Minggu, 1 Nopember 2020

Awas Cacingan !

Awas Cacingan !

Foto: dok. trobos


Dituntut waspada demi menangkal kasus ini karena lumrah menimpa layer dengan efek samping menurunkan produksi telur, memicu penyakit lain hingga menyebabkan kematian
 
 
Pandemi virus corona (Covid-19) memaksa masyarakat untuk konsisten mengonsumsi makanan bergizi guna menangkal paparan virus yang sedang merebak ini. Produk pangan asal ternak seperti telur, semakin digandrungi untuk tameng antibodi tubuh. Telur menjadi asupan protein hewani yang memiliki nutrisi bermanfaat seperti vitamin A, vitamin D, vitamin K dan vitamin D3.
 
 
Jika ditarik ke belakang, produksi telur tak lepas dari peran peternak ayam petelur (layer) yang senantiasa bekerja keras demi menjaga ayamnya agar terus menghasilkan produksi maksimal dan hasil mumpuni. Peternak harus cakap menguasai medan tempur saat masa pemeliharaan berlangsung.  
 
 
Hal yang paling krusial pada periode pemeliharaan layer adalah pencegahan dan penanganan penyakit. Dari banyaknya penyakit yang menyerang layer, cacingan menjadi kasus yang  selalu ada di peternakan. Penyakit cacingan merupakan kasus yang terjadi akibat infestasi cacing pada ayam. Menurut Dodi Mulyadi, peternak asal Payakumbuh, Sumatera Barat layer yang ia pelihara tak luput dari serangan cacing. “Cacingan memang kasus yang dialami oleh hampir semua peternak layer. Karena, ini adalah hal alami dan kasus normal. Sebagai peternak, kami harus mampu melakukan antisipasi dan penanggulangan. Kasus cacingan yang menimpa farm kami terjadi pada 2019 lalu. Sudah cukup lama memang,” ujar pemilik Mandiri Farm dengan populasi 10.000 ekor ini. 
 
 
Kepada TROBOS Livestock, Dodi menjabarkan pengalaman dan pengamatannya di lapangan. Faktor pemicu terjadinya cacingan sebenarnya adalah musim dan vektor pembawa. Biasanya, musim hujan menjadi langganan merebaknya kasus ini karena suhu udara berubah menjadi lebih lembap. Kemudian, vektor pembawa cacing seperti lalat dan kumbang pun patut diwaspadai. “Artinya, cacing tidak langsung masuk ke dalam tubuh ayam. Namun, ayam terlebih dahulu memakan telur cacing yang menempel di pakan. Baru setelahnya cacing berkembang di saluran pencernaan ayam,” tukas Dodi.
 
 
Tak hanya Dodi yang ayamnya mengalami cacingan. Peternak asal Solo, Jawa Tengah Cecep Setiawan juga mengalami hal demikian. Bahkan, baru awal Oktober 2020 ini, layer miliknya diserbu cacing. “Memasuki musim pancaroba seperti sekarang, peternak harus ekstra hati-hati dan perhatian. Selain itu, saat ini juga dapat dikatakan sebagai musim lalat yang notabene merupakan vektor pembawa cacing,” tukas pemilik farm berlabel PT Aditya Sata Parajaya ini. 
 
 
Berbicara mengenai frekuensi terjadinya kasus cacingan di peternakan miliknya, Cecep mengatakan segala kejadian tersebut tergantung dari manajemen pemeliharaan. Maka dari itu, tindak pencegahan menjadi pakem yang harus ditaati. “Tetap harus berjalan tindak pencegahannya. Meskipun, ayam tidak terlalu parah terserang cacing,” imbuhnya. 
 
 
Infeksi Cacing
Tak boleh kecolongan, peternak diminta harus pandai dalam melakukan deteksi dini guna menghalau cacing. Dalam setiap bulannya, anjuran untuk memeriksakan feses ayam terhadap  adanya telur cacing atau ookista pun digaungkan. “Selama kita tidak melakukan pemeriksaan terhadap feses untuk mencari kemungkinan adanya ookista, maka kita tidak akan pernah tahu ayam yang dipelihara terpapar cacing atau tidak,” ungkap Technical Department Manager PT Romindo Primavetcom, MG Juniarti. 
 
 
Berbicara mengenai kasus cacingan yang sudah biasa terjadi, yang menjadi pertanyaan adalah jenis cacing apa saja yang dapat menyusup ke dalam tubuh ayam. Cacing dengan spesies Ascaridia sp adalah parasit cacing yang sering sekali ditemukan pada ayam. “Penularan penyakit parasit ini melalui pakan, air minum dan litter yang tercemar oleh kotoran yang mengandung telur infektif,” kata dia. 
 
 
Apabila telur cacing berada pada litter atau tanah yang hangat dan lembap, Ascaridia akan menjadi menyerang host (inang) setelah 8 hari. Telur cacing yang tertelan oleh ayam ini kemudian menetas pada usus. Baru setelah 1 bulan, cacing tersebut dapat memproduksi telur. Pada kondisi yang ideal, infektivitas telur cacing dapat bertahan hingga mencapai 4 bulan. Menilik perkembangan cacing yang cukup pesat tersebut, maka peternak diimbau untuk menjaga kondisi kandangnya agar tidak lembap. 
 
 
Infeksi Ascaridia mampu menimbulkan penurunan berat badan yang besarnya berhubungan langsung dengan jumlah cacing yang bermukim di dalam tubuh ayam. Pada infeksi cacing berat, umumnya menyebabkan penyumbatan dalam usus. Biasanya, cacing akan menimbulkan kerusakan yang parah selama migrasinya pada fase jaringan dari stadium perkembangan larva. 
 
 
Jika migrasi terjadi pada mukosa usus, kemungkinan besar akan menyebabkan pendarahan yang berujung pada menurunnya keaktifan ayam. Proses pencernaan dan penyerapan gizi menjadi tidak maksimal. Ujungnya, laju pertumbuhan dan produksi telur menjadi sangat terhambat. 
 
 
Adanya spesies cacing Ascaridia di dalam tubuh ayam dapat mempengaruhi terjadinya enteritis hemoragica atau perdarahan. “Dengan terjadinya perdarahan, maka kadar antibodi terhadap penyakit utama tertentu, misal titer antibodi terhadap ND (Newcastle Disease) atau IB (Infectious Bronchitis) cenderung menurun,” tukas Juniarti. Sarannya, dilakukan evaluasi pemberian vaksin ulang setelah proses pengobatan cacing Ascaridia.
 
 
Selain Ascaridia, ternyata ada beberapa jenis cacing lain yang juga turut menginfeksi layer. Nematoda atau cacing gilig misalnya. Cacing ini adalah jenis yang paling umum ada di saluran pencernaan ayam. Dinamakan gilig karena memang bentuknya yang bulat dan tidak memiliki segmen. “Cacing gilig termasuk kelompok parasit penting pada unggas, sehubungan dengan banyaknya spesies dan dampak yang ditimbulkan,” lanjut Juniarti. 
 
 
 Ada 2 jenis siklus hidup Nematoda, yakni siklus hidup langsung dan tidak langsung. Nematoda dengan siklus hidup langsung, memiliki 4 bagian perkembangan. Bagian pertama adalah telur dikeluarkan bersama feses, bagian kedua adalah telur yang berada di lingkungan berkembang, menetas dan tertelan oleh hospes. Ketiga, telur kemudian akan berkembang menjadi larva pada bagian proventrikulus atau lambung kelenjar yang memiliki peran mencerna pakan. Terakhir, cacing akan tumbuh dewasa di dalam usus.
 
 
Cestoda atau yang familiar dengan nama cacing pita, juga tak luput menyerang ayam. Parasit jenis ini berbentuk pipih menyerupai pita, berwarna putih kekuning-kuningan, serta bersegmen. Segmen tubuh cacing pita disebut proglotida dengan bagian kepala yang disebut skoleks. Bagian kepala ini memiliki kait dan dapat menempel pada mukosa usus. Setelah cacing dewasa, maka ia akan memiliki organ seksual jantan dan betina dalam setiap segmennya. Biasanya, segmen terakhir akan lepas dan keluar melalui feses, dan dipenuhi oleh telur. 
 
 
Kontras dengan cacing gilig yang memiliki 2 siklus hidup, cacing pita hanya hidup dengan siklus tunggal dan membutuhkan hospes perantara. “Serangga atau artropoda lainnya akan memakan telur infektif dan menjadi hospes perantara. Kemudian, ayam akan terinfeksi cacing pita setelah memakan hospes perantara tadi,” jelas dia. 
 
 
Pada infestasi cacing pita, biasanya terjadi kompetisi terhadap penyerapan zat gizi di dalam usus hospes. Cacing pita tidak mencerna sendiri pakannya, melainkan hanya melekat pada mukosa usus dan menyerap zat gizi yang ada dalam usus sebelum diabsorbsi oleh hospes.
 
 
Jenis cacing terakhir yang biasa ditemukan pada ayam adalah Raillietina sp. Siklus hidup spesies cacing ini selalu membutuhkan hospes perantara berupa kumbang. Jika ayam terinfeksi Raillietina, maka tidak akan menimbulkan kerusakan organ saluran pencernaan ayam. Justru, penurunan berat badan yang akan terjadi, bergantung dengan jumlah cacing yang ada di dalam tubuh ayam.
 
 
Head of Marketing PT Tekad Mandiri Citra (TMC), Sugiyono Hadi Wijaya menyatakan, ada jenis cacing bernama Acanthocephala (Mediorynchus gallinarum) dengan bentuk gilig seperti cacing Nematoda, namun bersegmen sepeti cacing Cestoda. Penyakit cacingan yang bertandang tak pelak membuat ayam krisis nutrisi, karena ikut diserap oleh cacing. Vili-vili usus pun ikut koyak, sehingga apabila ayam telah diobati akan tetap terjadi penurunan kemampuan usus dalam menyerap nutrisi. Kemungkinan buruk lainnya adalah dapat menimbulkan infeksi bakteri seperti Colostridium perfringens yang menjadi biang kerok terjadinya penyakit NE (Necrotic Enteritis) dan Colibacillosis. 
 
 
Terkait jenis cacing Acanthocephala, fakta yang ditemukan di lapangan adalah jenis tersebut merupakan ancaman baru bagi layer. Diungkapkan Technical Executive PT Novindo Agritech Hutama, Retno Widiastutik, kasus demikian dilaporkan oleh tim Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan  Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) di daerah Klaten dan Yogyakarta. Namun, saat ini kasusnya dilihat merebak luas di daerah sentral peternakan layer di Solo. “Temuan di lapangan, terlihat bentuk cacing gilig berwarna putih agak kekuningan dengan kulit yang tebal. Bagian anteriornya menempel pada dinding usus ayam,” jelasnya. 
 
 
Acanthocephala belum ramai diidentifikasi di kalangan peternak lainnya. Karena masih banyak daerah yang belum mencium kehadiran cacing ini, maka sangat dikhawatirkan infeksinya sudah banyak terjadi. Hal tersebut bermuara pada penanganan yang kurang maksimal. “Kami masih terus melakukan pemantauan mengenai perkembangan Acanthocephala di lapangan,” ungkap Retno. 
 
 
Pentingnya Bedah Bangkai
Demi mempertegas dan meyakinkan bahwa layer terkena cacing, maka langkah lain yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan bedah bangkai. Biasanya, cara ini dilakukan apabila ada kasus lain yang juga sedang diperiksa. “Jika jarang sekali melakukan bedah bangkai khusus yang ditujukan untuk mengetahui adanya infestasi cacing di dalam tubuh ayam. Diagnosa cacing ditegakkan setelah terlihat adanya cacing di dalam saluran pencernaan,” ujar Juniarti.
 
 
Organ tubuh yang umum diserang rupanya beragam, yaitu trakea, tembolok, proventrikulus, lumen duodenum, dinding dan lumen usus halus, serta sekum. “Usus ayam akan mengalami peradangan, adanya sumbatan akibat tumpukan cacing dan ditemukan cacing dalam usus ayam,” Sugiyono menambahkan.
 
 
Sebagai seorang peternak yang telah belasan tahun menangani layer, Dodi menyampaikan, bedah bangkai merupakan suatu hal yang penting dilakukan demi mendeteksi dini (selain pemeriksaan ookista) adanya infeksi cacing pada ayam di kandangnya. Dalam sebulan, dirinya biasa melakukan 1 kali bedah bangkai dengan harapan infeksi cacing dapat segera ditemukan.  
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 254/November 2020

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain