Minggu, 1 Nopember 2020

Bertahan Meski Modal Terbatas

Bertahan Meski Modal Terbatas

Foto: 


Selain harga jual babi hidup yang menurun, yang dihadapi peternak babi dalam mengembangkan usahanya adalah permodalan
 
 
Warga Dusun 4 Sri Rahayu, Desa Braja Fajar, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung menjadikan beternak babi sebagai andalan menghadapi era pandemi Covid-19. Meski harga bibit mahal, sementara harga jual babi turun, peternak yang umumnya merupakan keturunan Bali ini tetap bertahan.
 
 
Edi Saputra, warga RT 12 Dusun 4 Sri Rahayu mengaku, sudah 2 tahun terakhir beternak babi yang merupakan usaha sampingannya sebagai buruh tani. Selain beternak babi, ia juga beternak seekor sapi dara jenis simental. Saat ini, Edi membesarkan 5 ekor babi yang sudah berusia dua bulan pada kandang berlantai dan dinding semen serta atap genteng. Bibit babi dibelinya dari Desa Gunung Terang, Kecamatan Labuhan Maringgai seharga Rp 500 ribu/ekor. Babi tersebut diberi pakan dari ampas tahu, dedak dan konsentrat.
 
 
Anak babi ini akan dibesarkan selama 4 bulan hingga beratnya mencapai 60–70 kg/ekor. Saat ini harga jual babi Rp 24 ribu/kg hidup. Harga itu sudah terbilang naik dibandingkan dengan awal pandemi Covid-19 empat bulan lalu yang sempat turun hingga Rp18 ribu/kg hidup.
 
 
“Sebetulnya keuntungan beternak babi tipis dan lebih rendah dibandingkan dengan beternak sapi. Apalagai sapi pakannya lebih murah yakni hijauan dan jerami yang melimpah setiap panen padi. Tapi persoalannya, saya tidak memiliki modal untuk pengadaan bakalan sapi dan masa pembesarannya lebih lama yakni mencapai 2 tahun,” papar Edi.
 
 
Oleh karena itu ia memulai usaha beternak babi sebagai persiapan masa tua. “Tidak selamanya tenaga kita kuat menjadi buruh karena usia mulai tua. Sementara beternak babi tidak banyak menguras tenaga,” ujar Edi ketika dikunjungi TROBOS Livestock baru-baru ini.
 
 
Peternak babi lainnya yang juga merupakan warga Dusun 4 Sri Rahayu yakni Nyoman Mendre. Pria setengah baya keturunan Bali ini memiliki 3 ekor babi. Menurut Nyoman, bukan tidak mau memelihara lebih banyak tetapi tidak memiliki cukup modal untuk membeli bibit lebih banyak dan pakannya selama pembesaran.
 
 
Nyoman mengaku, selain bertani sawah, beternak babi untuk menambah pendapatan keluarga. Sebab jika mengandalkan hasil penjualan gabah hanya diperoleh dua kali setahun. Itu pun sering harga jual gabah jatuh pada saat panen raya. “Saat ini memang harga gabah sekitar Rp 4.500/kg, tapi kan sebelum panen. Kalau sudah panen raya biasanya turun di bawah Rp 4 ribu/kg, bahkan sering jatuh hingga Rp 3.500/kg,” tuturnya dengan nada miris.   
 
 
Untuk pakan babinya, Nyoman membeli ampas tahu di Pasar Sribawono dengan harga Rp 30 ribu/karung, lalu dedak halus atau bekatul seharga Rp 3 ribu/kg dan konsentrat seharga Rp 500 ribu/karung. Dengan komposisi pakan demikian diperkirakan biaya pakan babi sekitar Rp 5–7  ribu/ekor/hari. 
 
 
Guna menurunkan biaya pokok produksi, pakan dicampur dengan onggok yang harganya Rp 25 ribu/karung. Tapi kandungan protein onggok tidak sebesar ampas tahu sehingga jika komposisi onggok lebih banyak maka pertumbuhan babi menjadi lebih lambat. “Jadi jika harga jual babi di bawah Rp 20 ribu/kg hidup, peternak rugi. Apalagi harga bibit babi cukup mahal yakni mencapai Rp 500 ribu/ekor,” tuturnya. 
 
 
Menurut perhitungan Nyoman, dengan harga jual Rp 30 ribu/kg hidup, maka keuntungan peternak hanya sekitar 30 persen. Makanya jika harga jual babi di bawah Rp 30 ribu/kg maka tentu keuntungan peternak di bawah itu. Kalau soal penyakit babi, menurut Nyoman, tidak seberapa. Hanya jika terjadi wabah flu babi, sering babi mati tiba-tiba pada malam hari. “Sorenya babi masih sehat, besok pagi sudah jadi bangkai,” ungkap Nyoman.
 
 
Masih Diminati
Sementara Wayan Sumo merupakan peternak babi di Desa Braja Fajar. Saat ini ia bersama istrinya Wayan Murni dan putranya Ketut Diase membesarkan 25 ekor babi di belakang rumahnya pada lima petak kandang berlantai semen dan dinding batako dan atap daun kelapa.
 
 
Menurut Wayan, mereka terjun ke usaha peternakan guna menambah pendapatan keluarga. Sebab tidak cukup lagi jika hanya mengandalkan biaya hidup sehari-hari dari penjualan gabah setiap panen. Pada saat mereka mulai beternak babi dua bulan lalu, harga jual babi sedang anjlok akibat pandemi Covid-19. Penyebabnya, permintaan dan pengiriman babi potong ke Jabodetabek macet, sementara permintaan pasar lokal juga merosot tajam.
 
 
Kendati begitu keluarga petani ini tetap memberanikan diri, dengan harapan jika pada saat panen nanti harga jual babi sudah pulih kembali. Untuk itu mereka membangun kandang dengan harga Rp 700 ribu/dua petak sehingga untuk enam petak menghabiskan dana Rp 2 juta lebih. Lalu kandang ini diisi dengan 25 ekor bibit babi yang dibeli dari Desa Sidorejo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur seharga Rp 500 ribu/ekor berusia 1,5 bulan dari jenis Lendris, peranakan babi unggul Australia.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 254/November 2020
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain