Kamis, 1 Oktober 2020

Saat Pekebun Bicara Integrasi Sawit Sapi

Saat Pekebun Bicara Integrasi Sawit  Sapi

Foto: ramdan


Kotoran sapi pada sistem penggembalaan di kebun sawit akan memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kadar bahan organik tanah, meningkatkan ketersediaan nutrien, dan meningkatkan kapasitas tanah untuk menahan air
 
 
Ungkapan yang mengejutkan terdengar dari pelaku perkebunan sawit saat membicarakan integrasi sawit-sapi. Terlebih selama ini justru stakeholder peternakan lah yang banyak bicara soal ini.“Kami merasa terhibur dan bahagia, saat melihat pedet lahir, berlarian diasuh oleh induknya. Dan sangat sedih, jika ada sapi yang mati. Mengamati kawanan sapi dan pedet itu menjadi hiburan kami saat jenuh melihat brondolan sawit,” ungkap Muhammad Zainuddin, General Manager PT Buana Karya Bhakti, operator perkebunan sawit di Kalimantan Selatan.
 
 
Kebahagiaan ini dikatakannya merupakan sisi lain dari keuntungan ekonomis maupun teknis industri budidaya kelapa sawit yang dijalankannya. “Kelapa sawit, adalah tuan rumah bagi budidaya sapi. Sapi adalah tamu di kebun sawit. Tuan rumah harus menjamu sapi dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya, sapi sebagai tamu kita atur sedemikian agar tidak mengganggu tanaman dan kebun sawit tuan rumah. Bahkan kami telah berhasil memadukannya sehingga menjadi simbiosis mutualisme,” dia menuturkan pada seminar online Sistem Integrasi Sawit - Sapi Ditinjau dari Persepsi Perkebunan yang digelar pada (28/7) melalui aplikasi zoom.
 
 
Tjeppy D Soedjana, peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Peternakan - Balitbangtan sebagai pembahas pada acara itu menanggapi rasa kebahagiaan pekebun sawit atas kelahiran pedet dan mengamati pedet merupakan kultur baru di kebun sawit. Kultur ini, dia pandang merupakan aspek sosial yang penting, untuk membantu eksistensi integrasi sawit - sapi. Bahkan diharapkan membuat pola integrasi ini semakin berkembang karena semakin diterima di kalangan pekebun sawit.
 
 
Perkembangan Integrasi Sawit-Sapi
Zain menyatakan, sejak 2013 merintis integrasi sawit sapi yang dinamai Siska Ranch, namun mengalami banyak kendala hingga sempat rugi miliaran rupiah. Pada 2016, berbekal 300 ekor sapi brahman cross, dijalinlah kerjasama dengan Indonesia-Australia Commercial Cattle Breeding Program (IACCB) dan PT Santosa Agrindo (Santori) untuk melakukan pilot project integrasi. Program ini memberikan konsultasi manajemen budidaya sapi terintegrasi dan sekaligus melakukan riset lapangan untuk menyusun perbaikan dan mengatasi permasalahan secara tepat, terukur dan terarah. 
 
 
Sampai bulan Juli ini, populasi sapi terus bertambah, menjadi 850 ekor, yang terbagi menjadi beberapa kawanan masing-masing berisi maksimal 250 ekor sapi. Rotate grazing dilakukan di lahan seluas 5.208 ha, dan cattle yard berada di lahan 73 ha. 
 
 
Integrasi sawit - sapi merupakan harapan bagi keberlangsungan produksi sapi nasional melalui cow calf operation, dengan output berupa pedet maupun sapi bakalan dan indukan. “Kami memiliki pandangan, integrasi harus menempatkan sapi dalam lingkungan kebun sawit, digembalakan di dalamnya dan memberi manfaat untuk kebun sawit. Sapi tidak ditempatkan di luar kebun sawit,” dia menegaskan. Manfaat dari integrasi ini dia gambarkan sebagai efektifitas, yang merupakan paduan dari efisiensi biaya produksi dan produktivitas ekonomi dari kebun sawit dan sapi.
 
 
Zain menyodorkan data produktivitas tandan buah segar (TBS) di lokasi integrasi sawit sapi (grazing) lebih tinggi 4 % (rata-rata) jika dibandingkan dengan areal non grazing. Secara umum produksi TBS lebih tinggi setelah ada sapi tahun 2017 - 2019 dibandingkan sebelum ada sapi pada 2016.
 
 
Dosis pemupukan setelah 3 ( tiga ) tahun di lokasi grazing lebih rendah 0,4 % dibandingkan lokasi non grazing. Penghematan biaya pupuk pada lokasi grazing sekitar Rp 22.000/ ha/ tahun dengan asumsi harga pupuk Rp 5.500/kg. 
 
 
Terdapat penghematan pula, kata Zain, pada biaya penanganan gulma / weeding untuk tenaga penyemprotan dan pengadaan bahan herbisida. Biaya weeding pada areal integrasi sawit sapi (grazing) lebih hemat 47 % (rata-rata) dibandingkan dengan lokasi non grazing. Kegiatan weeding yang masih dilakukan adalah selective weeding untuk piringan, TPH dan tanaman tanaman yang tidak dimakan oleh sapi.
 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 253/Oktober 2020

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain