Jumat, 1 Januari 2021

Plus Minus Sapi Persilangan

Plus Minus Sapi Persilangan

Foto: yopi


Tidak hanya faktor pertumbuhan, reproduksi dan kualitas daging namun pejantan dan indukan yang dikawin silangkan juga harus adaptif terutama di iklim tropis seperti di Indonesia
 
 
Crossbreeding/kawin silang dilakukan untuk memperbaiki pertumbuhan, reproduksi, kualitas daging dan adaptabilitas sapi. Prof Heather Burrow, Pakar Pemuliaan Ternak Tropis dan Genetika dari University of New England, Australia memberikan penjelasan itu dalam Webmaster kuliah online “Toward Sustainable Beef Cattle Crossbreeding Program” yang digelar oleh Program Magister Peternakan Universitas Sebelas Maret Surakarta berkolaborasi dengan Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), pada Kamis (3/9).
 
 
Menurutnya, crossbreeding dengan dua breed/bangsa yang berbeda merupakan satu-satunya sistem yang saat ini layak untuk para peternak kecil di Indonesia. Karena hal itu sangat praktis dan sangat mudah diterapkan.
 
 
Persilangan dua jenis pada sapi ongole dengan sapi bali akan meningkatkan bobot hidup keturunannya secara signifikan dengan keturunan F1 yang tahan terhadap stres. Jika betina persilangan F1 dapat dipertahankan sebagai indukan, kinerja reproduksinya juga cenderung meningkat (terutama pada reproduksi ongole). “Dan juga betina persilangan F1 perlu digabungkan dengan bangsa pejantan yang beradaptasi dengan baik. Langkah lainnya dengan menyiapkan betina betina lokal untuk diinseminasi buatan dengan semen bangsa Bos taurus itu merupakan skenario yang paling tepat,” jabar dia.
 
 
Namun ada lagi sistem perkawinan silang yang disebut dengan composite development namun harus ada ketentuan yang diberlakukan. “Nantinya akan dihasilkan sapi komposit yang terdiri dari beberapa bangsa campuran seperti komposit tropis multi bangsa (1/3 Bos indicus, 1/3 Sanga atau Criollo, 1/3 British atau Continental),” paparnya.
 
 
Efek Heterosis
Manfaat utama dari crossbreeding diukur dari nilai heterosis. Yaitu kondisi dimana keturunan yang dihasilkan berkinerja lebih baik dibandingkan dengan salah satu induk dan rata-rata induk. Nilai heterosis yang optimal hanya dapat diperoleh jika kedua induk tersebut berjauhan secara genetik. “Sebagaian besar crossbreeding telah dirancang dan dilakukan di wilayah Australia bagian Utara dan Amerika Serikat,” katanya.
 
 
Berdasarkan hasil penelitian, Prof Heather ungkapkan bahwa di wilayah Australia bagian Utara dan Amerika Serikat heterosis terbesar terjadi untuk bangsa yang beragam dan juga untuk sifat yang tidak dapat diwariskan seperti sifat reproduksi. Nilai heterosis, menurutnya dibagi dalam sifat produktif dan sifat adaptif. Sifat produktif dapat dilihat dari parameter bobot penyapihan, bobot karkas, tingkat beranak, serta keempukan daging.
 
 
Didapatkan bobot penyapihan dari 4 - 13 %, bobot karkas 2 - 7 % serta 4 - 22 % untuk tingkat melahirkan. Semakin besar angka positifnya maka nilai heterosisnya semakin besar. ”Dan itu terjadi pada persilangan Bos indicus dengan Bos taurus lebih besar nilai heterosisnya dibandingkan Bos taurus dengan Bos taurus,” ujarnya.
 
 
Sedangkan untuk mengukur keempukan daging dengan cara mengukur gaya yang dibutuhkan untuk memotong sepotong daging. “Jika angka negatifnya semakin besar berarti semakin lembut daging tersebut dan menandakan nilai heterosisnya menguntungkan serta didapatkan skor minus 7 - 3 %. Itu terjadi pada persilangan Bos indicus dengan Bos taurus,” ungkapnya.
 
 
Pada sifat adaptif dilihat dari parameter jumlah kutu, jumlah telur cacing dan suhu rektal. Semakin rendah angkanya menunjukkan ternak tersebut memiliki daya tahan tubuh yang baik terhadap lingkungan. Nilai heterosis yang didapatkan menunjukkan angka minus 40 - 7 % pada jumlah kutu, minus 20  - 9 % pada jumlah telur cacing dan pada suhu rektal menunjukkan skor minus 32 - 0 %. Dari parameter tersebut didapatkan nilai heterosis sangat besar karena dilakukan di negara Australia bagian Utara. “Heterosis terbesar yang dapat kami hasilkan di Australia utara berasal dari persilangan pertama sapi Brahman dengan sapi bangsa Britanis,” tandasnya. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 256/Januari 2021

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain