Kamis, 1 Oktober 2020

Insinyur Peternakan Hadapi Pergeseran Rantai Pasok

Insinyur Peternakan Hadapi Pergeseran Rantai Pasok

Foto: 
Heru Dewanto

Tantangannya merekayasa produksi peternakan untuk memenuhi kebutuhan pangan protein hewani secara efisien, dengan biaya dan harga terjangkau
 
 
Pandemi Covid-19 mempercepat perubahan struktur industri dan pergeseran supply chain (rantai pasok). Bisa dikatakan, keinsinyuran di dunia industri mengalami hard kick (pukulan keras).
 
 
Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Ir Heru Dewanto IPU Asean. Eng pada Webinar Menyongsong Masa Depan Insinyur Peternakan yang digelar Program Studi Profesi Insinyur Peternakan Fakultas Peternakan UGM pada (17/6) menjelaskan hard kick yang dialami oleh profesi insinyur, termasuk insinyur peternakan dipetakan pada pergeseran 5 tren global.
 
 
Pertama, percepatan digitalisasi di semua segmen industri, termasuk industri biologis dan pangan. Kedua, kehidupan pribadi dan hubungan sosial berubah total. Menjaga jarak dan bekerja dari rumah menjadikan pertemuan langsung secara masif berubah menjadi pertemuan daring dan tidak ada tatap muka dalam hubungan sosial personal dan profesional bahkan dalam transaksi pangan.
 
 
Ketiga, rantai pasok global GSC (Global Supply Chain) terdisrupsi menjadi rantai pasok lokal & regional. “Paradigma GSC, fokus pada efisiensi biaya, yang dicapai melalui sistem discount volume. Sekarang bergeser ke rantai pasok regional & lokal sehingga fokusnya berubah dari efisiensi biaya menjadi resiliensi, atau ketahanan terhadap guncangan termasuk pandemi ini. Bagian dari resiliensi itu pada perkembangan selanjutnya dapat diandalkan yang berujung pada efisiensi biaya juga,” ungkap dia.
 
 
Keempat, cara kerja yang tiba-tiba berubah karena tuntutan lebih pada standar keamanan pekerja industri dan konsumen sesuai protokol pandemi. Kelima, perubahan cara kerja dan standar kerja sesuai protokol pandemi menyajikan pertunjukan disrupsi pada operasi industri yang baru saja menginjak sistem industri 4.0, tiba-tiba bertambah bebannya untuk segera mengadopsi sistem industri minim campur tangan manusia, proses otonom dan analisis perilaku suplai, pelaku industri, pasar dan konsumen melalui big data pada seluruh mata rantai industri. 
 
 
Pergeseran Rantai Pasok
“Kami bersama Kementerian Pertahanan membentuk a-z supply chain nasional, dan membangun food estate, agar negara memiliki food security dan food sovereignity. Kita lihat, China melakukan penimbunan daging sapi dan beras, untuk antisipasi terganggunya global supply chain. Hal ini merupakan indikasi menguatnya proteksionisme dan nasionalisme. Kita harus punya local supply chain yang lebih resilien,” Heru menguraikan.
 
 
Diungkapkan Heru, PII mencermati rekomendasi CIPS - lembaga analisis Indonesia - Australia yang mengkaji penurunan suplai ke Indonesia. “Keluar rekomendasi, diatasi dengan pencabutan sistem tarif, kuota dan lain-lain, sehingga aliran barang masuk ke Indonesia lebih lancar. Namun hal ini tidak mudah pada pandemi ini, karena negara lain memproteksi arus keluar barang, untuk melindungi kecukuan dalam negeri mereka,” dia mengungkapkan. 
 
 
Maka, Heru menegaskan penyelesaian yang sesuai dengan logika dan peran insinyur adalah membangun local and national supply chain, membangun suplai pangan secara mandiri. Melalui penguatan sistem produksi dan food security net. “Mengkonsolidasikan suplai secara lokal dan nasional, meliputi rantai market - production - supply input dengan menyeimbangkan input suplai secara koordinatif. Pada industri ternak, bahan pakan ternak dan suplemen sedapat mungkin digali dari sumber lokal. Ini juga direkomendasikan oleh FAO, yang pelaksanaannya merupakan fokus dari tugas insinyur peternakan,” paparnya.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 253/Oktober 2020

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain