Minggu, 1 Nopember 2020

Urgensi Peran Berdikari

Urgensi Peran Berdikari

Foto: istimewa


Sebagai perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang kini terjun di bisnis perunggasan diharapankan dapat menjadi penyangga atau buffer untuk perunggasan tanah air
 
 
Lini peternakan ayam pedaging (broiler) merupakan bagian dalam bisnis peternakan yang kerap mengalami gejolak harga penjualan live bird (LB/ayam hidup) setiap tahunnya. Bahkan, sudah banyak peternak rakyat yang mengalami kerugian, akibat LB yang dipelihara hanya dijual dengan harga murah atau dibawah Harga Pokok Produksi (HPP). Fakta menunjukkan, bahwa harga LB terendah pernah menyentuh harga Rp 8.000 per kg.
 
 
Hal tersebut tidak seimbang dengan harga karkas di pasaran yang justru melonjak. Bahkan, saat LB berada pada level terendahnya, karkas ayam tetap berada di kisaran harga Rp 30.000 per kg dan cenderung stabil. Maka dari itu, peran pemerintah sangat diperlukan untuk mengatur dan mengatasi kesenjangan ini. 
 
 
Direktur Perbibitan dan Produksi, Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Sugiono tak memungkiri jika unggas, terutama broiler merupakan komoditi yang mandiri jika dibandingkan dengan komoditas lain, seperti bawang putih yang masih impor. “Permasalahannya, saat ini kita masih melakukan impor GPS (Grand Parent Stock/indukan ayam),” sambung Sugiono saat melakukan seminar daring (dalam jaringan/online) pada Kamis (6/8) lalu. 
 
 
Diungkapkan, bahwa Berdikari mendapat alokasi GPS hanya sebesar 49.000 ekor dari total 650.000 ekor. “Peran Berdikari tentunya sangat berat. Dengan pemberian GPS yang termasuk sedikit, Berdikari tidak boleh rugi, dan tidak diperkenankan pula meraup untung yang berlebih karena harus memfasilitasi peternak rakyat,” sambung Sugiono.
 
 
Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Berdikari (Persero), Harry Warganegara menyatakan tidak keberatan jika pihaknya hanya menerima sedikit bagian dari total GPS yang disebar. Justru, angka tersebut disyukurinya. Sebab, Berdikari belum genap 5 tahun bermain di sektor perunggasan, akan tetapi telah diberikan kepercayaan mengelola 7 % GPS. “Harapan yang ditujukkan kepada kami selain mampu mewarnai bisnis ini, mampu juga menjaga stok dan harga. Seluruh pihak yang terlibat dalam dunia perunggasan pasti menginginkan adanya ketersediaan stok dan kestabilan harga,” sambut Hari dalam kesempatan yang sama. 
 
 
Meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan di peternakan, Hari yang baru duduk di kursi Direktur Utama Berdikari pada 2 April 2020 ini mengaku insting dan logikanya sebagai pengusaha tetap berjalan. Menurutnya, pasar  perunggasan merupakan salah satu yang sulit dipahami. Sebab, fluktuasi harganya kerap bergerak tak terkendali. “Ya, memang kalau bulan Suro dan Idul Adha banyak masyarakat yang tidak terlalu perduli dengan pasar ayam. Tapi, di luar itu saya masih belum paham mengapa harganya bisa naik turun secara drastis. Hingga saat ini, saya belum mendapatkan jawabannya,” tekan Hari. 
 
 
Ditambahkan Ketua Tim Analisa Supply-Demand Ayam Ras dan Telur Konsumsi, Trioso Purnawarman bahwa sebenarnya Berdikari telah menerima GPS sebanyak 53.150 ekor atau 7,5 % pada 2018 lalu, dari total alokasi GPS sebanyak 707 ribu ekor saat itu. Terdapat 3 flok yang dimiliki, yakni 2 flok berlokasi di Pasuruan, Jawa Timur dan 1 flok yang saat ini berada di Lebak, Banten. “Berdikari diberi amanah dari negara terkait pemeliharaan ayam. Baiknya, harus menitik beratkan untuk menjual seluruh PS (Parent Stock) kepada perusahaan pembibitan, ataupun kepada pembibit lepas yang tidak mendapat alokasi GPS,” usul dia.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 254/November 2020

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain