Selasa, 10 Nopember 2020

Pro Kontra Pengembangan Sapi Belgian Blue

Pro Kontra Pengembangan Sapi Belgian Blue

Foto: ist/dok.ZOOM-CBC


Jatinangor (TROBOSLIVESTOCK.COM). Pengembangan sapi belgian blue (BB) yang merupakan sapi berotot ganda atau double muscle (DM) menuai penentangan dari beberapa pihak, jika dikembangkan secara luas di masyarakat.

 

Bagi mereka, lebih banyak mudarat daripada manfaatnya. Sehingga perlu dilakukan kajian ulang agar program ini tidak berpotensi merusak kelestarian sapi-sapi lokal.

 

Nuzul Widyas, Dosen Genetika dan Pemuliaan Ternak, Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) mengatakan seharusnya pengembangan sapi DM sebagai sapi superior yang berproduksi tinggi akan sangat tepat jika dipelihara pada populasi tertutup dengan manajemen yang tepat dan terkontrol. Nantinya penyebaran dari mutasi kelainan genetik dari DM ini dapat diminimalisir serta potensinya dapat dimaksimalkan.

 

Menurut dia, sapi DM memiliki banyak kelemahan diantaranya ukuran tubuh organnya (jantung, liver, paru-paru dan saluran pencernaan) menurun. Myofibri yang berhubungan dengan sel-sel seperti kolagen juga menurun karena sapi ini memiliki kandungan kolagen yang lebih rendah dibandingkan dengan bangsa Bos taurus lainnya.

 

“Kolagen itu berhubungan dengan sesuatu yang kenyal, sehingga tenderness-nya meningkat. Kolagen yang merupakan isi atau materi dari matriks tulang ketika kolagennya turun otomatis kekerasan tulangnya juga menurun. Selain itu, myoglobin protein yang mengikat zat besi dan oksigen di dalam darah yang berada di dalam daging atau otot juga menurun,” kata dia dalam Webinar Series Cattle Buffalo Club (CBC), Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Fapet Unpad), Bandung pada Sabtu (7/11) melalui aplikasi zoom dan YouTube.

 

Lanjut dia, sapi DM memiliki mitokondria yang juga menurun berhubungan dengan respirasi. Lalu pada pencernaannya ada yang naik ada yang turun tergantung pakan yang diberikan. Resisten terhadap stress juga menurun akibatnya tidak tahan terhadap stress, tetapi tahan terhadap insulin. Terakhir, feed intake dan feed conversion pun ikut menurun. “Kondisi itu akan mengakibatkan saluran pencernaan yang pendek,” terangnya.

 

Ditemukan juga bahwa sapi betina DM yang melahirkan keturunannya dilakukan dengan caesar sebesar 99 %, dan 0 % yang dilahirkan secara normal. Kondisi itu terjadi karena fetus dari sapi DM memiliki ukuran pundak 17-33 cm sedangkan sapi yang bukan DM dengan bangsa Bos taurus lebar pundak 15-21 cm. Alhasil jumlah pedet yang dihasilkan sapi betina DM hanya 2-3 ekor. Di karenakan sapi betina DM bisa di caesar hanya 3 kali selama hidupnya.

 

Aspek genetik

Nuzul menjelaskan bahwa awal mula sapi BB ada dua jenis yaitu traditional dual-purpose belgian blue (TBB), dan BB jenis DM. Di negara Belgia yang merupakan asalnya dua jenis sapi ini terdapat dalam suatu populasi yang kemudian terjadi mutasi sifat DM. Karena memiliki penampakan bagus maka yang DM ini dikumpulkan oleh peternak, kemudian dikawinkan sesama DM. Sehingga munculah dua jenis sapi BB tersebut.

 

Penyebab fenotip dari DM kata Nuzul, diakibatkan mutasi dari gen myostatin (MSTN) yang kemudian mengalami muscular hypertrophy. Peristiwa ini menyebabkan terjadinya excess muscle atau kelebihan otot. Ketika ototnya meningkat akan mengakibatkan banyak daging.

 

“Jika salurannya itu lebih penuh dengan otot, maka salurannya akan semakin sempit. Saluran itu contohnya saluran pembuluh darah dan reproduksi,” ungkapnya.

 

Pada dasarnya sifat DM merupakan sifat monogenik yang dikontrol oleh satu gen saja. Sehingga fenotipnya akan mengikuti genotip pada gen MSTN sehingga sapi persilangan DM hanya mewarisi karakteristik yang unggul dan tidak diwarisi karakteristik yang merugikan dari tetuanya itu perlu dipertanyakan. Sehingga hanya terdapat dua kemungkinan yaitu sapi DM atau sapi bukan DM. Berbeda jika yang diseleksi bobot badan yang merupakan poligenik artinya dipengaruhi dan dikontrol oleh banyak gen.

 

Harapan dan Masukan Stakeholders

Rochadi Tawaf, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau menambahkan penelitian di Eropa dan Amerika Utara melaporkan bahwa sapi betina DM memiliki kesulitan melahirkan sehingga harus operasi caecar pada setiap kelahiran. Akibatnya jika dilakukan di peternak rakyat akan mengalami kerugian. Selain itu, akan terjadi kerusakan sumber daya sapi lokal.

 

“Maka yang dilakukan adalah semua F1 harus disembelih dan tidak boleh bereproduksi di peternak rakyat. Sebaiknya mengembangkan sapi-sapi endemik Indonesia (Bali, Madura, Pasundan, Pesisir, Aceh) yang sudah teruji sesuai ekosistem Indonesia secara optimal,” tuturnya.

 

Sementarana itu, Andre Rivianda Daud, Dosen Fapet Unpad menyampaikan bahwa dalam pengambilan kebijakan termasuk pengembangan sapi BB harus memperhatikan peternak mana yang akan disasar. Karena pada rantai pelaku usaha sapi potong terdapat para peternak yang memiliki karakteristik berbeda-beda.

 

Yanyan Setiawan, Seksi Pelayanan Teknik Pemeliharaan Ternak, BET Cipelang mengatakan setiap kebijakan yang diambil tentunya akan memiliki plus dan minus-nya sehingga perlu disikapi dengan bijak. Ia kemudian mengucapkan terimakasih banyak terhadap saran dan masukan yang telah diberikan. Harapannya para stakeholders terkait bisa langsung datang ke BET Cipelang melihat langsung perkembangan serta diskusi bersama.

 

“Kami tahun depan akan mencoba ternak kerbau lokal di BET Cipelang. Masukkan dari berbagai stakeholders akan kami tampung. Sehingga nantinya akan menghasilkan program pengembangan sapi potong secara genetik yang berkelanjutan di Indonesia. Tak lupa masyarakat dihimbau untuk selalu meningkatkan konsumsi daging,” terangnya.

 

Senada dengan Yanyan, Gun gun Gunara, Kasubdit Pengelolaan Sumber Daya Genetik Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan mengatakan kedepannya akan selalu meningkatkan kesejahteraan para peternak Indonesia dan salah satunya untuk mendukung dalam konteks meningkatkan kesejahteraan melalui performa ternak yang akan diwacanakan melahirkan sapi BB kedepan. Ia pun mengapresiasi dan menampung masukan para akademisi untuk menjadi pertimbangan bagi Kementerian Pertanian. ed/zul

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain