Kamis, 1 Oktober 2020

Optimal Cegah IB Variant dengan Biosecurity & Vaksin yang Tepat

Optimal Cegah IB Variant dengan Biosecurity & Vaksin yang Tepat

Foto: 
drh. Muhammad Huzaifah Ali Mutahari, generasi kedua peternak unggas di Maros

Belajar dari pengalaman, pemilihan vaksin yang tepat dan sesuai dengan isolat lapang mampu menangani dan mencegah penyakit kembali berulang
 
 
Berdiri sejak 1992, Inti Tani Satwa (ITS) pada mulanya merupakan usaha peternakan dan kemitraan broiler (ayam pedaging), poultry shop dan juga pupuk tanaman yang berlokasi di Maros, Sulawesi Selatan. Dikisahkan drh. Muhammad Huzaifah Ali Mutahari, perkembangan yang dialami ITS dalam usaha peternakan unggasnya cukup pesat. Anak muda yang merupakan Generasi ke-2 (G2) penerus bisnis peternakan ayahnya ini menyebut, populasi ternak ITS dimulai dari ratusan ekor, hingga kini telah menjadi berkali lipat jumlahnya, yang merupakan total populasi dengan seluruh kemitraan ITS yang tersebar di wilayah Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Memasuki 2004, ITS melebarkan bisnis dengan membangun layer farm (peternakan ayam petelur) hingga kini populasi pullet dan produksinya mencapai puluhan ribu. 
 
 
Mulai berkecimpung sebagai G2 di bisnis peternakan sejak 2015, pria yang akrab disapa Sepa ini mengakui ada beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam menjalani bisnisnya. Mulai dari manajemen non teknis seperti SDM (Sumber Daya Manusia) serta tantangan penyakit di farm yang terkadang berulang. “Bukan hal mudah melanjutkan bisnis sebagai G2, namun saya menjadikan ini sebagai kesem¬patan berbakti kepada orang tua dan ingin ikut berperan serta dalam menyediakan gizi bagi masyarakat. Saya ingin pemenuhan kebutuhan protein hewani bagi masyarakat lebih mudah dan murah. Oleh karena itu, saya perhatikan betul manajemen pemeliharaan di farm agar menghasilkan produk yang berkualitas,” ujar alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada ini. 
 
 
Gunakan Produk yang Sesuai 
Terkait tantangan penyakit di farm layer-nya, Sepa menjelaskan, selain penyakit snot/coryza, farm-nya pernah mengalami serangan penyakit IB Variant. Hal ini ditandai dengan gejala klinis jalan pinguin (penguin-like syndrome), produksi telur menurun 10% dan tingkat kematian mencapai 3%. “Benar-benar sangat merugikan dari sisi ekonomi,” kenangnya. Untuk penanganannya, Sepa mengganti jenis vaksin yang digunakan, terutama saat revaksinasi. Sejak saat itu, pe¬ternakannya mulai menggunakan Medivac ND G7-IB Variant Emulsion produksi Medion. Menurut Sepa, vaksin ini yang paling tepat atau sesuai kebutuhannya karena jenis IB yang menyerang farm-nya adalah IB Variant. “Terutama karena vaksin ini mengandung strain ter-update sesuai isolat lapang, sehingga lebih aman dan optimal melindungi,” klaimnya. 
 
 
Vaksinasi menggunakan Medivac ND G7-IB Variant Emulsion yang dilakukan Sepa dalam 1 periode dimulai sejak ayam umur 21 minggu, kemudian revaksinasi se¬tiap 3 bulan sekali saat produksi dan diselingi dengan revaksinasi ND-IB Live setiap 1,5 bulan. “Hasilnya sekarang produksi lebih stabil, dan penyakit tidak mudah muncul termasuk ND,” jelasnya. Tentunya selain program vaksinasi, Sepa juga ketat menerapkan biosecurity di farm-nya. Ia menerapkan biosecurity 3 zona serta rutin melakukan cek titer setiap 3 bulan sekali untuk memastikan protektivitas vaksin yang digunakan. “Walau lokasi peternakan kami berjauhan dengan peternakan lain, tapi wilayah disini adalah wilayah rawan ND dan IB. Namun, alhamdulillah karena kami rutin melakukan vaksinasi, jadi penyakit tidak mudah masuk,” klaimnya. 
 
 
Sebagai pengguna lama produk-produk Medion sejak generasi ayah-nya, Sepa ber¬harap Medion terus mempertahankan kualitas dan efektifitas produknya dan terus update terkait perkembangan penyakit di lapangan sebagai informasi bagi peternak. Dirinya juga menyampaikan apresiasinya bagi pelayanan Medion yang sangat responsif kepada peternak. TROBOS/Adv
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain