Kamis, 1 Oktober 2020

BUMN Geluti Bisnis Sapi Perah

BUMN Geluti Bisnis Sapi Perah

Foto: syafnijal datuk
dari kiri ke kanan: Dwi, Yana dan Yulia di kandang sapi perah

PT KNT terkendala pemasaran susu dan berharap dukungan promosi oleh pemerintah daerah dalam meningkatkan konsumsi susu segar
 
 
Meski pemasaran susu sapi segar di Provinsi Lampung masih seret, tidak menyurutkan niat berbagai kalangan untuk mengembangkan peternakan sapi perah di daerah berjuluk “Sai Bumi Rua Jurai” (satu bumi dua suku) ini.
 
 
Adalah PT Karya Nusa Tujuh (KNT)—anak perusahaan PT Perkebunan Nusantara 7 (PTPN 7) memelihara sapi perah di Kampung (Desa-red) Sinar Banten, Kecamatan Bekri, Kabupaten Lampung Tengah pada lahan seluas 93.51 km² dan ketinggian wilayah ± 60 mdpl, dengan koordinat 5°5’48” LS dan 105°8’15” BT. Indukan sapi yang sedang berproduksi sebanyak 10 ekor dari populasi 17 ekor sapi (sisanya masih bunting dan pedet).
 
 
Menurut Indah Irwanti, Direktur PT KNT, perusahaannya memelihara sapi perah sejak 2015. Rata-rata produksi susu segar sekitar 60 liter per hari. Sekitar 40 liter di antaranya difermentasi dengan asam laktat untuk selanjutnya diolah menjadi yogurt aneka rasa. 
 
 
“Kami sedang berusaha mendongkrak pemasaran susu dan yogurt. Ketika pemasaran sudah meningkat baru ditambah populasi indukan sapi perahnya. Untuk itu kami berharap semua pemangku kepentingan di Lampung mempromosikan susu segar produksi daerah sendiri,” ujarnya kepada TROBOS Livestock di kantornya Jalan Pramuka, Bandarlampung, baru-baru ini. 
 
 
Kalau sekarang, lanjutnya, setiap kegiatan dan even di lingkungan Pemprov Lampung sudah minum kopi robusta lampung. “Kami berharap ke depannya tetap minum kopi tapi ditambah susu, demikian juga minum tehnya ditambah susu segar sehingga menjadi kopi susu lampung dan teh susu lampung.”
 
 
Sambungnya, harusnya di era pandemi virus ini masyarakat memperbanyak minum susu segar guna meningkatkan imunitas tubuh. “Harga susu pun jauh lebih murah dibanding vitamin dan suplemen makanan lainnya. Kita berharap kesadaran masyarakat minum susu meningkat. Apalagi susu yang kami pasarkan benar-benar segar dan tidak ada tambahan zat pengawet apapun,” jelas Indah di dampingi Dwi Satria Atmaja, Asisten Manajer Operasional PT KNT dan staf pengawas peternakan PT KNT Yulia Apriana.
 
 
Dwi menambahkan, penambahan populasi sapi perah tergantung daya serap susu di pasar. “Untuk sementara kita mempertahankan populasi yang sekarang dipelihara dulu,” katanya. Ia mengakui, tingkat konsumsi susu masyarakat Lampung masih rendah dibandingkan dengan di Jawa. Penyebabnya, Dwi menduga karena lemahnya promosi dan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan di daerah ini, terutama dari instansi terkait.
 
 
Untuk itu Dwi menilai, perlu regulasi dari pemerintah untuk meningkatkan konsumsi susu segar mayarakat, terutama anak TK dan SD. Pasalnya, tingkat konsumsi susu anak-anak akan berkorelasi positif dengan indeks pembangunan manusia (human index). Di mana indeks pembangunan manusia Provinsi Lampung masih rendah.
 
 
Pengolahan Susu   
Yana, karyawan pengelola sapi perah PT KNT mengatakan proses pemerahan susu dilakukan dua kali sehari, pagi mulai jam 05.30 dan sore mulai pukul 15.30 WIB. Selain itu, ia bertugas memandikan sapi, membersihkan kandang, memerah susu dan memberi pakan dan minum sapi. Untuk menjaga higienitas susu, sebelum dilakukan pemerahan, sapi dimandikan satu persatu terlebih dahulu dan kandangnya dibersihkan dengan air. 
 
 
Lalu ambing sapi yang akan diperah dicuci dengan air bersih dan dilumuri margarin agar tidak lecet ketika diperah. Setelah diperah, ambing sapi kembali dicuci guna membersihkan sisa-sisa susu dan margarin. Selanjutnya sapi diberi pakan ampas tahu, konsentrat dan hijauan.
 
 
“Pemerahan susu dilakukan secara manual mengingat jumlah indukannya masih sedikit sehingga tidak butuh waktu lama, meski sebetulnya di sini sudah tersedia mesin pemerah susu sapi. Apalagi setelah dilakukan ujicoba pemerahan dengan mesin, kelihatannya indukan sapi tidak nyaman karena tidak dielus-elus seperti jika menggunakan tangan,” ungkap Yana yang sudah bekerja di kandang PT KNT sejak awal usaha sapi perah.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 253/Oktober 2020
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain