Minggu, 1 Nopember 2020

Pentingnya Komitmen untuk Perunggasan yang Kondusif

Pentingnya Komitmen untuk Perunggasan yang Kondusif

Foto: dok. trobos


Ditjen PKH telah melayangkan surat teguran kepada para perusahaan terkait yang tidak komitmen atas perjanjian dengan pemerintah
 
 
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) kembali mengeluarkan Surat Edaran (SE) yang ditandatangani Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) pada (19/10) dalam upaya mempercepat stabilisasi perunggasan nasional. Adanya potensi produksi ayam umur sehari Final Stock (DOC FS) sebanyak 281.621.048 ekor di November, setelah dikurangi dengan dampak dari realisasi afkir dini PS setara DOC FS sebangayk 43.670.490 ekor, potensi DOC FS menjadi 214.850.291 ekor. Kebutuhan DOC FS di November 2020 hanya sebanyak 147.721790 ekor, sehingga terdapat potensi surplus DOC FS sebanyak 67.128.501 ekor atau 24, 44 %. 
 
 
Berdasarkan potensi kelebihan DOC FS tersebut, maka dalam menjaga stabilisasi supply dan demand ayam ras pada November 2020 diharuskan melakukan pengurangan DOC FS sebesar 84 % dari potensi kelebihannya yaitu sebanyak 52.299.595 ekor.
 
 
Langkah yang diambil diantaranya dengan melakukan pengurangan DOC FS dilkukan melalui cutting HE umur 19 hari yaitu setara dengan telur HE fertil sebanyak 60.475.942 ekor di regional pulau Jawa, Sumatera, dan Bali. Dikarenakan kondisi dari ketiga pulau tersebut belum kondusif yang diindikasikan dengan harga ayam hidup relatif belum stabil dibandingkan di wilayah lain. Diharapkan perusahaan wajib melaksanakan cutting HE fertil umur 19 hari (setelah candling dan transfer) dengan cara menarik telur HE dari mesin hatcher yang berlaku efektif mulai dari 19 Oktober – 21 November 2020.
 
 
Perusahaan Breeding Harus Patuh
Tidak kurang selama dua bulan terakhir 3 Surat Edaran Dirjen PKH digulirkan untuk pemangkasan produksi guna stabilisasi supply dan harga jual live bird /LB (ayam hidup) broiler (ayam pedaging) di peternak. Namun implikasi regulasi tersebut dinilai peternak masih jauh dari harapan, buktinya harga LB masih dibawah HPP (Harga Pokok Produksi). Tetapi, disatu sisi harga DOC (anak ayam) sudah meningkat.
 
 
Diutarakan Pardjuni, Ketua Pinsar Indonesia Jawa Tengah bahwa harga LB dibawah HPP berlangsung cukup lama, bahkan pernah mencapai di harga Rp 10.000 – 11.000 per kg. Kalaupun diatas HPP yang sekarang ini berada di Rp 17.000 – 18.000 per kg, hanya bertahan sebentar 2 sampai 3 hari saja. “Adanya SE ini dimanfaatkan oleh perusahaan pembibitan untuk menaikkan harga DOC, sedangkan di hilir harga LB belum tentu diatas HPP. Selain itu ada perusahaan yang tidak patuh terhadap SE ini,” lirihnya dalam Konferensi Pers dengan Tema “Transparansi dan Pengawasan Pengaturan Supply Demand Live Bird,” yang diadakan Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) melalui aplikasi online di Jakarta (13/10).
 
 
Diamini Alvino, peternak broiler di Bogor, Jawa Barat, bahwa masih ada perusahaan pembibitan yang tidak patuh terhadap SE ini. Sehingga, upaya pemangkasan produksi ayam diantaranya melalui penundaan setting telur tetas hingga 50 % sulit berjalan optimal. “Kondisi tersebut disebabkan lemahnya pengawasan dari insitusi terkait,” ucapnya.
 
 
Sedangkan, untuk harga ayam pada (13/10) yang mengalami kenaikan cukup signifikan senilai Rp 1500 – 2000 per kg di wilayah Jawa Barat dinilai dirinya cukup aneh juga. “Harga ayam naik ini apakah karena mau demo peternak rakyat pada beberapa hari mendatang, tidak tahu juga. Namun, seharusnya jika dilihat dari dampak pemangkasan produksi seharusnya kenaikan tidak melonjak seperti ini," terangnya.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 254/November 2020
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain