Kamis, 22 Oktober 2020

Komparasi Peternakan Sapi Di Australia dan Indonesia

Komparasi Peternakan Sapi Di Australia dan Indonesia

Foto: 


Surakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Meskipun sebagian besar wilayah tandus serta jenis rumputnya terbatas. Justru menjadikan Northern Territory (NT) atau Wilayah Australia Utara memiliki industri peternakan sapi yang sangat berkembang pesat.

 

Gulfan Afero, Konsul Jenderal (Konjen) Republik Indonesia-Darwin Australia yang selama 4 bulan telah tinggal di NT menjelaskan ada 4 hal yang menjadikan NT dapat mengembangkan industri peternakan sapi dan bahkan bisa memasok ke berbagai negara termasuk Indonesia, Vietnam, Brunei Darussalam, Malaysia, serta China. Kawasan ini mampu menghasilkan 600 ribu ekor sapi setiap tahunnya.

 

Alasan pertama yaitu diterapkannya proteksi lingkungan dan biosekuriti yang terstruktur serta konsisten. Australia yang memiliki dua level sistem hukum yaitu sistem federal yang berlaku pada seluruh negara bagian serta otoritas yang diberikan kepada wilayah bagian seperti NT dalam mengatur hukum sendiri dan pengambilan kebijakan.

 

“Termasuk biosekuriti, pembukaan lahan, serta melakukan konservasi jenis rumput yang terbatas itu,” terangnya dalam Webmaster ke-4 Kuliah Pakar, Program Magister Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta bekerjasama dengan Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (PB ISPI) pada Rabu (21/10) secara online melalui aplikasi zoom dan YouTube. Sebelumnya juga telah dilakukan nota kesepahaman antara PB ISPI dengan UNS yang diwakili oleh Wakil Rektor Bidang IV UNS, Sajidan terkait pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.  

 

Lanjut Gulfan, kedua yaitu terkait dengan penegakan hukum. Artinya penegakan yang tidak pandang bulu terhadap siapapun bahkan denda yang diberikan kepada pelanggar hukumannya sangat luar biasa. Sehingga banyak pengusaha yang takut dan dampaknya kelestarian alam dapat terjaga dengan baik.

 

Ketiga, NT memiliki wilayah yang sangat luas. Yaitu dengan luasan berkisar 1,3 juta km2 dengan jumlah penduduk sedikit yang hanya 250 ribu. Wilayah yang luas ini, digunakan untuk industri peternakan sapi bahkan tidak heran jika NT mampu memiliki peternakan sapi dengan luas sekitar 1,6 juta hektar. “Dari kantornya sampai menuju ke tempat pengembalaan sapi bisa memakan waktu 45 menit bahkan sampai ada yang 3 jam,” ujarnya sambil membagi pengalaman di NT.

 

Di wilayah NT, industri peternakan sapi dalam pemeliharaannya tidak menggunakan teknologi khusus, sapi dipelihara di alam bebas/liar. Namun ada perlakuan berbeda dimana sapi dikategorikan berdasarkan umurnya.

 

“Ketika sapi-sapi yang sudah siap untuk diekspor akan digiring ke kandang tertentu. Karena lahannya sangat luas digunakanlah helikopter dalam menggiring sapi kedalam satu titik. Di titik itulah sapi kemudian dinaikkan kedalam truk. Selanjutnya dikirim ke pelabuhan untuk di karantina sebelum diekspor. Jadi dilakukan secara profesional, efisien dan efektif,” paparnya.

 

Keempat, peranan asosiasi dan pemerintah sangat penting. Di NT terdapat asosiasi yang bernama Northern Territory Cattlemens Association (NTCA) yang memiliki peran sangat dominan dalam melindungi petani/peternak termasuk dalam cara menjual sapi serta mengatur harga sapi. Yang semuanya dibahas di dalam NTCA.

 

Di samping itu tak kalah penting peran pemerintah yang sangat pro terhadap apa yang dibutuhkan para peternak sapi. Contohnya memberikan bantuan pinjaman modal kepada peternak. "Juga peran lembaga riset yang berkolaborasi dalam mencari solusi terbaik bersama peternak dan asosiasi," pungkasnya.

 

Kondisi di Tanah Air

Dalam kesempatan yang sama Didiek Purwanto, Ketua Umum PB ISPI menjelaskan komoditas sapi potong dalam 3 tahun terakhir antara kebutuhan daging sapi dengan produksi sapi di dalam negeri hasilnya selalu minus. Terbukti, di tahun 2020 kebutuhan daging sapi secara nasional 717.150 ton. Sedangkan produksi daging sapi di dalam negeri hanya mampu memenuhi 58 %. Artinya terjadi defisit 294.617 ton daging sapi setara dengan 1,31 juta ekor sapi.

 

Kekurangan kebutuhan daging sapi dicukupi dengan cara mengimpor  sapi bakalan dari Australia  maupun daging kerbau beku dari India. Di tahun 2020 diperkirakan impor daging beku dari India sebanyak 170 ribu ton. Akan tetapi dalam realisasinya terjadi penurunan akibat India mengalami lockdown yang menyebabkan transportasi terhambat. Selain impor daging beku, juga dilakukan impor sapi bakalan sebanyak 349.232 ekor.

 

Adanya program pemerintah seperti upaya khusus sapi indukan wajib bunting (UPSUS SIWAB) dan gertak birahi membuat angka populasi sapi potong di Indonesia mengalami kelonjakan pada tahun 2018-2019 yaitu dari 16 juta ke 17 juta ekor.

 

Namun yang disesalkan dari 17 juta ekor itu terdapat struktur kondisi sapi yang berbeda-beda. Mulai dari sapi yang siap dipotong, sapi anakan atau sapi indukan. Efeknya ketika akan dipotong misalkan 1,5 juta tidak mungkin semuanya akan bisa masuk ke rumah potong hewan. Karena kebanyakan peternak rakyat mengeluarkan/menyembelih sapinya dalam kondisi membutuhkan serta tempatnya yang berjauhan.

 

“Padahal konsumsi daging per kapita per tahun hanya 2,52 kg. Jika konsumsi itu naik 0,5 kg saja dengan penduduk Indonesia yang hampir mencapai 280 juta orang niscanya kemampuan produksi sapi dalam negeri tidak akan mampu mengejar sehingga dibutuhkan akselerasi percepatan,” tandasnya. ed/zul

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain