Jumat, 1 Januari 2021

Antonius Sigit Pambudi: Arah Hilirisasi Produk Perunggasan

Antonius Sigit Pambudi: Arah Hilirisasi Produk Perunggasan

Foto: dok. trobos
Antonius Sigit Pambudi

Industri broiler (ayam pedaging) tak bisa terpisah dari peran RPA (Rumah Potong Ayam) dalam membantu mengolah dan menyediakan produk mumpuni bagi masyarakat. Namun, pandemi virus corona (Covid-19) yang sudah sembilan bulan mengoyak sektor ekonomi dan bisnis, juga sedikit banyak mempengaruhi situasi bisnis RPA saat ini.
 
 
Namun sebelum menilik lebih jauh tentang situasi RPA, hal awal yang harus dicermati adalah gambaran kapasitas produksi dari 45 perusahaan integrasi di bawah naungan Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (Arphuin). Kini, produksi pemotongan broiler yang dihasilkan di RPA adalah 2 juta ekor per hari. Dapat dibayangkan, dalam kurun waktu 6 hari kerja produksi yang mampu diciptakan perusahaan-perusahaan tersebut mencapai angka 12 juta ekor per minggu. Apabila dibandingkan dengan sebaran atau banyaknya jumlah DOC (ayam umur sehari) yang mencapai 60 juta ekor per minggu, ARPHUIN jelas memproses broiler di RPA sebanyak 20 % saja dari total produksi nasional.
 
 
Selama ini, RPA dianggap sebagai salah satu bagian atau organ yang berfungsi menstabilkan harga. Rasanya, 20 % ayam yang telah dikelola Arphuin tersebut masih belum mampu untuk membuat harga konstan. Kemudian, cara yang dapat ditempuh adalah dengan melibatkan lini pasar tradisional, TPA (Tempat Pemotongan Ayam) lokal, dan TPA tradisional dalam pengelolaan 80 % produksi broiler nasional. 
 
 
Deretan TPA yang ada di beberapa daerah tersebut harus ditingkatkan mekanisme pengolahannya, kecanggihan mesinnya dan daya tampung atau kapasitasnya. Kemudian, TPA tersebut dibantu menjadi RPA yang memiliki sertifikat NKV (Nomor Kontrol Veteriner). Sudah pasti, kelayakan RPA tersebut akan meroket. 
 
 
Selain TPA lokal dan tradisional, peningkatan kualitas juga sepantasnya dilakukan pada RPA yang sudah ada. Tak hanya meninggikan kapasitas, rencana pembukaan RPA di lokasi baru yang berpotensi juga harus ada. Cara ini rupanya sudah dilaksanakan oleh beberapa anggota Arphuin, terutama perusahaan integrasi.
 
 
Satu kekhawatiran yang hingga saat ini terbesit adalah pembukaan RPA baru. Jika melihat Permentan (Peraturan Menteri Pertanian) Nomor 32 Tahun 2017 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi, pihak asosiasi sebetulnya optimis jika industri peternakan Indonesia akan mudah menciptakan banyak RPA baru. Bila peternak mampu memproduksi minimal 300.000 ekor per minggu dan dapat membuat RPA sendiri, pasti Indonesia akan mengalami modernisasi proses yang lebih besar, dibandingkan saat ini. Tak hanya itu, serapan broiler dibandingkan dengan total broiler nasional diramalkan juga akan meningkat. Ujungnya, tercipta buffer stock karena kuantitas RPA meningkat. 
 
 
Jika hal tersebut terwujud, maka bukan mustahil stabilitas harga akan tercipta. Ketika harga ayam tinggi, RPA bisa mulai ‘bermain’ dengan mengeluarkan ayam sesuai dengan kebutuhan. Dapat pula menempuh jalur promosi, memberikan bantuan kepada masyarakat, melakukan operasi pasar, dan kegiatan lainnya. Ketika harga ayam jatuh, dapat langsung dikuras. Populasi di kandang bisa segera diturunkan, dengan harga dapat kembali terdongkrak. Belum lagi, apabila menjelang perayaan hari besar keagamaan, adanya buffer stock terasa sangat dibutuhkan. 
 
 
Penambahan nilai atau kualitas suatu produk dapat dilakukan apabila memiliki RPA. Produsen juga dapat memperluas inovasi. Dengan kata lain, bukan hanya karkas ayam utuh dalam bentuk beku atau frozen yang dipasarkan, melainkan ayam tanpa tulang (boneless), ayam dalam bentuk potongan (parting), bahkan kulit ayam pun juga dapat dilempar kepada konsumen.
 
 
Dari sisi tingkat konsumsi daging ayam, sayangnya Indonesia masih tergolong sangat rendah. Hanya mengungguli India, namun di bawah negara-negara tetangga lain seperti Malaysia dan Thailand. Tahun 2020 ini, angka konsumsinya ada di bawah 7 kg  per kapita per tahun. Menurut data BPS (Badan Pusat Statistik) tingkat konsumsi dalam negeri tahun ini tepatnya adalah 6,36 kg per kapita per tahun, dan di nilai sangat rendah.
 
 
Adapun kendala yang dirasa sangat mengganjal pihak asosiasi, salah satunya adalah kebiasaan masyarakat yang belum terbiasa untuk mengolah dan mengkonsumsi karkas beku atau frozen. Anggapan yang selama ini beredar, bahwa karkas beku adalah ayam tiren alias ‘mati kemaren’. Harus diakui, hal tersebut memang benar adanya. Proses penyembelihan memang dilakukan pada hari sebelumnya. Namun, wajib digarisbawahi jika karkas beku jauh lebih higienis dibandingkan dengan karkas yang dikonsumsi sesaat setelah ayam disembelih. 
 
 
Karkas beku diperoleh dengan cara menurunkan suhu tubuh ayam menjadi -4 0C, setelah ayam disembelih kemudian diletakkan di dalam drum chiller. Positifnya, bakteri yang ada pada karkas tidak dapat berkembangbiak secara leluasa. Saat masuk ke dalam ruang produksi, suhu juga diatur sangat dingin. Produk dibekukan secara cepat pada flush freezer sebelum berakhir dengan proses penyimpanan di cold storage. Dari deretan proses tersebut, dapat dipastikan bakteri tidak akan bertambah banyak.
 
 
Ketika produk frozen dipindahkan ke suhu ruang (thawing) untuk selanjutnya diolah oleh konsumen, kualitasnya akan tetap sama persis dengan kualitas saat diproses di pabrik. Itulah mengapa, karkas frozen jauh lebih higienis dibandingkan dengan karkas ‘hangat’ yang biasa ditemukan di pasar tradisional.
Melihat kondisi di atas, masih ada peluang sangat besar bagi RPA untuk berkembang. Kalau melirik kondisi tahun lalu, hanya 15 % dari total broiler nasional yang diproses secara modern di RPA. Pada 2020 ini, harapannya bisa meningkat 10 % menjadi 25 %. Tapi, karena Covid-19 terlanjur menyerang maka angan tersebut meleset menjadi hanya 20 %. Harapannya, 2 tahun mendatang total ayam hidup yang diolah di RPA dapat menyentuh angka 60 %. 
 
 
Beralih ke Industri
Situasi saat ini dirasa cukup sulit. Perubahan perilaku konsumen sangat nyata terlihat, terutama sejak Covid-19 mewabah. Saat ini, konsumen sangat mendambakan lokasi berbelanja yang nyaman. Tidak berhenti sampai disitu, rupanya produk dengan harga murah juga masih menjadi incaran efek melemahnya daya beli masyarakat. Sehingga, ketika produsen memberikan promo produk maka akan langsung diserbu. Kemudian, konsumen juga lebih menyenangi produk yang dapat diantarkan langsung ke rumah. Perubahan-perubahan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pihak asosiasi, bagaimana menyediakan semua yang dibutuhkan konsumen saat ini. Terutama, lokasi berbelanja yang dekat dengan masyarakat, bersih, dan aman. 
 
 
Selama ini Arphuin melakukan proses produksi dan segmentasi pelanggan, mulai dari restoran, hotel, katering, hingga industri. Di masa-masa kritis saat pandemi ini, konsumen jarang sekali mengkonsumsi ayam beserta olahannya di restoran. Adanya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dengan aturan jam buka dan tutup restoran demi meminimalisir penyebaran Covid-19, cukup membuat pengusaha restoran kelimpungan. Belum lagi aturan pembatasan pengunjung yang sudah pasti menurunkan pendapatan. Padahal, asosiasi biasa memasok produk ayam ke restoran tersebut. Namun, karena kondisi restoran sedang turun, sudah pasti akan berdampak pula pada kuantitas penjualan asosiasi. 
 
 
Hal seragam juga terjadi pada segmen hotel dan katering. Ditutupnya beberapa tempat wisata dan dilarangnya masyarakat mengadakan pesta sudah barang tentu menjadikan bisnis itu tersumbat aliran pendapatannya. Yang saat ini menjadi harapan hanyalah supermarket. Pasar modern ini notabene merupakan tempat berbelanja yang aman dan nyaman. Hampir seluruh supermarket di Indonesia menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat dengan jaminan suasana belanja yang higienis. Namun, masih banyak para ibu-ibu yang juga masih ragu berbelanja di supermarket. Lagi-lagi dengan alasan keamanan dan takut terpapar virus corona. 
 
 
Segmen industri yang kemudian menjadi tumpuan asosiasi. Masyarakat saat ini lebih menyukai produk olahan ayam seperti bakso, sosis, scallop, dan nugget. Harapannya, asosiasi mampu masuk ke ranah industri untuk mengolah ayam menjadi produk olahan yang digemari masyarakat. Jangan lagi mengandalkan karkas hangat, namun mulai berpijak pada produk olahan ayam.
 
 
Arah Hilirisasi 
Keengganan masyarakat untuk belanja di kawasan ramai seperti supermarket dan pasar tradisional menumbuhkan peluang baru. Pertama adalah pentingnya mendirikan toko daging atau meat shop yang biasanya didirikan di dekat pemukiman. Sehingga, masyarakat merasa nyaman dan aman saat berbelanja. Peluang ini telah dikembangkan oleh peruashaan integrasi anggota Arphuin demi mendekatkan produk, sedekat mungkin dengan masyarakat. 
 
 
Kedua adalah memanfaatkan toko daring (dalam jaringan/online). Peluang ini juga dirasa sangat luar biasa karena efisien dan praktis. Konsumen hanya tinggal memilih produk dan melakukan pembayaran. Metode pembayaran yang tersedia pun sudah modern, yakni menggunakan uang elektronik. Peluang terbesar dalam hilirisasi produk peternakan sebenarnya ada di toko daring ini. 
 
 
Ketiga adalah peluang ekspor yang terasa mudah diucapkan, namun sangat sulit diimplementasikan. Sederet proses yang ada, mulai dari pengurusan dokumen, perizinan, hingga hubungan Goverment to Goverment (G to G) menjadi hal ruwet yang harus dijalankan. Peluang impor asosiasi selalu menemukan kebuntuan, karena belum terlaksananya G to G oleh calon importir.
 
 
Pelaku usaha memohon kepada pemerintah untuk segera mengurus G to G tersebut agar kegiatan ekspor dapat berjalan mulus. Asosiasi sangat membutuhkan bantuan pemerintah dalam melakukan hubungan bilateral dengan negara lain sehingga, ekspor produk peternakan tidak lagi hanya menjadi slogan. TROBOS
 
 
dituliskan kembali oleh ajeng wirachmi
 
 
*Public Relation Arphuin (Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia)
Head of Marketing RPA (Rumah Potong Ayam) Wilayah Jawa Barat PT Ciomas Adisatwa
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain