Kamis, 5 Nopember 2020

Manajemen Pemeliharaan Anak Babi

Manajemen Pemeliharaan Anak Babi

Foto: 


Teknis manajemen babi prasapih dan pasca sapih merupakan segmen penting yang harus dilewati oleh babi pada awal kehidupannya. Kesalahan manajemen, penyakit, dan kematian, tiga kata kunci yang harus dicegah pada masa krusial ini. 
 
 
Sebagaimana dikupas pada Seminar daring MIMBAR TROBOS Livestock The Series ke-7 Monogastrik dengan topik “Manajemen Anak Babi Pra dan Pasca Sapih” melalui aplikasi Zoom pada Kamis (5/11). Seminar menghadirkan Parsaoran Silalahi (pengurus Asosiasi Monogastrik Indonesia/AMI), Prof Budi Tangendjaja (Konsultan Teknis United States Soybean Export Council/USSEC Southeast Asia), Bintang Mas Kamdoro (Technical Manager Swine PT Boehringer Ingelheim Indonesia), Ponco Cahyo Adi (Technical Excecutive PT Behn Meyer Chemicals), dan Andi Yek􀆟 Widodo (Technical Consultant PT Elanco Animal Health Indonesia).
 
 
Memberikan sambutan, Presiden AMI Sauland Sinaga mengatakan MIMBAR TROBOS Livestock bertema manajemen budidaya ternak babi sangat diperlukan oleh peternak babi. Pasca wabah ASF (African Swine Fever) populasi babi nasional turun 3,5 juta ekor. Harga babi pun sudah terkerek 100 %, pertanda terjadi penipisan stok. Untuk mengisi stok (restocking), maka angka kematian babi terutama pada usia dini harus ditekan serendah mungkin. Segmen pra sapih dan pasca sapih merupakan masa yang paling krusial karena menentukan kelanjutan kehidupan, pertumbuhan, dan kualitas anak babi.
 
 
Parsaoran Silalahi menyebutkan perlunya memperbaiki angka Litter Size (LS) sapih anak babi yang menurut berbagai penelitian hanya 7,7 – 12 ekor setiap periode. Dengan asumsi setiap tahun induk beranak 2,3 kali, maka angka LS sapih hanya 17,7 – 27,6 ekor per tahun, dengan rata-rata 22 ekor per tahun. Angka ini jauh di bawah Denmark (31 ekor per tahun), Belanda (29 ekor per tahun), dan Brazil (26 ekor per tahun).
 
 
Menurut Parsaoran, terlalu banyak babi pada satu kelahiran akan membuat bobot lahir kecil. Sebenarnya, 12 – 14 ekor tiap kali beranak sudah cukup, bobot sapih bisa optimal mencapai 5 – 7 kg. Maka dia menyarankan anak babi berbobot lahir di bawah 1 kg, bisa di-culling saja karena berpotensi menimbulkan masalah pada fase berikutnya.
 
 
Kematian Anak Babi
Dijelaskan Parsaoran kematian anak babi bisa disebabkan oleh kondisi induk babi, bisa karena anak babi yang lemah, maupun karena lingkungan/kandang menyusui yang buruk. Induk diseleksi pada produksi susu. Produksi susu yang tinggi akan mampu menopang LS yang besar pula. Faktor itu pula yang menyebabkan LS babi di Denmark 3 – 4 ekor lebih banyak per kelahiran daripada Indonesia. Produksi susu induk yang rendah berpotensi menyebabkan anak babi kelaparan kemudian mati.
 
 
Anak babi yang berukuran kecil akan sulit bertahan hidup karena kondisi yang lemah dan kalah bersaing untuk menyusu maupun mendapatkan makanan. Induk dengan yang tidak responsif terhadap kondisi anaknya juga menjadi faktor signifikan. 
 
 
Ponco Cahyo Adi menyatakan sebanyak 80 % kematian piglet (anak babi) menyusu, itu karena tertindih. Hal itu diperparah dengan realita kandang farowing 60 % masih dibuat tanpa sekat. Kematian anak babi seharusnya sangat kecil terjadi pasca sapih. Namun di Indonesia, pada kondisi normal pun kematian anak babi masih terjadi pasca penyapihan, bahkan sampai bulan kedua. “Ini yang harus diperbaiki secara serius oleh peternak,” dia menegaskan.
 
 
Creep Feeding
Anak babi sebaiknya seawal mungkin dikenalkan dengan pakan. “Ada yang bilang 10 hari, ada yang 7 hari, karena saat itu produksi susu mulai turun. Namun pada penelitian, pakan diberikan 36 jam setelah kelahiran,” ungkap Parsaoran. Pemberian pakan sejak dini dilakukan untuk antisipasi jika produksi susu induk tidak cukup, dan untuk mengenalkan pakan agar proses penyapihan lebih mudah. Stres penyapihan dapat diminimalkan karena anak babi tidak terlalu bergantung pada susu sejak dini.
 
 
Senada, Budi Tangendjaja menyarankan pemberian creep feeding dengan pakan pelet berkualitas tinggi mengandung susu untuk anak babi. Pemberian creep feeding menurunkan kehilangan bobot induk selama laktasi karena piglet juga berkurang minum susu induknya.
 
 
Budi Tangendjaja menguraikan anak babi sangat sensitif pencernaannya. Pakan starter kering yang digunakan untuk transisi weaning harus sangat diperhatikan, kuantitas, dan kualitasnya. Sebab anak babi biasa minum susu yang nutriennya sederhana dan cair, dipaksa mengkonsumsi pakan padat, kering dan nutrisi kompleks.
 
 
Penyapihan
Budi Tangendjaja menyatakan anak babi mampu tumbuh dua kali lipat berat lahir dalam 7 hari. Namun sering dijumpai, pakan induk sebelum melahirkan 􀆟dak cukup. Karena kondisinya lemah, setelah melahirkan juga tidak mampu mengkompensasi konsumsi pakannya. Sehingga produksi susu terancam kurang, maka berat sapih piglet tidak memenuhi target, masa pemeliharaan pun jadi lebih panjang.
 
 
Menurut Parsaoran peternak juga harus mematok target jumlah periode beranak tiap tahunnya, apakah 2,3 atau 2,5. Parsaoran mematok 2,3 karena berasumsi lama menyusui 28 hari, sedangkan di luar negeri bisa 2,5 kali karena lama menyusui hanya 21 hari. Keduanya sama-sama memperhitungkan perkawinan induk dilaksanakan 7 hari setelah menyapih. Penyapihan lebih awal akan meningkatkan profit peternak karena memperpendek interval kelahiran, namun konsekuensinya harus melakukan penanganan ekstra pada anak babi.
 
 
Bintang Mas Kamdoro menyatakan, penyapihan tidak mesti menggunakan patokan umur/hari. Dia menyebut untuk memakai patokan bobot badan anak babi. “Penyapihan pada bobot 5 kg tentu berbeda perlakuannya dengan yang mau sapih di 6 kg atau 7 kg. Semakin sapih awal, semakin harus teli􀆟 penanganan suhu, kesehatan, dan pakannya,” dia mengungkapkan.
 
 
Budi menyampaikan catatannya, vili usus anak babi akan memendek setelah disapih. Maka harus dicarikan upaya agar vili tetap panjang setelah penyapihan. Periode awal paling penting dan kritikal adalah pada masa transisi. “Pada masa transisi dan weaning jangan irit pakan untuk weaner. Agar vili usus terjaga dan siap berhenti dari minum susu induknya. Biaya pakan weaner cuma 2 % dari total pakan babi sampai panen.
 
 
Menurut Ponco Cahyo Adi, susu tambahan juga bisa tetap diberikan pada anak babi setelah disapih untuk mengurangi stres dan menjaga agar babi tetap makan. Susu tambahan bisa diberikan langsung pada pakan kering, maupun dengan melarutkannya terlebih dahulu kemudian dicampur pakan.
 
 
Waspadai Penyakit
Banyak peternak yang terlalu mengandalkan maternal antibodi pada anak babi sehingga lengah pada aspek biosekuriti maupun vaksinasi. Padahal, transfer maternal antibodi diturunkan melaluikolostrum yang tersedia hanya selama 2 – 3 hari awal laktasi. “MA dari kolostrum akan turun pada 4 – 10 minggu. Maka perlu tambahan vaksin ketika maternal sudah mau turun. Vaksin akan membangun imunitas anak babi,” Bintang Mas Kamdoro menjelaskan.
 
 
Peternak harus mengevaluasi penyakit yang pernah menjangkiti peternakan babinya, terutama Porcine Reproductive And Respiratory Syndrom (PRRS), Porcine Circo Virus (PCV2), dan Mycoplasma Hypneumonia (Mhyo). PRRS bukan hanya berisiko keguguran dan penyakit pernapasan, namun juga meningkatkan risiko kematian anak babi prasapih, dari 5 % jadi 65 %. Farrowing rate juga turun drastis, dari 80 % anjlok menjadi 50 %. PRRS juga dapat menyebabkan bobot lahir rendah, LS rendah, pertumbuhan lambat, anoreksia dan mengundang infeksi sekunder. Ditaksir kerugian dunia akibat PRRS menembus USD 664 juta per tahun.
 
 
Teknis Manajemen Anak Babi
Kandang laktasi perlu lampu pemanas minimal 50 watt pada siang hari dan 70 – 100 watt malam hari, karena harus menghasilkan suhu 35 – 37 oC. “Problem lampu pijar sering putus terjadi karena diletakkan terlalu rendah sehingga berulang kali tersenggol oleh induk babi,” Ponco Cahyo Adi menyarankan.
 
 
Anak babi baru lahir diantaranya, menurut Ponco, harus segera dipotong tali pusarnya sekitar 5 cm, lalu disemprot dengan antiseptik untuk mempercepat proses pengeringan luka. Dianjurkan dengan membersihkan rongga mulut, hidung, dan badan piglet dari lendir dengan lap/handuk bersih.
 
 
“Potong gigi dilakukan maksimal 24 jam setelah lahir, ada 8 yang harus dipotong dengan tang potong tajam dan steril. Piglet yang telat dipotong giginya bisa merusak puting induk,” jelas Ponco. Pemotongan dilakukan di atas bagian “pulpa” dari gigi susu secara hati-hati untuk menghindari perdarahan.
 
 
Selanjutnya, untuk mengurangi kanibalisme dilakukan potong ekor dengan tang. Pemotongan sepanjang 2/3 dari panjang ekor, harus ditahan selama 10 – 15 detik sebelum diputuskan untuk mengurangi pendarahan dan mengurangi antiseptik pasca pemotongan.
 
 
Problem pada piglet yang sering muncul, adalah diare dan penyakit respirasi. “Pemberian an􀆟koksi terlambat, rentan muncul diare. Pengobatannya dengan dicekok obat antikoksi, kemudian menjaga kebersihan,” tandasnya. Selain pemberian antikoksi, tidak boleh terlewatkan pula pemberian zat besi pada umur 3 – 5 hari.
 
 
Parsaoran menambahkan, anak babi perlu diberi tambahan zat besi karena pada saat lahir kandungan zat besi hanya 40 mg. Padahal anak babi butuh zat besi 7 mg per hari. Maka dalam 6 hari sudah habis, sehingga berpotensi anemia. Pada kandang tanah, sebenarnya anak babi bisa secara alami mendapatkan mineral Fe di tanah. Namun pada kandang beton, mau tak mau harus diberi tambahan.
 
 
Kastrasi pada anak babi jantan umur lebih dari 10 hari, sering keluar darah banyak karena salah metode. “Harusnya tidak perlu melukai lapisan scrotum, cukup menyayat kulit luar saja, lalu ditarik keluar,” kata dia. Pada umur itu pula dilakukan vaksinasi dan pemberian obat cacing.
 
 
“Keseragaman piglet saat lahir rata-rata 60 %, maka setelah disapih perlu pengelompokan berat badan untuk mengurangi kompetisi saat makan dan mengejar pertumbuhan bobot badan. Perhatikan tingkat kepadatan 0,25 – 0,3 m2 per ekor sampai babi mencapai bobot 25 kg,” Ponco memaparkan.
 
 
Sterile Inflammation
Andi Yekti Widodo menyoro􀆟 potensi kasus sterile inflammation atau reaksi radang yang 􀆟dak disebabkan oleh penyakit, namun karena adanya zat antikualitas pada pakan. Salah satu yang berpotensi menyebabkannya kandungan beta mannan. “Beta mannan adalah non starch polysaccharides atau NSP. Banyak terdapat pada palm kernel meal atau PKM, juga SBM (soybean meal, bungkil kedelai), dalam jumlah kecil pada jagung,” ungkap dia.
 
 
Terkait oligosakarida ini, Budi Tangendjaja menjelaskan, untuk pakan babi terlebih pakan anak babi disarankan menggunakan enzyme treated soybean meal. Dengan treated SBM ini penggunaan SBM juga bisa berkurang.
 
 
Menurut Andi, PKM banyak dipakai pada pakan babi di Indonesia, sehingga kadar beta mannan bisa lebih tinggi daripada 0,4 %. Sudah cukup berefek untuk mencetuskan sterile inflammation yang terjadi karena respons imun, sebab beta mannan mirip dengan struktur molekul permukaan patogen. Energi akan terbuang untuk menangani inflamasi, sebesar 90 kkal per kg pakan, atau 3 % kalori pakan. Efek lanjutannya, nafsu makan turun dan metabolisme terganggu.
 
 
“Maka beta mannan perlu dipecah menjadi lebih kecil dengan enzim beta mannanase maupun probiotik. Kalau beta mannan dipecah, maka diperoleh prebiotik manan oligosakarida (MOS) dan mannosa (dapat dicerna). Reaksi akibat respons imun pun akan hilang. Jadi pemecahan beta mannan ini malah menguntungkan,” tandas Andi. TROBOS nuruddin – yogyakarta
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain