Rabu, 18 Nopember 2020

Terbuka, Peluang Menambah Populasi Unggas di Kaltim

Terbuka, Peluang Menambah Populasi Unggas di Kaltim

Foto: ist/ZOOM-FAO


Samarinda (TROBOSLIVESTOCK.COM). Kaltim yang dicanangkan sebagai ibukota yang baru memiliki prospek yang sangat menjanjikan. Sayangnya, Kaltim merupakan satu satunya provinsi di Indonesia yang mempunyai potensi konsumsi ayam dan telur yang cukup tinggi tetapi tidak ada satu pun terdapat pabrik pakan berdiri di daerah itu.

 

“Jadi selama ini pakan ternak di kaltim 99% dikirim dari luar Kaltim, terutama dari Surabaya, yang mana akan menambah biaya pokok produksi,”kata Zamroni Yusro, Ketua Wilayah PINSAR Kaltim .

 

Hal itu terungkap pada dalam Webinar Hari Ayam dan Telur (HATN) ke-10 serta world egg day oleh Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) Indonesia dengan tajuk “Gizi Ayam dan Telur, Biosekuriti dan Prospek Bisnis Perunggasan” pada Rabu (18/11) yang berlangsung di Kalimantan Timur (Kaltim).

 

Selain itu, ia menegaskan peluang usaha 5 tahun kedepan terkait usaha industi broiler dari data PINSAR menunjukkan masih ada peluang untuk menambah populasi kandang sebesar 15%. Terkhusus peternak-peternak di Kaltim untuk memperbarui kandangnya dari kandang terbuka (open house) menjadi semi tertutup ataupun kandang tertutup (close house). “Karena selain menambah kekurangan populasi di Kaltim juga menjadi solusi dalam mencapai kestabilan performa yang sekarang ini menjadi momok menakutkan bagi peternak di Kaltim,” ungkapnya.

 

Begitu pun pada ayam petelur (layer) didasarkan pada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kaltim menyebutkan kebutuhan telur di Kaltim mencapai 8.000 ton per tahun. Dengan konsumsi telur 8,19 kg per kapita per tahun. “Data dari karantina ada 12.000 ton per tahun. Stok tersebut 60% dari peternak lokal, sedangkan 40% nya masih datangkan dari Surabaya dan Sulawesi,” urai Zamroni.

 

Dia berharap dengan kebutuhan daging unggas yang cukup tinggi untuk menghasilkan produk daging ayam yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) sudah semestinya di Kaltim perlu adanya Rumah Potong Ayam (RPA) berskala besar, sehingga produk olahannya bisa bersaing dengan produk dari luar Kaltim bahkan bisa ekspor ke luar negeri. Sayangnya, di Kaltim sampai dengan tahun 2020 belum juga ada RPA berskala besar.

 

“Akibatnya ayam beku untuk memenuhi konsumen catering, restoran, hotel masih mendatangkan dari luar Kaltim,” sesalnya.

 

Ia kemudian berpesan kepada para pengusaha lokal, peternak Kaltim harus lebih optimis untuk mengembangkan usaha ayam pedaging dan ayam petelur terlebih 5 tahun kedepan Kaltim akan kedatangan puluhan ribu Aparatur Sipil Negara (ASN) seiring proses kepindahan ibu kota ke Kaltim.

 

Biosekuriti Sangat Penting

Yunita Widayati, Fasilitator Nasional Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan mengakui bahwa penerapan biosekuriti pada peternakan akan berdampak pada peningkatan produktivitas ternak unggas.

 

Biosekuriti diartikan sebagai perlindungan atau keamanan yang secara sederhana meliputi semua yang masuk kedalam lokasi peternakan yang harus diamankan, dibersihkan dan juga disucihamakan semaksimal mungkin dengan cara yang baik.

 

Lalu ia memberikan contoh akibat biosekuriti yang kurang baik yaitu pada tertularnya flu burung kepada manusia. Diawali penularan dari unggas yang sakit ke unggas yang sehat baik itu secara langsung maupun tak langsung. Akibatnya ayam yang mati terkena virus akan menularkan virus tersebut melalui kotoran, leleran atau pun darahnya. “Efeknya daging yang berada pada lingkungan yang tercemar virus flu burung akan menginfeksi manusia jika daging ayam itu dikonsumsi apalagi bagi orang yang sedang sakit, manula dan pada balita akan sangat rentan terpapar virus blu burung,” ujarnya.

 

Transmisi penyakit bisa dipengaruhi melalui 3 aspek yaitu orang, barang dan hewan. Pada orang meliputi pekerja, keluarga, pemilik, pembeli, serta Technical Sales (TS) baik itu pakan, obat, atau pun TS ayam umur sehari (DOC). Berikutnya pada barang meliputi egg tray/ peti telur, alas kaki, baju sedangkan pada hewan melalui ayam itu sendiri.

 

Kondisi itu akan menjadikan prinsip biosekuriti sangat penting dalam mencegah tertularnya penyakit sekaligus mencegah kuman penyakit. “Sehingga hal-hal seperti isolasi, kontrol lalu lintas, serta cleaning and desinfeksi sangat dianjurkan dan dilakukan secara benar,” ujarnya.

 

Menurutnya, upaya untuk mencegah kuman penyakit baik itu yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur dan parasit yang masuk menginfeksi ternak dengan tiga tahapan perlakuan di peternakan yaitu dengan konsep biosekuriti 3 zona.

 

Pertama zona hijau (area bersih) yaitu hanya pekerja yang ditugaskan dan sudah berganti pakain dan alas kaki zona hijau yang boleh masuk. Hanya peralatan penting yang boleh masuk serta tidak ada pengunjung yang boleh masuk. Juga egg tray/ kotak telur dari luar tidak boleh masuk. “Lalu sekali masuk, kendaraan tidak boleh keluar lagi,” tegasnya.

 

Kedua, zona kuning (area perantara/buffer) yaitu area antara dunia luar yang kotor (merah) dan area bersih tempat ayam hidup (hijau). Di dalamnya terdapat akses terbatas hanya bagi kendaraan atau peralatan yang diperlukan. Juga hanya orang yang sudah mandi dan berganti pakaian dan alas kaki zona kuning yang boleh masuk serta tak ketinggalan lokasi penyimpanan egg tray sudah bersih dan kering.

 

Ketiga, zona merah (area kotor) yaitu seluruh bagian di luar peternakan adalah kotor, penuh dengan virus dan bakteri yang ingin membunuh ayam serta lokasi yang digunakan dalam penerimaan dan pembersihan egg tray.

 

Lanjut dia, pembagian 3 zona tersebut yaitu zona merah pada parkir kendaraan, sanitasi kendaraan masuk, sanitasi box dan rak telur, ganti alas kaki, dan kantor. Sedangkan zona kuning meliputi ganti sandal, sanitasi pengunjung (mandi), ganti baju, tempat loading barang, juga tempat box dan rak telur yang bersih. Terakhir zona hijau diperuntukkan hanya pekerja kandang dengan menggunakan alas kaki khusus di kandang. Tak ketinggalan perlatan khusus dan kendaraan khusus di kandang.

 

Harapannya dengan adanya biosekuriti yang benar akan menghindarkan ayam dari penyakit, produksi stabil, jaminan produk hasil ternak, serta menimbulkan keamanan dan kenyamanan lingkungan sekitar kandang. “Nantinya peternak mampu meningkatkan penghasilannya berupa uang,” tuturnya. ed/zul

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain