Rabu, 28 Oktober 2020

Membidik Arah Penelitian Ayam Lokal

Membidik Arah Penelitian Ayam Lokal

Foto: ist/dpk.ZOOM-Unand


Padang (TROBOSLIVESTOCK.COM). International Livestock Research Institute (ILRI) mengakui Indonesia merupakan salah satu pusat domestikasi ayam dunia. Namun faktanya sebagaian besar plasma nutfah ayam lokal hampir punah bahkan ada yang sudah punah.

 

Melihat kondisi itu, Naryanto, Direktur Utama PT Sumber Unggas Indonesia (SUI) mengatakan diperlukan upaya dalam melestarikan plasma nutfah ayam lokal asli Indonesia. Diantaranya ayam Sumatera, Kokok Balenggek, Cemani, Pelung, Sentul, Ciparage, Gaok, Kedu, Jantur dan Bali. Sedangkan ayam lokal pendatang ada ayam Merawang dan Arab.

 

Paparan itu dia sampaikan pada Webinar Nasional “Strategi Pengembangan Industri Perunggasan Nasional Berbasis Inovasi Dan Sumber Daya Lokal”. Dalam rangka Dies Natalis Fakultas Peternakan Universitas Andalas (Fapet Unand) Padang yang ke-57, Selasa (27/10). Acara diikuti dari berbagai kalangan mulai dari birokrat, akademisi, praktisi serta para mahasiswa turut hadir melalui aplikazi Zoom dan YouTube.

Upaya Pelestarian

Menurut Naryanto upaya yang dilakukan dengan perbaikan kualitas bibit serta kerjasama memuliakan ayam lokal dengan Badan Litbang Kementerian Pertanian. Perbaikan kualitas bibit dapat dilakukan dengan meningkatkan produktivitas ayam lokal. Kendati demikian, harus diperhatikan dengan tetap menjaga karakteristik asli ayam lokal seperti warna bulu, bentuk tubuh, bentuk jengger, warna cakar dan karakteristik lainnya seperti cita rasa dan tekstur daging.

 

Juga bentuk telur dan warna kerabang harus diperhatikan. Untuk mencapai produktivitas yang diinginkan dilakukan persilangan dan seleksi yang terarah dengan mengikuti preferensi peternak/konsumen. “Kami melakukan persilangan dengan metode two-way crossing atau three-way crossing. Jadi seperti Ayam Sentul Terseleksi Pertama (Sensi-1 Agrinak) yang dikawinkan dengan Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB-1) atau dengan beberapa ayam lokal yang lainnya,” ungkapnya.

 

Perlu diketahui ayam KUB-1 ini merupakan salah satu galur murni betina penghasil ayam umur sehari (DOC) yang paling unggul serta memiliki tingkat produksi telur mencapai puncak produksi 65 % dengan rata-rata 40 % selama periode. Karena masih ada sifat mengeram kurang lebih 10 % menyebabkan konsisten produksinya masih bisa ditingkatkan.

 

Ada juga ayam Sensi-1 Agrinak yang merupakan galur pejantan unggulan karena dari segi jengger banyak diminati oleh para konsumen di hilir. Serta lebih tinggi posturnya dan lebih cepat pertumbuhannya dibandingkan dengan ayam lokal yang lain.

 

Sedangkan dalam hal kerjasama dengan Litbang Kementan, SUI mendapatkan pemegang lisensi ayam KUB dan Sensi sejak tahun 2014. Adanya lisensi itu SUI melakukan pengembangan baik itu KUB ataupun Sensi untuk diperbanyak dan disebarkan ke seluruh tanah air.

 

“Saat ini kami kembangkan di beberapa hatchery milik SUI yang berada di Makassar, Bali, serta di Bogor sebagai pusat hatchery SUI. Dalam waktu dekat ini akan bekerjasama dengan IPB University melakukan penelitian, magang, sharing knowledge, praktik lapangan serta kuliah umum. Bahkan kami melakukan penelitian dengan salah satu profesor di IPB University terkait karakteristik serta manfaat daging ayam Cemani yang merupakan ayam paling berharga serta paling tinggi harganya. SUI juga akan mengenalkan galur murni ayam lokal lainnya dalam waktu dekat ini. Berbagai upaya itu dilakukan sebagai upaya meningkatkan mutu ayam lokal,” dia menguraikan.

 

Dia ungkapkan usaha peternakan ayam lokal ini kedepannya akan semakin dinamis dan kompetitif. Apalagi kekalahan Indonesia di Organisasi Dagang Dunia (WTO) yang membuat karkas ayam dari Brazil akan mendarat di Indonesia sehingga yang akan bertahan mungkin adalah ayam lokal. ed/zul

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain