Minggu, 1 Nopember 2020

Jeli Kembangkan Madu Indonesia

Jeli Kembangkan Madu Indonesia

Foto: ramdan


Kebutuhan madu dalam negeri masih sangat tinggi sedangkan produksinya tergolong masih rendah
 
 
Madu didapuk menjadi produk unggulan hasil hutan bukan kayu yang sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia. Dalam madu murni, terdapat beberapa kandungan gizi seperti asam amino, protein, vitamin, mineral dan karbohidrat. Menyadari banyaknya manfaat yang dipanen dari madu, Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) melalui Pusat Standarisasi Lingkungan dan Kehutanan mengambil peran untuk mengawal dan mengembangkan madu, baik dari segi mutu, pemanenan, manajemen pasca panen, pengolahan, hingga proses edar atau pemasaran. 
 
 
Kepala Bidang Standarisasi Produk, Nurmayanti menjelaskan jika madu merupakan sumber daya hutan yang memiliki keunggulan komparatif. “Madu juga sangat bersinggungan dengan masyarakat di sekitar hutan. Hingga sekarang, produk hasil hutan bukan kayu ini terbukti memberikan dampak pada peningkatan pendapatan masyarakat dan memberikan kontribusi yang berarti untuk penambahan devisa negara,” papar dia dalam acara Standar Produk Madu untuk Mutu, Kesejahteraan Masyarakat dan Kelestarian Hutan (23/7) secara daring (dalam jaringan/online).
 
 
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa nilai impor madu pada 2019 sebesar 3.041.459 kg. Angka tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 2.026.095 kg. Jika merunut data 5 tahun terakhir (2015 – 2019), kuantitas rata-rata madu yang diekspor adalah 2.014.818 kg. Sedangkan, pada rentang waktu yang sama Indonesia hanya menerima madu dari luar negeri rata-rata sejumlah 263.159,462 kg. Data tersebut menunjukkan bahwa perdagangan madu di Indonesia mengalami defisit. “Namun, kebutuhan madu dalam negeri masih sangat tinggi sedangkan produksinya tergolong masih rendah,” lanjut dia. Untuk itu, perlu adanya peningkatan penerapan standar untuk menjamin mutu dan kualitas produk yang memenuhi permintaan pasar. Diakui Nurmayanti, jika pihaknya rajin melakukan pendampingan terhadap petani maupun produsen yang telah siap sertifikasi. Selain itu, adapula penguatan kapasitas penerapan standar yang juga dilakukan. 
 
 
Sementara itu, disampaikan pada kesempatan yang sama oleh Fitrian Ardiansyah jika tantangan yang dihadapi dalam sektor ini adalah harga madu yang tinggi, namun belum mampu masuk ke pasar secara leluasa. “Data yang kami himpun, ada kenaikan permintaan di pasar untuk madu sebanyak 5 kali lipat. Madu yang dipasarkan harus bisa menggaet konsumen melalui penampilan atau kemasan, selain memang kualitas madunya yang juga ciamik,” sambung Ketua Pengurus Yayasan Inisiatif Dagang Hijau ini.
 
 
Pemerintah sebetulnya bisa melirik pasar lain demi mendongkrak penjualan madu. Fitrian memberikan masukan, jika pemasaran madu bisa berpindah haluan menuju high end market seperti jaringan restoran mewah di wilayah ibukota. “High end market sebetulnya sedang mencari produk dalam negeri untuk diperkenalkan dan dipasarkan. Ini merupakan peluang baik. Pihak KLHK mungkin dapat mendorong lebih jauh terkait hal ini,” usul dia. 
 
 
Pengolahan Madu Hutan
Danau Sentarum, merupakan salah satu wilayah tanah air yang memiliki potensi madu hutan mumpuni. Awalnya, pemanenan madu hutan di kawasan ini dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat. Sejak 1995, pengembangan pengelolaan madu hutan ini pun dimulai. Organisasi nirlaba global untuk konservasi dan restorasi lahan basah, Wetlands Indonesia mengirim 3 petani yang merupakan masyarakat danau Sentarum untuk belajar teknik pemanenan di Vietnam. 
 
 
Hasil positif mulai dituai. Pada 2003, pengembangan madu menunjukkan hal yang baik. Mutu madu hutan yang dihasilkan melalui sistem panen baru juga terpantau meningkat. Setara dengan fakta tersebut, harga madu melonjak 4 kali lipat dari harga Rp 5.000 per kg menjadi seharga Rp 20.000 per kg. “Potensi madu curah yang ada di wilayah taman nasional danau Sentarum ini diperkirakan sebesar 15 – 30 ton per tahun. Pemanenan madu biasanya dilakukan sekitar September hingga Februari per tahunnya. Nilai jualnya juga cukup fantastis, yakni Rp 1,5 – 4,5 milyar per tahun,” tutur Arief Mahmud yang merupakan Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung dan Danau Sentarum.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 254/November 2020

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain