerja, penggunaan energi listrik, pengaturan tenaga kerja, dan lain sebagainya.
 
 
Untuk transformasi bisnis, maka dapat memaksimalkan procurement-nya, yang merupakan proses bisnis pengadaan barang atau jasa. Seorang procurement harus betul-betul menghitung kebutuhannya, kemudian pemasoknya siapa, harganya berapa, bagaimana logistiknya dan lain sebagainya harus diperhitungkan dengan cermat, sehingga bisa memenuhi kebutuhan formulasinya. Selanjutnya, mengoptimalkan Customer Service (CS), untuk sampai kepada pelanggan, maka produk harus diantar, dikirim dan konsumen diberi penjelasan oleh petugas lapangan. 
 
 
Tugas CS harus optimal, guna menyampaikan informasi penting bahkan sampai ke sistem pembayarannya. Tujuan akhir dilakukannya transformasi teknis dan bisnis ini yaitu diharapkan bisnis dapat efektif, efisien dan tetap eksis dalam memenuhi kebutuhan pakan dari para pelanggannya.
 
 
Ubah Kebiasaan Lama
Di era new normal terjadi kompetisi yang sangat berat antara pebisnis satu dengan pebisnis lainnya. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, pelaku bisnis harus mengubahnya. Sebab, tantangan new normal ke depan akan jauh lebih besar.
 
 
Budidaya perunggasan di era normal berkutat pada permasalahan tata laksana pemeliharaan yang hanya sekadar memelihara. Operator kandang hanya dianggap sebagai karyawan yang ditugaskan untuk melaksanakan perintah. Oleh karena itu, lebih baik menggunakan kata tata kelola di samping kata tata laksana. Sehingga, menuntut suatu pemeliharaan yang benar-benar istimewa dan luar biasa.
 
 
Sementara, untuk sebutan operator kandang dapat diganti menjadi manajemen sumber daya manusia. Hal ini bertujuan untuk mengelola operator kandangnya, tidak hanya diperintah untuk mencampur pakan atau memberi ayam minum saja. Sehingga dengan perlakuan ini, diharapkan peternakan menjadi lebih produktif, karena ayam-ayamnya dipelihara dengan baik, dari aspek kesejahteraan hewan (kesrawan) pada ayam terpenuhi, ayam sehat, serta lebih efektif dan efisien.
 
 
Dengan begitu, peternakan akan mendapat keuntungan dan mampu bertahan untuk memproduksi protein hewani bagi masyarakat. Lebih lanjut, untuk manajemen sumber daya manusia di era new normal diharapkan bisa lebih bertanggung jawab dan mampu melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik. Artinya, baik operator kandang maupun pemilik peternakan harus berubah dengan lebih antusias, karena tantangan new normal ke depan akan jauh lebih sulit.
 
 
Tata kelola pemeliharaan unggas di era new normal ini harus menggunakan hati nurani. Orang yang bersangkutan harus mulai memahami kebutuhan utama ayam yang paling dasar, seperti oksigen, air, pakan, sinar matahari, dan suhu. Setelah dipahami, peternak harus peduli bahwa itu harus terpenuhi dengan sabaik-baiknya. 
 
 
Jika ayam membutuhkan oksigen, maka yang pertama kali diputuskan saat mendesain kandangnya adalah harus benar-benar memperhatikan ventilasi, supaya sirkulasi udaranya baik. Memahami saja tidak cukup, tetapi harus juga peduli. Terlebih lagi dianjurkan untuk memenuhi kebutuhannnya.
 
 
Contoh dalam suatu peternakan yang telah menjalankan tantangan di era new normal, seperti pekerja menggunakan masker dan menjaga jarak. Di sini juga sumber daya manusianya sudah diberi pemahaman bahwa ayam membutuhkan air untuk kehidupan maupun produktivitasnya. Seperti kebutuhan air yang bersih, maka tempatnya pun harus bersih, begitu pula dengan salurannya, karena jika kotor, maka air akan terkontaminasi, tercemar dan lain sebagainya, sehingga tidak baik untuk kesehatan ayam.
 
 
Saluran air juga harus sering dibersihkan, sehingga air yang sudah disiapkan dalam keadaan bersih dan bisa diminum guna dimanfaatkan ayam untuk metabolisme tubuhnya. Kemudian pada aspek pelayanan kepada peternak, yang umumnya dilakukan oleh bagian lapangan, terdapat dua gambaran yaitu pelayanan teknikal dan komersial. Pelayanan teknikal adalah pelayanan, saran serta solusi yang diberikan berkaitan dengan aspek-aspek teknis mengenai tata kelola peternakan.
 
 
Terkait pelayanan komersial, diantaranya seperti penjelasan tentang program kesehatan, vaksinasi dan biosekuriti. Sementara itu, untuk pelayanan komersial yaitu bagaimana perusahaan memberlakukan sistem permbayaran terhadap pelanggan yang menggunakan produk-produk atau komponen-komponen perusahaan. Misalnya terkait kredit, tunai dan lain sebagainya yang kemudian diimbangi dengan promosi. 
 
 
Melihat berbagai fakta di atas, perunggasan di Indonesia dengan segala dinamika dan pasang-surutnya, sudah bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia, ditandai dengan produksi daging dan telur yang sudah melebihi dari kebutuhannya. Kemudian di masa new normal, semua komponen dan pelaku usaha perunggasan hendaknya melakukan transformasi dan adaptasi. Supaya tetap bisa eksis dan memberikan kontribusi dalam memenuhi kebutuhan protein hewani, baik daging dan telur yang berkualitas bagi masyarakat Indonesia. TROBOS
 
 
*Dewan Pakar ADHPI (Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia)
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain