Minggu, 1 Nopember 2020

Kemitraan Berbasis Korporasi

Kemitraan Berbasis Korporasi

Foto: istimewa


Diyakini akan mampu mentransformasi peternak sapi potong tradisional menjadi peternak yang berorientasi pada ekonomi yang dijalankan secara lebih modern dan efisien
 
 
Pelaku usaha peternakan sapi potong dalam hal ini para feedloter (pelaku usaha penggemukan sapi) tidak meninggalkan perannya untuk melakukan pemberdayaan bagi para peternak sapi potong skala rakyat di lingkungannya. Dengan program dan strateginya masing-masing, mereka melakukan pemberdayaan dan penguatan peternak rakyat yang dikemas dalam pola kemitraan. 
 
 
Diakui Ketua Dewan Pengurus Gapuspindo (Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia), Didiek Poerwanto, belum ada rumusan baku kemitraan sapi potong. “Saya sudah melaksanakan kemitraan penggemukan di satu tempat. Tetapi yang saya inginkan adalah kemitraan di satu kawasan terpadu, ada penggemukan, ada budidaya (pembiakan), ada pabrik pakan mini, dan ada pengolahan pupuk,” ungkapnya pada Seminar daring MIMBAR TROBOS Livestock the Series 6 – Persapian bertajuk Kemitraan di Sapi Potong yang dikemas oleh TComm (TROBOS Communication) pada Selasa (27/10). Selain Didiek, pada acara yang disponsori oleh PT Nufeed International Indonesia dan Nutrifeed KJUB Puspetasari ini juga menghadirkan Presiden Direktur PT Indoprima Beef Adijaya, Nanang Purus Subendro; Direktur Operasional PT Nufeed International Indonesia, Totok Setyarto; serta Direktur Utama KJUB Puspetasari, Ruslan Rosidi. 
 
 
Didiek memberikan clue, kemitraan sapi potong harus berbasis korporasi, dengan cara mengkonsolidasikan peternak sehingga populasi menjadi banyak, memenuhi skala ekonomi dan mempermudah dalam manajemennya. “Kemitraan tidak usah didorong-dorong, kalau itu memang menguntungkan pasti akan jalan. Model kemitraan bisa beda-beda, sesuaikan dengan potensi daerahnya, mengenai jenis ternak, sumber daya pakan, maupun cara pemeliharaan. Ini industri, bukan sekedar rajakaya. Peternak yang menjual sapi saat butuh uang akan kalah sama tengkulak karena kalah posisi tawar. Peternak dimanfaatkan oleh tengkulak,” dia menjelaskan. 
 
 
Berbasis Korporasi
Didiek menyatakan, Presiden Joko Widodo pernah berpesan agar peternakan dikembangkan dengan cara baru, tidak dengan cara yang sekarang ini. Peternakan harus berkembang secara industrialisasi sehingga lebih efisien dan berdaya saing. “Peternak kecil harus bersatu sehingga populasi menjadi banyak dan ekonomis. Jangan lagi beternak 2 ekor oleh 5 juta peternak. Peternak harus bersatu menjadi korporasi,” ujar Didiek yang juga Ketua Umum PB ISPI (Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia) ini.
 
 
Menurut dia, kemitraan ini dapat dimaknai sebagai upaya untuk mengembangkan model bisnis melalui konsolidasi peternak, lahan dan manajemen usaha peternakan yang mampu memperkuat kelembagaan peternak, meningkatkan posisi tawar peternak, memberikan nilai tambah dan daya saing sehingga dapat meningkatkan pendapatan peternak. Pada kemitraan berbasis korporasi ini posisi peternak dan korporasi harus setara. Program ini bukan datang dari atas langit, namun merupakan kemauan untuk berubah memperbaiki keadaan industri sapi potong dalam negeri. 
 
 
Didiek mengusulkan pengembangan pola Peternakan Inti Rakyat (PIR) terpadu antara penggemukan dengan budidaya (pembiakan). “Selama ini ketergantungan kita akan suplai bakalan impor begitu besarnya sehingga sangat rentan adanya ketidakstabilan pasokan. Untuk itu perlu ada terobosan program yang bisa menjamin suplai bakalan ini. PIR terpadu, sistem yang saya tawarkan. Orang maunya usaha penggemukan karena cepat menjadi duit, namun pasti tidak berkesinambungan tanpa budidaya pembiakan. Tapi pembiakan tidak menarik bagi pelaku. Maka mau tak mau kita harus melakukan budidaya terpadu secara efisien,” dia menguraikan. 
 
 
Masyarakat Indonesia, telah mempunyai pengalaman panjang dan teruji dalam melaksanakan program PIR pertanian dan perkebunan, dan beberapa model PIR penggemukan sapi. Hal ini merupakan modal yang kuat untuk dikembangkannya pada program lanjutan berupa PIR penggemukan terpadu dengan pengembangbiakan (PIR budidaya). Program lanjutan ini sangat penting untuk menjamin kesinambungan tersedianya bakalan yang siap dimobilisasi untuk penggemukan pada waktu yang akan datang.
 
 
Diterangkan Didiek, kemitraan akan bisa efektif dan berkelanjutan apabila masing-masing pihak yang bekerja sama memetik benefit dari kerjasama yang dijalankan. Untuk itu, perlu dicari rumusan pola kemitraan yang benar-benar bisa menjamin terlaksananya program ini. “Program ini di desain bukan sekedar sebagai bagian dari program corporate social responsibility (CSR) seperti selama ini. Tetapi merupakan bisnis model yang memang mempunyai benefit yang yang memadai. Dikerjakan secara komersial dan bankable,” tandasnya.
 
 
Direktur PT Karunia Alam Sentosa Abadi yang bergerak di penggemukan sapi potong ini meyakini sepenuhnya kemitraan sapi potong harus menjadi industri profesional, harus bankable, mitra yang saling menguatkan, bukan CSR. Agar peternak berubah berkembang lebih baik. Kemitraan juga harus berorientasi kepada konsumen, sehingga perubahan kebiasaan pelanggan/pasar daging sapi harus diikuti. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi digital untuk membangun jaringan pengadaan bibit, bakalan, pakan, bahkan untuk memasarkan daging. Sehingga biaya lebih efisien, peternak maupun perusahaan inti tak perlu mendatangi pasar sapi yang jauh-jauh lokasinya, yang tentu memakan biaya tinggi. Berdasarkan pengalaman, meski sudah mengeluarkan biaya tinggi untuk berburu sapi di pasar, tidak ada jaminan untuk mendapatkan kuantitas dan kualitas sapi bakalan sesuai dengan ekspektasi.
 
 
“Kemitraan jangan sampai satu pihak merasa jadi pesuruh, sementara yang lainnya selalu di atas angin, karena tak akan tahan lama. Jangan terjadi lagi. Perlu formula kemitraan yang sama kuat. Konsep kemitraan seperti itu hanya bagus di atas kertas, tapi saat dilaksanakan terjadi ketimpangan. Maka perlu dicari rumusan pola kemitraan PIR yang benar. Ini bukan program jualan politik, tapi profesional,” tegasnya.
 
 
Dinyatakan Didiek, sapi hasil penggemukan peternak mitra bisa dipasarkan melalui offtaker atau langsung ke pasar sepanjang harganya menguntungkan semua pihak. Maka dalam sistem PIR terpadu ini hanya akan jalan kalau ada yang menggemukkan dan ada yang budidaya.”Peternak budidaya/pembiakan bisa saja kelompok yang berbeda. Sengaja dibuat per segmen agar tak terlalu lama pemeliharaannya. Ada peternak yang membuntingkan dan memelihara sampai sapih, ada yang membesarkan sapi sapihan sampai menjadi bakalan,” kata dia. 
 
 
Kemitraan PIR terpadu, Didiek memaparkan, melibatkan pula kelompok pengelola pakan. Pengelolaan pasokan pakan diperlukan karena pada musim penghujan akan sangat berlimpah, sebaliknya pada musim kemarau terjadi paceklik. “Maka ada yang mengusahakan bunker silo dan pabrik pakan mini untuk menyuplai pakan kepada peternak penggemukan dan budidaya,” jelas dia. Kotoran sapi pun diproses menjadi pupuk oleh kelompok pembuat pupuk untuk menyuplai petani. Masing-masing proses dipisah-pisah karena supaya kelompok memiliki usaha yang fokus, tidak terbebani banyak hal. 
 
 
Efisiensi Pembiakan
Totok Setyarto menyatakan kunci keberlanjutan kemitraan sapi potong adalah tersedianya bakalan lokal. Bakalan yang baik harus siap digemukkan tanpa melalui masa transisi yang merepotkan. Selanjutnya adalah lamanya calf to calving (C2C) atau calon indukan itu dari awal sampai menghasilkan pedet sedapat mungkin lamanya hanya 24 bulan (C2C24). Calving interval (CI) harus diusahakan 12 – 15 bulan (CI12) saja agar seluruh proses rantai pasok berjalan sempurna. 
 
 
“Kematian pedet adalah masalah yang pertama kali harus diselesaikan oleh peternak pembiakan agar usahanya terus berlangsung,” ujar Totok. Mengutip data IACCB, kematian pedet pada Sistem Integrasi Sapi – Kelapa Sawit (Siska), transformasi dari Siska (tanpa kandang) ke Siska breedlot (induk dikandangkan) menurunkan kematian pedet dari 21,9 % menjadi 8,8 %. Siska dengan sistem open grazing + paddock lebih baik lagi mortalitas pedet hanya 4 %. Pada Siska dengan sistem cut and carry kematian pedet antara 4 – 11 %. 
 
 
Totok menyarankan untuk mencapai target CI12, C2C24 dan kematian pedet yang rendah perlu dilakukan early weaning, yang biasa dilakukan pada sapi perah, namun masih jarang dilaksanakan pada sapi potong. Early weaning adalah menyapih pedet dengan perhatian yang cukup agar pengasuhannya optimal. Intinya adalah mengubah kebiasaan menyusui pedet yang biasanya selama 6 – 7 bulan, dipersingkat hanya cukup 3 bulan. Pedet diberi perlakuan pakan calf starter agar siap disapih lebih dini. 
 
 
“Pemberian calf starter ini memang tidak biasa, bahkan pada sapi perah sekalipun. Sejak mengenalkan calf starter pada 2014, tingkat adopsi calf starter belum tinggi. Kita perlu terus berupaya untuk mengenalkan ini. Ini merupakan bagian dari mengubah pola beternak tradisional menjadi intensif, yang selalu dikaitkan dengan biaya,” sebut dia.
 
 
Early weaning pada sapi potong, menurut Totok, dapat menekan kematian pedet karena pedet lebih terjamin, tercukupi nutrisi pakannya daripada dipertahankan menyusu pada induk yang mothering ability-nya secara umum sudah diketahui kurang baik, seperti sapi brahman cross (Bx). Pemberian calf starter juga merangsang perkembangan rumen pedet jauh lebih baik. Sehingga saat memasuki periode bakalan dan digemukkan lebih mudah, tidak memerlukan adaptasi pakan karena sudah mengenal konsentrat. Riset di luar negeri menyebutnya sebagai epigenetic imprint.
 
 
Diterangkan Totok, penyapihan dini akan membuat pemulihan induk pasca melahirkan menjadi lebih cepat, sehingga siap untuk kawin dan bunting kembali, untuk mengejar target CI12. Jika pedet yang lahir terpilih untuk dijadikan calon induk, early weaning akan memungkinkan untuk menghasilkan periode calf to calving selama 24 bulan (C2C24). 
 
 
Berdasarkan hasil riset di Pennstate University, Totok memaparkan perbedaan perkembangan rumen pedet pada umur 6 minggu yang diberi pakan susu saja, susu + rumput, dan susu + rumput + calf starter. “Hasilnya, rumen pedet yang diberi susu saja, rumen sangat lambat berkembang, sehingga masih terlihat polos permukaannya. Pedet yang diberi pakan susu dan rumput, rumen lebih terlihat berkembang. Pedet yang diberi susu, rumput dan calf starter, rumen terlihat berkembang sangat baik,” paparnya.
 
 
Calf starter mengandung nutrisi lengkap (protein, energi, vitamin dan mineral,) paling ideal berbentuk pelet, karena tidak berdebu dan lebih mudah bagi pedet untuk memasukkannya ke dalam mulut, kemudian mengunyahnya. Bentuk pelet juga meningkatkan kecernaan pakan, dan memperbaiki ketersediaan fosfor sebanyak 15 – 20 %, karena efek pemanasan pada proses pembuatan pelet. Selain itu, pedet terhindar dari memakan benda asing, karena pakan pelet calf starter sudah diproduksi dengan cara pembuatan pakan yang baik.
 
 
Totok menegaskan biaya pakan calf starter selama 3 bulan hanya Rp 290 ribu, tidak terlalu mahal, dibandingkan dengan harga pedet umur 3 bulan bisa mencapai Rp 4 – 6 juta per ekor. Bulan pertama, tahap pengenalan, hanya perlu 3 kg, bulan kedua 27 kg dan bulan ketiga 30 kg, sehingga total 60 kg.
 
 
Tak hanya pedet, induk pun perlu pakan khusus yang diformulasi dalam bentuk pelet pula. Agar nutrisi tercukupi, pedet lahir lebih sehat dan lebih cepat tumbuh. Selain itu, agar induk mampu pulih lebih cepat pasca melahirkan, sehingga target CI12 dapat tercapai. Pakan jenis ini sudah dipakai oleh balai pembibitan sapi potong milik pemerintah. 
 
 
Peternak Jawa Timur paling cepat mengadopsipakan calf starter ini. Jawa tengah sudah mulai, karena di sana ada sistem pemeliharaan pedet yang tersegmen, peternak memelihara pedet hanya 3-4 bulan lalu dijual kepada peternak pembesaran calon bakalan, bakalan yang dihasilkan dijual kepada peternak sapi perah. Namun peternak sapi potong yang diberi informasi mengenai calf starter biasanya bisa mengerti, tapi merasa mahal. “Padahal dengan uang Rp 290 ribu itu kalau pertumbuhan pedet lebih cepat 2 bulan dari biasanya, selisih untungnya sudah jauh lebih banyak,” tandas Totok.
 
 
Simultan
Membagikan pengalamannya, Nanang Purus Subendro menyatakan, penggemukan dan pembiakan sudah dijalankan secara simultan oleh perusahaannya. Indoprima Beef berdiri pada 2014, memiliki 2 lokasi kandang internal perusahaan berkapasitas 3.500 ekor dan 6.500 ekor. Perusahaannya bermitra dengan 3 mitra besar yaitu Koperasi Gunung Madu sebanyak 1.500 ekor, Pasa Jaya 700 ekor, dan Samodra Biru Langit 600 ekor. “Indoprima Beef selain menjadi tempat usaha juga untuk edukasi, dari anak-anak sampai mahasiswa dan juga peternak,” ungkapnya.
 
 
Menurut dia, kemitraan sapi potong bertujuan untuk pemberdayaan dengan cara meningkatkan kesejahteraan peternak, bukan untuk meningkatkan populasi. Peternak tradisional ditransformasi menjadi profesional. “Apalah arti populasi meningkat kalau kontribusi terhadap kesejahteraan kecil. Kalau peternak sejahtera dengan beternak maka otomatis populasi akan meningkat,” dia menerangkan. 
 
 
Maka, kata Nanang, perlu perubahan paradigma bahwa pemeliharaan sapi secara intensif jauh lebih menguntungkan dibanding dengan pemeliharaan tradisional. Beternak secara tradisional banyak tidak dihitung, sapi warisan, kandang tidak dihitung penyusutannya, rumput ambil di kebun, dan lain-lain. “Itu hanya bisa dilakukan kalau sapi cuma 2 – 3 ekor. Kalau populasi sapi sudah 10 ekor ke atas, maka harus ada tenaga kerja, rumput tak bisa lagi ambil di lahan sendiri, kandang sudah harus dihitung penyusutannya,” dia menegaskan. Bahkan untuk pengadaan sapi bakalan ataupun sapi induk pun sudah butuh perhitungan ekonomi dan kemampuan memilih.
 
 
Siapapun, dapat menjadi peternak mitra, bisa peternak individu, koperasi, maupun kelompok peternak. Adapun mekanisme kerjasama yang dikembangkan Nanang adalah mitra mendapatkan sapi bakalan jantan segera setelah masa karantina. “Perusahaan tidak mengambil keuntungan dari sapi bakalan ini, karena keuntungan diperhitungkan nanti setelah akhir masa kemitraan. Setelah jelas perhitungan untung ruginya,” ujar dia. 
 
 
Indoprima Beef juga mengikuti program pemerintah, setiap usaha penggemukan sapi potong wajib memiliki pembiakan sapi. Maka mitra mendapatkan sapi indukan bunting 4 – 6 bulan sebanyak 3 – 5 % dari kapasitas kandang. “Dulu waktu mekanisme ini disosialisasikan, ada suara keberatan dari peternak, karena merasa rugi kalau dibebani dengan memelihara indukan untuk pembiakan. Maka kami putuskan memberikan sapi dara yang betul-betul sudah bunting umur 4 – 6 bulan, dan rasionya hanya 3 – 5 % dari populasi sapi penggemukan,” tutur Nanang. 
 
 
Setelah sapi bakalan digemukkan selama 4 bulan, sapi dijual dan diangkut langsung ke rantai pasok inti, yaitu Rumah Potong Hewan (RPH) yang sudah bekerjasama dengan Indoprima Beef, supaya lebih efisien. “Sapi tidak perlu masuk ke kandang inti, supaya tidak dobel biaya dan menghindari susut berat badannya,” tandasnya. 
 
 
Nanang menyebutkan, hasil pembiakan sapi berbeda-beda antar kelompok peternak. Ada yang hasilnya baik, dari 65 kelahiran pedet bisa bertahan sampai panen pedet 60 ekor. Namun kelompok lain ada yang tingkat kematian pedet mencapai 50 %. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 254/November 2020
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain