Jumat, 1 Januari 2021

Membaca Peta Penyakit Unggas 2021

Membaca Peta Penyakit Unggas 2021

Foto: ramdan


Jangan lagi kebobolan penyakit di farm, nampaknya harus menjadi resolusi memasuki 2021. Meningkatkan lagi kewaspadaan karena beberapa jenis penyakit varian baru sudah terdeteksi di negara tetangga
 
 
Sejak penghujung akhir 2020, peternak broiler (ayam pedaging) dan layer (ayam petelur) tentu sudah melakukan evaluasi. Seleksi berkelanjutan menghasilkan ayam ras modern, dengan konsekuensi tingkat stres semakin tinggi yang meningkatkan risiko infeksi penyakit di farm (peternakan).
 
 
Hal itu terungkap pada seminar daring MIMBAR TROBOS Livestock The Series 9 – Obat Hewan dengan topik “Tren Penyakit Unggas 2021 dan Antisipasinya” yang disiapkan oleh TComm (TROBOS Communication) dan disiarkan secara langsung di kanal Youtube Agristrem TV pada Kamis (17/12). Acara yang sponsori oleh PT Boehringer Ingelheim Indonesia; PT Ceva Animal Health Indonesia; PT Eka Farma; serta PT Medion Farma Jaya ini dipandu oleh Yopi Safari – Pemimpin Redaksi majalah TROBOS Livestock yang menghadirkan Titis Wahyudianto Technical Service Manager – Poultry PT Boehringer Ingelheim Indonesia; Ignatia Tiksa Nurindra – Veterinary Service Coordinator PT Ceva Animal Health Indonesia, dan Hanin Fadlailul Lintar – Technical Education and Consultation PT Medion Farma Jaya. 
 
 
Titis Wahyudianto menjelaskan, penyakit viral dan bakterial yang berpotensi menyerang unggas layer maupun broiler di 2021 diperkirakan masih sama dengan jenis penyakit yang menyerang di 2020. Untuk penyakit viral diantaranya infectious bursal disease (IBD), newcastle disease (ND), avian influenza (AI), incusion body hepatitis (IBH) dan infectious bronchitis (IB). Sedangkan penyakit bakterial adalah coryza, complex respiratory disease (CRD), necrotic enteritis (NE), dan colibasilosis.
 
 
“Investigasi kami selama 3 bulan terakhir, Oktober, November dan Desember dari timkami, selesai minggu lalu. IBD masih didominasi, khususnya vvIBD. Spesimen sudah kami kirim ke laboratorium GD di Jerman, mereka menamakan isolat 757 Indonesia. Serangan vvIBD ini betul-betul membuat bursa rusak,” ungkapnya. 
 
 
Dia menuturkan telah masuk virus IBD varian di Asia Tenggara, sehingga harus diwaspadai dan dicegah agar tidak sampai masuk ke Indonesia. “Saya belum pernah menemukan, tapi di Malaysia sudah dilaporkan ada. IBD varian ini tidak menimbulkan gejala, tetapi performa produksi turun terutama pada broiler. Penyakit ini bersifat imunosuresif, sehingga vaksinasi apapun menjadi tidak berhasil, tidak sebagus yang diharapkan,”  tutur dia. 
 
 
Ignatia Tiksa Nurindra berpendapat strain virus vvIBD yang ada di Indonesia sepanjang 2020 masih belum berubah, artinya masih akan mengancam pada 2021. Pada broiler angka kematian akibat IBD bisa 5-10 %, ditandai dengan kerusakan bursal cukup parah. Pada layer ditengarai lebih sensitif sehingga kematian akan lebih besar daripada di broiler. 
 
 
Titis menyoroti kondisi yang dia temukan di kandang pullet yang sebelumnya outbreak AI H9N2. Dia menemukan pada kandang yang kosong itu banyak burung liar. “Burung gereja mati di dekat kandang pullet, fisik burung ini tidak ada perdarahan dan tidak ada luka terbuka. Peternak unggas layer maupun broiler harus waspada kalau kandangnya ada burung liar seperti ini. Meskipun kami tidak memeriksa burung itu ke lab, tetapi burung liar ini sudah dikenal sebagai vektor pembawa virus AI. Sebagus apapun program vaksinasi kalau ada vektor dari luar maka tidak akan efektif,” tandas Titis. 
 
 
Tiksa mengatakan virus ND masih akan menjadi ancaman di 2021, mengingat sepanjang 2020 virus ND mengancam kematian sangat tinggi. Pada broiler bisa mencapai 50 %, pada layer produksi akan mengganggu produksi telur secara signifikan dan cepat. “Pada layer biasanya infeksi tidak sendirian, bisa dengan AI H9 atau bisa dengan IB,” ujarnya.
 
 
Titis menggarisbawahi keunikan virus ND, yang berbeda-beda subtipe dan patotipe namun masih termasuk satu serotipe, dan satu protektotipe. “Sehingga vaksin ND yang ada saat ini masih bisa mengatasi, yang penting untuk mengatasi tantangan virus ND yang velogenik itu kita menggunakan kombinasi untuk membangun kekebalan lokal kemudian dikombinasikan dengan upaya membangun kekebalan sistemik,” dia menguraikan.  
 
 
Diantaranya menumbuhkan cell mediated immunity (CMI) berupa respons kekebalan awal terhadap virus ND pada limpa, darah dan gut-associated lymphoid tissue (GALT), dengan vaksinasi ND live dan dikombinasikan dengan vaksin ND killed. Vaksin ND melalui tetes mata atau spray akan menggertak kekebalan lokal yang terdiri dari IgA, IgM, dan IgY terutama yang ada di kelenjar hardenian di sekitar mata, selaput saluran pernapasan atas dan usus. 
 
 
Kekebalan humoral, lanjut Titis, juga penting untuk dibangun, diinduksi melalui vaksin killed. Disamping kekebalan maternal derived antibody (MDA) yang diperoleh ayam dari induknya. “Kombinasi vaksin ND live dan killed itu sangat diperlukan karena kekebalan lokal yang diberikan melalui vaksinasi spray dan tetes mata itu sama sekali tidak tergantung dari kekebalan humoral,” terangnya. 
 
 
Dijelaskannya, untuk mencapai akurasi diagnosa yang tinggi tidak cukup hanya mengandalkan pada titer HI, tetapi juga memeriksa sampel dengan polymerase chain reaction (PCR). “Kita memiliki stok FTA card (kertas filter khusus untuk koleksi sampel sebelum diperiksa dengan PCR) dan kemudian dikirim ke lab luar negeri,” ungkapnya. 
 
 
Blak-blakan, Titis mengungkapkan fakta yang cukup menggemaskan. Sejak 2 tahun yang lalu sudah diketahui eksistensi virus IBH di Indonesia. Namun sampai sekarang pemerintah belum mau mengakuinya, apalagi sampai mengizinkan peredaran vaksin untuk vaksinasi penyakit itu. Sehingga Titis hanya bisa menyarankan kepada peternak untuk mewaspadai, meningkatkan biosekuriti. Bagi peternak yang sudah terlanjur ayamnya terpapar, bisa memberikan terapi suportif berupa vitamin dan hepatoprotektor untuk meningkatkan ketahanan tubuh ayamnya.
 
 
“Pada Desember ini, morbiditas IBH mencapai 20-30 %, bahkan bisa sampai 90 %. Organ hati yang kena, padahal organ itu menjadi tempat detoksifikasi racun. Tadinya kita ragu juga apakah benar itu serangan IBH, tetapi setelah dilakukan nekropsi dan kirim sampel ke lab, kita jadi yakin,” tandas dia. 
 
 
Titis memeriksakan sampel ke 3 lab, semua mengkonfirmasi positif adenovirus menyebab IBH. Hasil diagnosa lab Universiti Putra Malaysia bahkan lebih spesifik, melalui sekuensing dapat ditentukan virus IBH yang menyerang jenisnya Fadv E/8b. “Melalui hasil laporan ini mudah-mudahan pemerintah segera merespons, agar vaksinasi IBH segera bisa dilegalkan,” dia berharap.
 
 
Menjelaskan tentang IB varian, Titis mengatakan penyakit ini menyerang semua umur. Paling parah jika ayam terserang IB pada pekan pertama atau di bawah 4 pekan, maka akan termanifestasi pada saat bertelur. Jenggernya tumbuh tapi ayam tidak mampu bertelur, ternyata saat dibedah oviduk bisa terlihat  membesar. Kasus parah pada layer, bisa ada “balon air” berdiameter 5-10 cm. Bahkan menurutnya pernah ditemui ada yang volumenya hingga satu liter, sehingga ayam terlihat tegak dan napas terganggu. 
 
 
Ayam petelur yang terserang IB sampai separah itu, kata dia, masih bisa ovulasi. Tapi karena ada sumbatan berupa “balon air” yang menggencet telur dalam oviduct, maka telur tidak bisa keluar. Pada serangan pada umur yang lebih tua, gangguan dan kerusakan pada oviduct akan terlihat pada bentuk telur yang benjol, tidak merata. Serangan IB bisa disertai nefritis yang menyebabkan gagal ginjal, sehingga menyebabkan angka kematian tinggi. 
 
 
Infeksi IB pada layer masa produksi memperlihatkan gejala oviduct lebih membesar, tetapi ovarium masih aktif. Sehingga sering kali ditemukan telur yang sudah berkerabang masuk ke dalam rongga perut karena oviduct terbendung cairan. 
 
 
Pemeriksaan sampel yang dilakukan Boehringer Ingelheim Indonesia ke lab GD pada 24 November 2020, masih ditemukan penyakit IB varian yang memiliki kemiripan hampir 95 % dengan varian Qx/D388. 
 
 
Ada juga peringatan kewaspadaan, pada akhir 2020 ini ditemukan 1 ekor layer di Filipina dan 4 ekor broiler di Vietnam yang terserang virus dengan ciri-ciri mendekati IB varian Q1. Gejala yang harus diwaspadai adalah pembengkakan ginjal, proventrikulitis, dan tentunya gejala sakit pernapasan, kemudian pada pemeriksaan lab positif IB namun negatif AI dan ND. 
 
 
“Selama ini pemeriksaan atas sampel positif IB di Asia Tenggara selalu hasilnya mengarah ke Qx atau near Qx, namun kali ini berbeda karena mengarah ke Q1. Peternak dan pemangku kepentingan perunggasan di Indonesia harus mewaspadai ini agar di 2021 jangan sampai IB varian Q1 masuk ke Indonesia,” dia menegaskan. 
 
 
Senada dengan Titis, Tiksa menjelaskan IB varian Qx dan Malaysian varian paling sering ditemukan di Indonesia. Selain mengganggu pernapasan juga menimbulkan toxicity pada ginjal, sehingga sangat bengkak. Maka pada penyakit pernapasan yang disertai pembengkakan ginjal, kita curiga itu IB,” ungkapnya.
 
 
Menyiasati Maternal Antibodi
Ignatia Tiksa Nurindra menyoroti 3 penyakit utama pada layer maupun broiler di 2020 yang harus diwaspadai kembali tahun depan yaitu ND, IBD dan IB. Kasus ND pada layer lebih tinggi prevalensinya dibandingkan pada broiler, sepanjang 2020. “Kami akan menyoroti bagaimana vaksinasi tidak efektif, salah satu sebab utamanya adalah karena vaksin terhambat oleh maternal antibodi (MAB),” kata dia. 
 
 
Merujuk pada riset yang dilakukan oleh perusahaannya, pada anak ayam yang tidak punya MAB, pasca vaksinasi ND live dihasilkan kekebalan yang semakin tinggi dan stabil. Sedangkan pada ayam yang memiliki MAB tinggi, justru vaksinasi justru gagal menghasilkan kekebalan yang tinggi, bahkan terlihat akan cenderung drop meski pada awalnya grafiknya naik.
 
 
Begitu pula pada ayam yang divaksin dengan vaksin ND killed. Karakteristik vaksin killed adalah kekebalan terinduksi dalam jangka waktu lama, dan sayangnya juga tidak efektif pada anak ayam yang memiliki MAB tinggi. ”Breeding farm memberikan vaksinasi ND yang bagus bagi induk, sehingga final stock-nya akan memiliki MAB yang bagus. Tapi ini justru mengganggu pembentukan kekebalan dari vaksin konvensional,” ungkapnya.
 
 
Vaksinasi menggunakan vaksin live konvensional, menurut Tiksa, akan menimbulkan gangguan pernapasan sebagai reaksi pasca vaksinasi (RPV). Selain itu, akan menimbulkan shedding virus sehingga meningkatkan risiko penularan pada ayam lain dan meningkatkan eksistensi virus di farm. “Di Indonesia baru tahun lalu ada vektor vaksin ND, di luar negeri sudah 12 tahun. Vaksin ini mampu menghindar dari MAB, karena tidak dikenali oleh antibodi,” dia menjelaskan. 
 
 
Vaksin vektor ND ini hanya memasukkan potongan gen virus ND saja yang disisipkan ke dalam virus HVT – penyebab marek's disease. Sehingga, menurut Tiksa, setelah mendapatkan vaksinasi ayam akan mendapatkan proteksi 2 penyakit sekaligus, ND dan marek's disease. Kecepatan vaksin vektor ND ini menghasilkan kekebalan, berada di antara kecepatan vaksin ND live dan killed. Vaksin vektor ND tak hanya menghasilkan kekebalan humoral seperti pada vaksinasi ND killed, namun juga bisa menghasilkan kekebalan humoral, seluler dan lokal, sebagaimana pada vaksin ND live. “Dengan shedding yang sangat rendah dan tanpa reaksi pasca vaksinasi tentunya,” tandas dia.
 
 
Senada dengan Tiksa, Titis Wahyudianto menyatakan vaksin IBD rekombinan juga akan menggertak kekebalan gumboro pada fase awal tanpa harus terdeteksi oleh maternal antibodi. Karena hanya protein VP2 (viral protein 2)-nya yang dijadikan vaksin. Sehingga vaksin ini sama sekali tidak terinterferensi oleh MAB. Vaksin IBD rekombinan dia yakini lebih cepat membentuk imunitas daripada vaksin IBD biasa maupun IBD immune complex. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 256/Januari 2021
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain