Selasa, 1 Desember 2020

La Nina vs Jagung Lokal

La Nina vs Jagung Lokal

Foto: USDA dikutip Budi Tangendjaja, 2020
Peta Curah Hujan Global dan Indonesia Terdampak La Nina

Fenomena alam ini mengancam terganggunya pasokan jagung tidak terkecuali bagi peternak layer. Apalagi stok jagung untuk bahan baku pakan GPMT sudah menipis, bahkan diperkirakan tinggal tersisa untuk 2 bulan  
 
 
Musim hujan ekstrem basah sebagai manifestasi fenomena alam la nina mengancam kualitas jagung lokal, yang menjadi tulang punggung industri layer (ayam ras petelur) nasional yang membuat ransum sendiri (self mixing). Apalagi porsi jagung dalam pakan mencapai 50 % dari formulasi. 
 
 
Budi Tangendjaja, Technical Consultant United States Soybean Exporter Council (USSEC) SE ASIA pada seminar daring MIMBAR TROBOS Livestock The Series 8 – Perunggasan bertajuk “Kontinuitas Pasokan Jagung untuk Peternak Layer” Kamis (26/11) menjelaskan kondisi mendung sepanjang hari, angin kencang, dan hujan yang diprediksi terjadi pada penghujan ini akan membuat jagung sulit untuk dikeringkan. Sebab, petani jagung masih mengandalkan matahari untuk mengeringkan jagungnya.
 
 
Selain Budi, pada MIMBAR yang disponsori oleh PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk; Perkasa Group; dan Indolivestock 2021 ini tampil pula sebagai pembicara Rofi Yasifun (peternak layer, Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) dan Sekretaris Koperasi Putera (Peternak Unggas Sejahtera) Blitar Jawa Timur; Musbar Mesdi (Presiden Forum PLN (Peternak Layer Nasional)); Tony Kristianto Juwono (Ketua Dewan Jagung Nasional); Audi Joinaldy (Chairman Perkasa Group dan Lintas Agro Group); serta Makmun (Direktur Pakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian).
 
 
Menurut profesor riset bidang nutrisi dan pakan ternak ini, pada musim penghujan biasanya jagung tidak bisa disimpan lama. Dia pun menghimbau peternak harus mengoreksi atau menyesuaikan formula pakannya agar kandungan nutrisi ransum tetap sesuai dengan kebutuhan ayam petelur. 
 
 
Maka, Budi menyebutkan harus ada perlakuan jagung pakan layer di tingkat peternak dan di tingkat petani. Pada jagung berkadar air 16 – 18 % jamur Aspergillus flavus sangat mudah berkembang. Kadar air harus diturunkan secepat mungkin ke 14 % sehingga water activity 0,65 agar jamur tidak berkembang. “Untuk mengatasi aflatoksin yang terlanjur ada di jagung, peternak bisa menggunakan toksin binder, tetapi harus jeli mencari produk binder yang benar-benar efektif mengikat racun jamur. Harus dibuktikan, mana yang bisa mengikat toksin mana yang tidak,” ujarnya. Jika dibiarkan tanpa penanganan, atau toksin binder tidak efektif, aflatoksin akan menekan kekebalan ayam (imunosupresi) sehingga ayam mudah terkena penyakit, dan kemudian produksi telur pun turun.
 
 
Hampir bisa dipastikan, dia menegaskan, tiap penghujan cemaran aflatoksin meningkat jumlahnya. “Di petani jelas perlu dryer (pengering jagung). Tapi investasi dryer juga berat karena hanya akan dipakai efektif selama 2 bulan panen musim basah saja tiap tahunnya. Ini juga harus dicarikan solusinya,” urai dia.
 
 
Toni Kristianto menyatakan sepanjang 2020 pasokan jagung sejuk, tak ada harga yang mengagetkan. “Tapi hati-hati, suasana tenang bisa tiba-tiba datang badai besar. Sudah diberi peringatan, tibanya la nina, produksi bisa terhalang,” ujarnya. Sebanyak 40 – 50 % produksi jagung nasional dipanen pada kuartal pertama, bertepatan dengan penghujan. Ditambah panen pada kuartal kedua, total produksi bisa 85 % dari keseluruhan produksi selama setahun. Dia memprediksi, sesuai karakter la nina pada kuartal pertama 2021 cuaca mendung terus, sehingga petani tidak bisa mengeringkan jagung. Apalagi mengharapkan sampai kadar air 15 %, bahkan untuk mengeringkan hingga kadar air 17 % pun akan susah. Kualitas panen pun menjadi jelek, terlebih dipastikan jagung dipipil pada kondisi basah.
 
 
Toni menyampaikan usulan solusi bagi petani yang memanen jagung saat penghujan namun tidak bisa mengeringkan. Jagung dengan kadar air 20 – 25 % bisa dipipil terlebih dahulu. Agar tidak tumbuh jamur saat menunggu sinar matahari atau antrian mesin pengering, jagung dimasukkan dalam karung hermetic yang kedap udara. “Tidak perlu khawatir, dalam kantong hermetic jagung tidak akan ditumbuhi jamur. Bahkan jika disimpan satu bulan,” ungkap dia.
 
 
Impor dan Stok Nasional
“Pasokan air untuk lahan juga ada, tetapi terlalu banyak, sehingga kerusakan tanaman maupun hasil panen tinggi. Harga jagung berpotensi akan naik, impor bisa membayangi pada 2021 nanti. Namun saya tidak bisa prediksi kondisi jagung sampai akhir tahun 2021,” Toni menjelaskan. Dia melanjutkan, stok jagung pakan sudah menipis, bahkan diperkirakan tinggal tersisa untuk 2 bulan, di GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak). Maka jika tidak ada panen signifikan pada Desember 2020 dan Januari 2021, pada Februari harga diprediksi bisa meradang sampai Rp 5.000 per kg.
 
 
Toni memastikan pasca panen akan kedodoran, dryer di tingkat petani/gapoktan tidak menolong kualitas jagung nasional pada la nina karena jangkauannya masih di bawah 10 %. Selain itu, rentan terjadi pula perebutan lahan antar komoditas pertanian, karena semua mau menanam, bahkan produksi padi juga pasti akan digenjot. “Jadi, pada 2021 sangat sulit mengharapkan luasan panen jagung akan berkembang. Pada musim hujan semua komoditas berlomba,” dia menuturkan.
 
 
Senada dengan Toni, Musbar Mesdi memberikan lampu kuning harga jagung sepanjang Januari sampai Maret tahun depan. “Bagaimana kita menjaga agar biaya pakan layer tidak naik, maka kita harap buka impor seperti tahun lalu. Tapi jangan terlambat, karena pengirimannya butuh waktu sampai 2 bulan,” tandasnya. Walaupun, blak-blakan dia menyatakan sulit untuk mengharapkan impor jagung ini, karena kebijakan pemerintah.
 
 
Diterangkannya, harga jagung sekarang di Lampung Rp 4.200 per kg, apakah tahun depan bisa mencapai Rp 5.000 per kg. Itu bisa terjadi kalau terlambat impor. “Tetapi akan kita usahakan agar tidak terjadi, berkoordinasi dengan Dirjen Tanaman Pangan dan Direktorat Pakan. Setiap bulan Januari sampai Maret harga jagung naik itu sudah kebiasaan setiap awal tahun. Seharusnya Kemenko Perekonomian sudah paham itu, terlebih pada masa resesi ini kita harus menjaga agar biaya pakan sebagai komponen biaya produksi telur tidak naik,” dia mengungkapkan.
 
 
Toni menyuarakan kembali perlunya stok jagung nasional. “Perlu diputuskan siapa yang menjadi stockist jagung nasional, jumlahnya berapa dan permodalannya bagaimana. Tapi usulan ini belum ditanggapi serius oleh pemerintah,” ujarnya. Dia memberikan contoh pada komoditas beras, pemerintah menunjuk Bulog sebagai pemegang stok nasional. Saat terjadi kekurangan atau harga di pasar naik, maka Bulog mengeluarkan cadangan berasnya. Seharusnya demikian pula pada jagung, Bulog bisa menjadi pemegang stok nasional yang harus selalu siap dimobilisasi kapan saja diperlukan.
 
 
Toni mewanti-wanti pemerintah jangan sampai terlambat memberi izin impor jagung, menunggu sampai gaduh dan harga meledak hingga Rp 7.000 per kg. Dia pun mengusulkan agar pada kondisi memaksa untuk mengimpor jagung, maka koperasi-koperasi peternak layer mandiri seharusnya memiliki kemampuan mengimpor. Selama koperasi peternak tidak memiliki kemampuan mengimpor, maka koperasi korporasi peternak belum akan mampu bersaing dengan perusahaan terintegrasi. 
 
 
“Maka pemerintah kalau memberikan izin impor jagung, seharusnya diberikan ke koperasi peternak lah,” tegas dia. Sebagaimana dituturkan Rofi Yasifun sebelumnya, koperasi beranggotakan peternak layer mandiri riil, yang membeli bahan pakan dan bahkan menjual sebagian telurnya melalui koperasi.
 
 
Budi Tangendjaja mengusulkan, perlu data supply – demand yang akurat tentang ketersediaan stok jagung nasional, bukan saja tiap bulan namun tiap pekan. Karena kebutuhan jagung oleh peternak layer dan pabrik pakan itu volumenya cenderung tetap, maka sebenarnya terbaca kebutuhannya jika dibandingkan dengan stok mingguan dan prediksi stok ke depan. Dari kedua data itu muncul stock to use ratio. “Setiap kali stock to use ratio ini terbaca atau diprediksi angkanya rendah, maka saat itu harus segera diantisipasi dengan mengimpor. Impor tidak bisa dilakukan mendadak, kalaupun impor ke Thailand, perlu waktu 2 pekan. Kalau sampai harus ke AS (Amerika Serikat) atau Argentina, perlu waktu 2 bulan, sehingga pasti terlambat padahal ayam perlu makan tiap hari. Kalau tidak dibuat, maka setiap akhir tahun sampai awal tahun akan terulang lagi kejadiannya,” tutur dia.
 
 
Produktivitas Meningkat ?
Saat ini petani jagung bisa 2 kali tanam jagung stiap tahun. Selain itu bibit premium sudah banyak beredar sehingga produktivitas lahan bisa dikerek hingga 7-8 ton per ha. “Kebijakan tentang harga jagung itu dulu ditetapkan saat produktivitas jagung 3-4 ton per ha. Sehingga sekarang kalau harga turun petani tak terlalu terasa, dan mereka pun sangat bersemangat untuk produksi jagung,” ujar Musbar Mesdi.
 
 
Menurut Musbar, musim tanam tahun depan akan banyak digunakan jagung hibrida, sehingga pupuknya harus tepat waktu. Musim tanam bersama juga perlu dicanangkan di awal penghujan karena akan menghemat air.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 255/Desember 2020
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain