Kamis, 15 Oktober 2020

Gizi Ayam dan Telur, Tingkatkan Imunitas dan Atasi Stunting

Gizi Ayam dan Telur, Tingkatkan Imunitas dan Atasi Stunting

Foto: ist/dok.ZOOM-HATN


Jakarta (TROBOS LIVESTOCK.COM). Di tengah tantangan untuk mengatasi stunting (lambat tumbuh) dan pandemi Covid-19, kampanye Hari Ayam dan Telur Nasional dan World Egg Day mendapatkan momentumnya.

 

Gunawan Budi Utomo dari FAO Ectad Indonesia menyatakan,  asupan gizi diperlukan agar tidak mudah terserang penyakit, karena makanan bergizi akan membantu meningkatkan imunitas tubuh.

 

“Dengan mengonsumsi protein hewani seperti ayam dan telur akan menimbulkan imun yang kebal,” ungkapnya. Ia juga berpesan agar dalam pengolahannya menerapkan higien yang ketat. Mengingat sumber protein hewani memiliki protein tinggi akibatnya mudah terkontaminasi dengan kuman/bakteri.

 

Kampanye ayam dan telur dalam rangka Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) ke 10 serta World Egg Day kali ini dilaksanakan dalam bentuk Webinar Nasional  “Gizi Ayam & Telur Tingkatkan Imunitas" Kamis (15/10). Acara yang banyak dihadiri diikutioleh ibu-ibu penggerak PKK ini diisi dengan demo masak menu ayam dan telur oleh Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) Indonesia.

 

Rakhmat Nuriyanto, mewakili Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) menyatakan pemerintah memberikan perhatian sangat intensif pada stunting syndrome sejak tahun 2011. Stunting syndrome merupakan suatu gejala gagal pertumbuhan dalam hal ini pertumbuhan tubuh dan otak pada anak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Cirinya tubuh pendek, dan lambat berfikir.  Stunting banyak disebabkan oleh kekurangan gizi, termasuk protein hewani yang banyak terdapat pada danging dan telur.

 

Menurut dia, stunting berkaitan erat dengan asupan protein saat masih di dalam kandungan atau dikenal dengan 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) yang merupakan periode kritis stunting. Idealnya bayi diatas 6 bulan, 15 % asupan kalorinya berasal dari protein.

 

“Sehingga protein hewani menjadi asupan penting. Salah satunya dengan mengonsumsi ayam dan telur yang berkualitas yang juga tidak mahal (terjangkau). Karena stunting bukan saja karena miskin pangan, tetapi miskin info,” tuturnya.

 

Rakhmat Menyoroti merebaknya hoaks berupa disinformasi penggunaan hormon yang merangsang pertumbuhan pada ayam sangat tidak dibenarkan. Memang betul beberapa negara menggunakan hormon contohnya Tren bolone acetate di Australia, Bovine Somatothrop dan ethyl stilbestrol di Amerika Serikat. “Namun itupun penggunaannya dilakukan pada ruminansia seperti sapi,” katanya.

 

Hasil penelitian/literatur juga tidak merekomendasikan penggunaan hormon pada ayam. Apalagi Pemerintah Indonesia pun telah melarang penggunaan hormon pertumbuhan pada ternak. “Kalaupun tidak dilarang, harga hormon sangat mahal untuk ayam dan imbasnya peternak merugi,” tandas dia. 

 

Selain isu hormon, dia pun menepis isu bahwa mengkonsumsi daging ayam dapat menyebabkan kanker. “Lagi-lagi hal itu tidak tepat karena pada dasarnya ayam tidak menyebabkan kanker, yang memungkinkan pencetus kanker adalah material yang mencemari. Apalagi sudah ada ijin edar yang dipastikan tidak akan menimbulkan kanker. Selain itu merebahnya isu residu antibiotik, alergi, dan kolesterol itu tidak tepat,” ungkapnya.

 

Menjawab kabar telur menyebabkan alergi, Rakhmat menjelaskan alergi pada telur memang dilaporkan terjadi, tetapi kasusnya sangat sedikit. Bahkan belum ada laporan resmi  yang mengindikasikan konsumen alergi daging ayam. Dia pun mengakui memang pada daging dan telur terdapat kandungan lemak, namun pada konsumsi yang wajar tidak akan menyebabkan kenaikan kadar kolesterol. Bahkan dia menerangkan kolesterol pada darah manusia justru paling besar dihasilkan dalam tubuh, terkait mekanisme metabolisme karbohidrat, insulin dan lemak. 

 

Peran Pemerintah DKI

Suharini Eliawati Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta mengatakan di dalam perayaan HATN ini, Provinsi DKI Jakarta telah melakukan kebijakan dengan penerapan Aman, Sehat, Utuh, Halal (ASUH) pada penyediaan ayam.

 

Dibuktikan dengan beberapa kebijakan diantaranya relokasi pelaku usaha penampungan dan pemotongan ayam ke Rumah Pemotongan Hewan Unggas (RPHU) milik Pemerintah. Serta penyediaan Juru Sembelih Halal (Juleha) yang terampil dan tersertifikasi bekerjasama dengan halal science center IPB University dan Lembaga Sertifikasi Profesi Kesehatan Hewan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (LSP-Keswan PDHI).

 

Tak hanya itu juga dilakukan pemeriksaan ante dan post mortem, penerapan higene sanitasi dalam sistem rantai dingin, serta pengawasan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) dan sertifikasi nomor kontrol veteriner (NKV) pada unit usaha pemotongan dan penjualan. “Sertifikasi NKV diberikan kepada unit usaha yang telah memenuhi persyaratan higiene sanitasi, biosekuriti dan kesejahteraan hewan,” urainya.

 

Ketua Panitia Pusat HATN 2020, Ricky Bangsaratoe menyatakan  acara serupa akan digelar kembali pada 27-28 Oktober 2020  di Samarinda - Kalimantan Timur.

 

Menyampaikan sejarah HATN, Rakhmat menuturkan qwal mula adanya Hari Ayam dan Telur sejatinya diprakarsai dengan festival ayam telur di tahun 2011. “Ketika itu terdapat 15 organisasi termasuk 14 asosiasi/orang profesi, dan satu lagi dari pemerintah yang dihadiri kurang lebih 15.000 partisipan,” ujar Rakhmat.

 

Setelah pemaparan materi selesai dilakukan demo cara memasak daging ayam dan telur oleh Chef Eddrian Tjhia secara sederhana dan simple.

 

Kampanye virtual ini dihadiri pula oleh Singgih Januratmoko Ketua Umum PINSAR dan Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) DKI Jakarta Fery Farhati. rw/zul

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain