Selasa, 1 Desember 2020

Perkuat Stok Lokal, Tak Tabu Jagung Global

Perkuat Stok Lokal, Tak Tabu Jagung Global

Foto: Sumber : USDA dikutip Budi Tangendjaja, 2020


Memperkuat stok lokal, tak lain adalah meningkatkan produksi, produktivitas dan kualitas jagung nasional. Kualitas jagung bukan hanya menentukan harga, namun juga menentukan lamanya daya simpan dan seberapa jauh bisa didistribusikan
 
 
Meningkatkan produksi dan produktivitas menjadi tidak sederhana ketika pada musim penghujan terjadi perebutan lahan pertanian antara jagung, padi, tebu, dan tanaman lain. Maka jalan keluarnya adalah bertanam jagung pada musim kering, ekstrem sekalipun dengan dibantu teknologi berspesifikasi precision farming. Sebagaimana dilakukan Audi Joinaldy – pengusaha peternakan milenial di Lombok Utara Nusa Tenggara Barat, menanam jagung dengan sistem irigasi tetes berteknologi 4.0, satu-satunya di Indonesia. Pilot project atas nama Lintas Agro Group itu berada di lahan 200 ha. Uji coba ini melibatkan petani. Lahan mitra yang kecil-kecil dijadikan satu. Sudah panen 1 kali, dengan produktivitas 10-11 ton per ha.
 
 
Precision farming beririgasi tetes itu diperkirakannya bisa menghasilkan 3 kali panen dari 3 kali penanaman pertahun. “Syaratnya harus tersedia embung atau bendung di dekat lahan. Tetapi keuntungannya sangat banyak, jumlah air dan pupuk bisa presisi sehingga lebih hemat, jarak tanam bisa semakin dekat. Nutrisi yang diserap pohon jagung juga sama sehingga hasil sangat tinggi dan seragam,” dia menguraikan. Metode ini dia kembangkan untuk menggandeng petani jagung yang telah beralih menanam jagung karena harga jagung membaik. Namun semangat mereka terkendala oleh realita pada musim kemarau, kekeringan cenderung ekstrem. 
 
 
Menurut dia, Nusa Tenggara Barat tercatat sebagai peringkat kelima daerah penghasil jagung utama nasional, justru tidak memiliki populasi ayam layer signifikan. Nilai tambah dari jagung NTB justru dinikmati daerah lain seperti Bali. Mereka membeli jagung, dan mengirimkannya kembali dalam bentuk telur ayam ras, antara 600 ribu – 1 juta butir per hari. “Maka kami diajak oleh Pemprov NTB untuk membuat program swasembada telur. Langkah awal, dikembangkan 150 ribu ekor layer di Sumbawa dan 200 ribu ekor di Lombok,” jelas Audy. 
 
 
Sustainable Farming
Hal yang sama dituturkan oleh Budi Tangendjaja. “Precision farming, pupuk dan air harus diberikan secara tepat ke tanaman, jelas sangat irit untuk menghemat biaya namun menaikkan produktivitas. Di Indonesia pemupukan masih disebar saja di dekat tanaman. Barangkali disebabkan di sini pupuk murah karena disubsidi. Saya usul agar petani jagung Indonesia melakukan pertanian berkelanjutan ini. Pertanian di Amerika Serikat (AS) banyak yang tadah hujan. Tapi mereka bisa mengirit air dan bisa menyimpan air. Cara itu bisa mengurangi pestisida sampai 95 %,” dia menuturkan. 
 
 
Melanjutkan keterangannya, produksi jagung petani AS mencapai 11 ton per ha. Tidak ada lahan yang digali untuk membuat bedengan, namun limbah sisa panen ditumpuk di atas lahan untuk mengurangi erosi. Cara ini mengurangi volume pekerjaan pengolahan lahan hingga 70 %, mengurangi pupuk sampai 92 %. Setelah itu tanaman diganti berselang-seling dengan kedelai. 
 
 
Dengan sistem pertanian lestari, pertanian di AS bisa menguntungkan dan terus berlanjut turun temurun sampai generasi ke-4. Mereka juga melaksanakan pergantian tanaman, jagung dirotasi dengan kedelai. Produktivitas tetap tinggi, karena lahan pertanian disisihkan 10 % dari luasan untuk konservasi. Beberapa aspek manajemen budidaya jagung telah dilakukan dengan drone dan pemetaan produktivitas panen menggunakan satelit.
 
 
Dituturkan Budi, sustainable farming dilakukan untuk menjaga keseimbangan lingkungan sambil tetap mengejar kenaikan produksi. Pada luasan lahan yang sama atau bahkan semakin berkurang, pertanian termasuk produksi bahan pakan ternak harus menghasilkan 2x lipat hasil panenan saat ini. 
 
 
Logistik Jagung
Budi Tangendjaja menyatakan logistik/distribusi di seluruh Indonesia harus dibenahi, agar lebih pendek jalur dari petani, pelabuhan dan ke peternak layer atau pabrik pakan. Jangan lagi di masa mendatang masih terus terjadi jagung lebih mudah mendatangkan jagung global daripada jagung lokal dari lain pulau karena ongkos logistik. Saya baca informasi, membawa jagung dari Papua (Kabupaten Keerom) ke Blitar sebanyak 15 ton. “Kita tidak tahu itu ongkosnya berapa. Tapi, kalau melihat ongkos logistik dari Sulawesi ke Jawa Timur saja sudah Rp 7 juta per kontainer 20 ton, atau Rp 350 per kg,” ungkapnya. 
 
 
Selain itu, membawa jagung dari NTB ke Jawa, seringkali dihadapkan pada pilihan sulit. Kalau dikirim dengan truk itu sangat mahal, sedangkan pengiriman dengan kapal saat penghujan, rawan ombak dan badai. Budi mengusulkan untuk menghidupkan kembali distribusi logistik paling murah, yaitu melalui sungai. “Banyak negara menggunakan sungai untuk distribusi logistik, seperti AS dan Vietnam. Semua pengangkutan pakan di delta sungai Mekong melalui sungai. Ongkosnya bisa hanya USD 12-15 per ton, tidak sampai Rp 200 per kg,” ujarnya.
 
 
Musbar Mesdi menyatakan, secara umum logistik di Indonesia itu marginnya masih 20 %, jauh di atas Filipina yang hanya 13 %. Penyebabnya, masih belum terkoordinasi antara Kementerian Perhubungan khususnya Ditjen Perhubungan Laut (Ditjen Hubla) dengan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian. Padahal, pada rakor di Ditjen Hubla disebutkan bahwa transportasi laut antar pulau dari luar Jawa ke Jawa itu istilahnya adalah “balen” atau perjalanan pulang dari daerah tujuan ekspedisi ke pelabuhan asal. 
 
 
“Itu ada diskon 40 % sebenarnya. Namun mengapa pelaku industri pangan tidak mengetahuinya, artinya pemerintah abai dalam menyosialisasikan,” tegasnya. Menanggapi kasus transportasi logistik darat dari Sulawesi Tengah ke Maros saja tembus Rp 1.500 per kg ongkosnya, menurut Musbar, maka jelas ada masalah semisal kekurangan truk di sana.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 255/Desember 2020
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain