Kamis, 1 Oktober 2020

Sulastri: Pelestarian Sumberdaya Genetik Lampung

Sulastri: Pelestarian Sumberdaya Genetik Lampung

Foto: dok. pribadi
Sulastri

Pada 2015, kambing Saburai berhasil lolos dalam penilaian ketat oleh Tim Komisi Perbibitan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia sebagai sumberdaya genetik Provinsi Lampung. Pada 2020, kami kembali mengawal penetapan rumpun sapi Krui melalui penilaian yang ketat pula dari Komisi Perbibitan dan saat ini masih menunggu hasilnya.
 
 
Surat Keputusan Menteri Pertanian tentang penetapan rumpun ternak memang hanya memuat garis besar tentang deskripsi rumpun/galur, asal-ususl, wilayah sebaran asli geografis, wilayah sebaran, dan karakteristik ternak. Karateristik ternak tersebut meliputi performa kualitatif, performa kuantitatif, dan performa reproduksi rumpun ternak yang ditetapkan. 
 
 
Data yang tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian tersebut sangat ringkas. Data yang lengkap dituangkan dalam proposal penetapan rumpun atau galur. Proposal tersebut disusun sesuai dengan panduan penulisan proposal penetapan galur/rumpun ternak. Proposal penetapan harus memuat data yang komprehensif tentang performa yang akan ditampilkan dalam Keputusan Menteri Pertanian.
 
 
Kambing Saburai
Kambing saburai memang layak ditetapkan sebagai sumberdaya genetik ternak Provinsi Lampung. Kambing tersebut dipelihara oleh sebagian besar masyarakat Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Keunggulannya laju pertumbuhan cepat, lebih cepat daripada kambing PE. Lalu, mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan di Tanggamus, mampu memanfaatkan pakan yang kualitasnya rendah, tahan terhadap serangan penyakit, cepat berkembangbiak seperti kambing-kambing lokal dan kambing asli. 
 
 
Penampilan kambing saburai sangat menarik karena postur tubuhnya besar dan konformasi tubuhnya kuat. Kambing jantan memiliki tubuh yang besar dengan ukuran lingkar skrotum yang besar yang menunjukkan potensinya sebagai pejantan yang baik. Postur tubuh kambing betina lebih kecil daripada kambing jantan, sifat keindukan (mothering ability) baik, mampu melahirkan anak kembar sampai empat ekor pada satu paritas. 
 
 
Permasalahannya, populasi kambing saburai tidak menunjukkan peningkatan yang pesat. Hal itu bukan disebabkan oleh rendahnya kelahiran atau tingginya kematian. Penyebabnya, nilai jual kambing tersebut sangat tinggi sehingga peternak mudah tergiur untuk menjualnya apabila ada peminat yang menawar dengan harga tinggi. Pihak instansi terkait atau kelompok peternak kambing saburai tidak memiliki kekuatan modal untuk menyediakan dana talangan agar kambing saburai tidak dijual oleh peternak. 
 
 
Penguatan  ditingkatkan sejak ditetapkannya kambing Saburai sebagai sumberdaya genetik lokal Provinsi Lampung pada 2015. Salah satu diantaranya adalah Bank Indonesia Cabang Lampung yang memberikan hibah dalam bentuk pembiayaan perbaikan kandang. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung melakukan pembinaan dan pendampingan agar peternak tetap menerapkan Good Breeding Practices (GBP) yaitu praktik pembibitan ternak yang benar.
 
 
Penguatan kambing Saburai juga dilakukan dengan menetapkan standar mutu daerah yaitu angka yang menjadi standar performa kambing saburai. Berdasarkan standar tersebut dilakukan uji performa pada kambing-kambing saburai. Kambing yang memenuhi nilai standar diberikan surat keterangan layak bibit (SKLB).
 
 
Belakangan ini perhatian Pemerintah terhadap pembinaan dan pengembangan kambing saburai semakin melemah. Program Pemerintah yang beralih pada Upsus Siwab telah menguburkan sejenak mimpi peternak untuk mendapatkan dukungan moril maupun materil dari Pemerintah. Meskipun demikian, peternak di Kabupaten Tanggamus masih tetap berusaha menjaga dan mempertahankan kambing saburai melalui penyelenggaraan kontes ternak kambing saburai. Kontes tersebut diselenggarakan secara rutin setiap tahun meskipun dengan biaya yang seadanya yang diperoleh dari iuran para peternak dan dari orang-orang yang menaruh simpati pada keberadaan kambing saburai.  
 
 
Sapi Krui
Sapi krui merupakan sapi yang berkembang di wilayah pesisir (tepi pantai) tepatnya di Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Sapi tersebut berkembang tanpa diketahui asal-usulnya, Sapi krui diduga merupakan sapi yang berkembang di wilayah Pesisir, Sumatera Barat. Sapi tersebut dibawa pedagang dari Pelabuhan Telukbayur (Sumatera Barat), singgah di Padang Bay (Bengkulu) dan Teluk Stabas (Kabupaten Pesisir Barat, Lampung). Sapi-sapi tersebut sebagian dibeli masyarakat peternak . Sebagian sapi lagi dibawa ke Pelabuhan Tanjungpriok (Jakarta). 
 
 
Postur tubuhnya kecil sehingga dinamakan jawi peghia (bahasa Pesisir Barat) yang artinya sapi yang kecil seperti sapi-sapi yang berkembang di kawasan pantai pada umumnya. Sampai saat ini sapi-sapi krui masih seperti sapi-sapi krui pada masa lalu, tetap terjaga kemurniannya. Peternak sapi krui tidak tertarik dengan persilangan karena mereka menyadari persilangan hanya akan menyulitkan kelahiran karena besarnya ukuran janin. Ukuran tubuh sapi krui yang kecil tidak cocok bila disilangkan dengan sapi bangsa lain yang postur tubuhnya lebih besar.  
 
 
Berdasarkan nilai budaya, nilai strategis dan manfaatnya, maka sapi Krui diusulkan sebagai sumberdaya genetik milik Provinsi Lampung yang berkembang di Kabupaten Pesisir Barat.  
 
 
Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan sapi krui adalah belum diterapkannya GBP dan semakin rendahnya populasi sapi krui jantan. Penerapan GBP dapat ditempuh melalui pendampingan dan pembinaan. Peningkatan populasi pejantan dapat ditempuh melalui penyelamatan sapi-sapi krui jantan. Penyelamatan sapi krui jantan dapat dilakukan dengan membatasi pemotongan ternak jantan dan mendirikan pusat pembibitan sapi krui. Penguatan terhadap sapi krui harus dilakukan agar peternak merasa diperhatikan dan dihargai sehingga memiliki semangat untuk menjaga kelestarian sapi krui yang akan segera ditetapkan sebagai sumberdaya genetik lokal Provinsi Lampung. 
 
 
*Dosen Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain