Jumat, 1 Januari 2021

Gebrakan Peternak Layer

Gebrakan Peternak Layer

Foto: ramdan
Penandatangan Prasasti oleh Teten Masduki

Melalui koperasi, keberadaan breeding farm untuk mendorong peternak unggas yang unggul, berdaulat, dan sejahtera
 
 
Setelah diresmikan oleh Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Teten Masduki pada awal September 2020, Koperasi Pinsar Unggas Nasional Sejahtera melakukan gebrakan menjelang akhir 2020 dengan membangun breeding farm Grand Parent Stock (GPS) ayam petelur (layer) di Desa Cinta Mekar, Subang, Jawa Barat pada luas lahan 2 hektar.
 
 
Singgih Januratmoko, Ketua Koperasi Pinsar Unggas Nasional Sejahtera menyampaikan setelah breeding farm ini beroperasi pada awal 2021, maka bisa dibilang telah menorehkan catatan dalam sejarah perunggasan nasional. "Untuk pertama kalinya usaha breeding GPS ayam petelur dijalankan sejumlah peternak yang bergabung dalam wadah koperasi," ungkapnya dalam acara peresmian breeding farm GPS layer Koperasi Pinsar Unggas Nasional Sejahtera, di Kampung Datar, Kawaor, Desa Cinta Mekar Kecamatan Serang Panjang, Kabupaten Subang, Jawa Barat (7/12).
 
 
Selama ini, walaupun usaha peternakan ayam petelur 98 % dijalankan peternak rakyat dan peternak UMKM, namun di sektor hulu yaitu pembibitan GPS yang menghasilkan PS (Parent Stock) masih didominasi perusahaan maupun konglomerasi peternakan yang terintegrasi. Nantinya breeding farm ini akan diisi sebanyak 5.000 ekor GPS yang akan menghasilkan kurang lebih sekitar 290 ribu PS setiap tahunnya. 
 
 
“Dari jumlah tersebut akan menghasilkan sedikitnya 6 juta ekor Final Stock (FS) atau DOC (ayam umur sehari). Hasil produksi tersebut nantinya akan diserap oleh sejumlah koperasi dan UMKM ayam petelur yang berlokasi di Bogor dan Ciamis, Jawa Barat, Lampung, Kendal, Blitar, serta Yogyakarta. Untuk investasi pertama pembangunannya dari iuran anggota koperasi yang berjumlah 20 orang,” papar pria yang juga Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia ini.
 
 
Kemandirian Peternak
Singgih mengemukakan bahwa hadirnya Koperasi Pinsar Unggas Nasional Sejahtera dapat menjadi alternatif dan jawaban untuk kemandirian peternak. Koperasi menjadi harapan untuk meningkatkan kekuatan peternak unggas mandiri yang selama ini terhimpit persaingan menghadapi konglomerasi integrator peternakan.
 
 
“Membentuk koperasi mulai dari primer, sekunder dan induk saat ini sudah keharusan jika peternak mandiri ingin maju menjalankan usahanya. Kami berharap koperasi ini bisa menjadi alternatif bagi industri perunggasan di tanah air,” ujarnya.
 
 
Teten Masduki mendukung penuh langkah strategis dari Koperasi Pinsar Unggas Nasional Sejahtera yang masuk ke usaha pembibitan GPS layer. "Hal ini diharapkan bisa menjadi alternatif dan solusi bagi usaha peternakan ayam yang selama ini dikuasai perusahaan-perusahaan besar. Koperasi Pinsar Unggas Nasional Sejahtera telah mengambil inisatif fundamental. Dengan hadirnya koperasi ini bisa menjawab kebutuhan para peternak mandiri, dan membuat peternak unggas mencapai skala bisnis serta lebih efisien dalam proses produksinya," jelasnya.
 
 
Ia menyatakan, koperasi perunggasan yang masuk ke bisnis hulu, khususnya pembibitan GPS adalah yang pertama kali di Indonesia. Usaha seperti ini sebelumnya dikuasai perusahaan besar maupun perusahaan asing. Selama ini peternak mandiri berjalan sendiri-sendiri, sehingga sudah saatnya untuk bersatu dalam wadah koperasi. “Koperasi Pinsar Unggas Nasional Sejahtera diharapkan bisa menjawab kebutuhan para peternak mandiri, khususnya dalam pengadaan anak ayam," ungkapnya.
 
 
Dia meyakini Koperasi Pinsar Unggas Nasional Sejahtera ini bisa menjadi sentra peternakan ayam dan telur. Apalagi, wilayah Subang dekat dengan Jabodetabek (Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi) yang merupakan pangsa pasar terbesar akan kebutuhan ayam dan telur. 
 
 
Teten bertekad tidak akan membiarkan para peternak kecil atau petani berlahan sempit, berjalan sendiri-sendiri. Sudah saatnya peternak atau petani bergabung dalam kelembagaan koperasi agar usahanya bisa masuk skala ekonomi. "Koperasi bisa menjadi offtaker yang akan berhubungan dengan pasar. Bahkan, pembiayaan di sisi hulu akan lebih mudah karena ada kepastian pembelian produk. Selama ini perbankan menganggap ini sebagai pembiayaan berisiko," ucapnya.
 
 
Di samping itu, Teten menginginkan para peternak masuk ke dalam alur sirkuit ekonomi. Dimana para peternak tidak hanya mendapatkan keuntungan dari sisi budidaya saja. "Dengan menjadi anggota koperasi, mereka juga bisa mendapat keuntungan lain dari segala proses ekonomi yang terjadi dari hulu hingga hilir," urainya.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 256/Januari 2021

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain