Selasa, 10 Nopember 2020

Fapet UNJA Gelar Seminar Hasil Riset

Fapet UNJA Gelar Seminar Hasil Riset

Foto: ist/dok.ZOOM-UNJA


Jambi (TROBOSLIVESTOCK.COM). Indonesia dituntut untuk mampu menyediakan pangan termasuk pangan hewani berupa daging, telur dan susu untuk lebih dari 250 juta penduduknya.

 

Bermaksud memberikan kontribusi ilmiah pada tantangan itu, Fakultas Peternakan Universitas Jambi (Fapet UNJA) menggelar Seminar Nasional II Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat  bertema“Sistem Produksi Peternakan dan Perikanan yang Berkelanjutan, pada Sabtu (7/11) secara daring.

 

Ketua Panitia Semnas II Fapet UNJA, Bagus Pramusinto menyatakan keluaran (output) yang akan dihasilkan yaitu berupa prosiding yang ber-ISBN (Internasional Standard Book Number). Bagus mengklaim partisipan pada Semnas kedua ini diikuti oleh partisipan dari seluruh Indonesia

 

Diikuti oleh sebanyak 210 partisipan, yang terdiri dari pemakalah sebanyak 136 partisipan dan 74 lainnya adalah peserta umum,” sebutnya.

 

Sementara itu, Dekan Fapet UNJA, Nurhayati dalam sambutannya mengungkapkan tujuan dari Semnas kedua ini yaitu untuk mendesiminasi hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang telah dilakukan. Sehingga, dapat menjadi acuan untuk pengembangan peternakan dan perikanan di Indonesia. Demi Indonesia yang sehat, maju dan berkualitas.

 

“Walaupun pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) ini baru memberikan kesempatan kita untuk bersilaturahmi secara virtual, tetapi marilah kita berdoa supaya pandemi Covid-19 ini segera berlalu dan kita bisa beraktivitas serta bersilaturahmi seperti biasa,” harap Nurhayati.

 

Memasuki sesi penyampaian materi, Dosen Fapet UNPAD, Asep Anang menerangkan bahwa sebelum melakukan pemuliaan, terkadang orang akan tertukar antara konservasi dengan pemuliaan. Sehingga Anang mengimbau untuk berhati-hati, sebab konservasi dan pemuliaan adalah dua hal yang berbeda, begitu pula metodenya. Jikalau seseorang ingin melakukan konservasi dengan pemuliaan, tekniknya lain.

 

“Konservasi lebih di arahkan ke keragamannya, sehingga kita mempertahankan keragaman ternak. Kita harus hati-hati, bahwa jangan sampai ada gen penting yang hilang. Jika sudah masuk pada pemuliaan, itu diarahkan oleh manusia, misalnya saya ingin ayam yang tumbuhnya cepat, daya tahan penyakitnya bagus, FCR-nya (Feed Coversion Ratio) rendah dan hasilnya pasti uniform. Maka di sini akan terjadi kehilangan gen penting,” terang Asep.

 

Dia pun memandang pemuliaan dan konservasi ini sama-sama penting guna menjaga keberlanjutan (sustainable) sub sektor peternakan.

 

Asep pun memberikan peringatan tentang maraknya persilangan pada ayam yang dilakukan begitu saja.“Ayam adalah komoditas yang paling mudah untuk dikawinkan ‘ke sana kemari. Jika bicara tentang bencana atau penyakit, ayam adalah yang paling banyak dihabiskan, maka itu dibutuhkan konservasi, khususnya pada ayam kampung,” tegasnya.

 

Asep pun mengingatkan bahwa ayam merupakan ternak yang paling cepat punah. Misalnya untuk menutupi produksi ayam kampung yang rendah, banyak pihak yang mengawinkan ayam lokal dengan ayam ras petelur (layer). Asep sangat menyayangkan hal ini, sebab dapat membahayakan plasma nutfah. ed/bella

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain