Konsisten Berkiprah di Industri Sapi Potong

Konsisten Berkiprah di Industri Sapi Potong

Foto: 
Didiek Purwanto di kandang sapi PT KASA

Bekerja keras, mengoptimalkan pengalaman, membangun akses permodalan ke perbankan, jaringan pasar, dan akses ke sumber bakalan adalah kunci untuk mengembangkan usaha yang berdaya saing.
 
 
Rentang waktu 30 tahun berkecimpung di industri persapian tanah air, bukan lah waktu yang pendek. Selama itu pula, industri protein hewani ini telah menempa Didiek Purwanto sebagai sosok praktisi yang handal dan luar biasa. 
 
 
Lulus kuliah di jurusan peternakan Universitas Brawijaya, Malang Jawa Tengah pada 1986 menghantarkan Didiek sebagai profesional muda di Gunung Sewu Group. Didiek muda ditantang perusahaan tempatnya memulai karir membuka usaha penggemukan sapi (feedlot) di Terbanggi, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung. Perusahaan penggemukan sapi dengan bendera PT GGL (Great Giant Livestock) ini ditargetkan menjadi solusi pemanfaatan sekitar 200 ton limbah nanas per hari dari perusahaan perkebunan nanas di bawah Gunung Sewu Group. 
 
 
Bersama timnya, Didiek meramu pakan sapi dengan bahan baku utama limbah nanas yang jumlahnya melimpah. Feedlot dengan populasi awal 20 ekor sapi lokal jenis sapi bali ini pun terus berkembang menjadi 250 ekor hingga 500 ekor dan jenis yang mulai beragam. Di 1991, PT GGL melakukan pengembangan usaha dengan melakukan impor sapi bakalan jenis sapi Brahman Cross atau yang lebih dikenal dengan sapi BX. 
 
 
Memilih Berwirausaha 
Jiwa petualang dan menyukai tantangan sepertinya tertanam pada sosok Didiek. Saat sedang berada puncak karir di perusahaan yang membesarkannya, Didiek justru mengajukan pensiun dini di 2014. Ketika meninggalkan PT GGL, populasi sapi perusahaan ini mencapai 35.000 ekor dan tercatat sebagai feedloter terbesar di tanah air.
 
 
Dorongan jiwa wirausaha yang lebih kuat membuat Didiek memulai usaha baru dengan membangun dan mengembangkan perusahaan sendiri dengan fokus di bisnis yang sama. Di tahun yang sama, ia mendirikan perusahaan penggemukan sapi potong dengan nama PT Karunia Alam Sentosa Abadi (KASA). Peternakan di area seluas 17 ha yang berlokasi di Jl Pagar Alam, Kampung Rengas, Kecamatan Bekri, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung ini dilengkapi dengan kandang permanen berkapasitas 10.000 ekor dan masih bisa dikembangkan lagi karena lahan yang tersisa masih luas. Juga terdapat gudang stok pakan, tangki molase, silase, mesin coper berkapasitas 10 – 12 ton per jam, serta pencampuran/pengadukan pakan dilakukan secara otomatis. 
 
 
Didiek pun langsung tancap gas dengan melakukan impor sapi bakalan BX secara perdana sebanyak 500 ekor di awal 2015. Kini populasi sapi BX yang sedang digemukkan di PT KASA sudah mencapai 6.200 dengan jumlah karyawan yang terlibat sekitar 30 orang. “Populasi sebetulnya bisa ditingkatkan lagi karena kapasitas kandang masih tersisa banyak. Tapi impor bakalan sapi BX dari Australia sedang seret akibat rendahnya produksi bibit di sana,” Didiek beralasan. 
 
 
Pria yang gemar berorganisasi ini langsung mendaftarkan perusahaannya ke Gapuspindo (Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia) di 2015. Pada saat itu, PT KASA berada di urutan ke-39 namun dalam waktu 5 tahun populasi sapi dan omzet perusahaan Didiek sudah bertengger menjadi 5 besar feedloter di tanah air. 
 
 
Didiek berbagi resep perusahaannya bisa tumbuh pesat. Mengoptimalkan pengalaman, membangun akses permodalan ke perbankan, jaringan pasar, dan akses ke sumber bakalan di Australia adalah hal-hal yang menjadi fokus perhatiannya. 
 
 
Tetapi Didiek menekankan, perusahaannya tidak tumbuh dan berkembang begitu saja. Apalagi di tengah kebijakan pemerintah yang berubah-ubah. Untuk itu, ia berusaha menyelaraskan karakteristik bisnis dan pelanggan dengan regulasi yang dikeluarkan pemerintah.
 
 
Belum lagi tantangan soal permodalan dengan bunga kredit bank yang masih cukup tinggi namun berbekal reputasi, prestasi, dan rekam jejaknya selama ini, ia mampu membuktikan kemampuannya. 
 
 
Ketua Dewan Gapuspindo masa bakti 2019 – 2023 ini menyatakan semua pencapaian yang diraihnya berkat kerja keras dan menjalankan usaha dengan efisien agar memiliki daya saing. Mengingat usaha sapi potong merupakan bisnis yang padat modal dengan risiko tinggi. Keuntungan yang diperoleh jika dibandingkan dengan modal yang ditanamkan tidak sebanding. Namun di sisi lain, potensi pasar luar biasa besar. Saat ini baru 58 % kebutuhan daging secara nasional yang mampu dipenuhi oleh peternakan dalam negeri, sisanya 42 % masih harus dipenuhi dengan impor. 
 
 
Penghargaan Supply Chain Award 2020 
Sejak 10 tahun lalu, Indonesia meratifikasi standardisasi Exporters Supply Chain Assurance System (ESCAS) yang diikuti dengan berbagai regulasi oleh pemerintah Indonesia. Menurut Didiek, tidak mudah untuk mengubah kebiasaan dan perilaku agar memenuhi standar kesejahteraan hewan dari sekian banyak orang yang berada di setiap tahapan/proses di industri sapi potong. 
 
 
Bagi Didiek, perlu tekad yang kuat dan kerja keras untuk membangun ESCAS, mu¬lai dari persiapan sapi dari Australia masuk peternakan, pengangkutan, desain kandang, pemeliharaan, perawatan, penimbangan, pengangkutan ke RPH (Rumah Pemotongan Hewan) hingga proses penyembelihan. Ter¬masuk mengubah infrastruktur pada setiap tahapan, tentu memerlukan investasi yang cukup sulit untuk dilakukan. 
 
 
Pada setiap tahapan/proses tersebut harus memenuhi standar kesejahteraan hewan (animal welfare), mulai sapi diterima dari kapal hingga proses penyembelihan. Bahkan juga ada standar truk untuk mengangkut sapi, standar kandang, standar pemberian pakan, mesin potong, restraining box, fasilitas pendukung, tingkat keterangan lampu, serta standar tata cara atau prosedur penyembelihan sapi yang selama ini belum ada standar dan prosedur bakunya. 
 
 
Yang juga cukup sulit adalah pencatatan di setiap tahapan/proses dari waktu ke waktu baik berupa data maupun video. Untuk kebutuhan itu, Didiek manfaatkan IT dan CCTV sehingga setiap sapi yang masuk dari Australia jelas ketelusurannya. Contohnya, masuk kapan, dibesarkan dimana, berapa lama, bagaimana perkembangannya, dijual kemana, kapan dan dipotong dimana dan kapan dipotongnya. 
 
 
Dalam upaya mengubah perilaku ini, sudah banyak dilakukan pelatihan dan demonstrasi pada setiap tahapan. Tidak saja tata cara, prosedur, serta standar yang disampaikan, tetapi juga ditekankan bahwa dengan menjalankan ESCAS terdapat sejumlah manfaat dan keuntungan yang diperoleh. Sapi yang dipotong dengan memenuhi standar dan prosedur ESCAS kualitas dagingnya lebih terjamin, higienis dan halal sehingga akan menjadi nilai tambah bagi penjualnya. 
 
 
Berkat kerja keras dan dedikasi Didiek dalam membangun ESCAS selama ini, Meat and Livestock Australia (MLA) memberikan apresiasi berupa Penghargaan Rantai Pasok atau Supply Chain Award. Penyerahan penghargaan ini dilakukan secara virtual bersamaan dengan webinar conference yang digelar Livestock Export Program (LEP) Indonesia, pertengahan Desember lalu. Penghargaan ini ditujukan sebagai apresiasi tertinggi terhadap insan peternakan yang telah memajukan industri sapi potong Indonesia, bekerja sama dengan Australia, dalam memberikan produk protein asal sapi terbaik bagi konsumen di Indonesia.
 
 
Penghargaan prestasi seumur hidup (Lifetime Achievement Award) ini sekaligus menjadi kado ulang tahun yang istimewa bagi suami dari Magdalena Rini Puspasari yang berulang tahun ke-60 pada 2 Desember 2020.
 
 
Pria yang lahir di Malang, 2 Desember 1960 dari pasangan Soawarso seorang guru dan Dewi Astuti ini sangat terbuka ketika ketiga anaknya Natasya Sandra merupakan sarjana psikologi serta Ezra bagus Pradita dan Rahel Hana Puspitasari tidak meneruskan jejaknya menekuni ilmu peternakan. Namun pria yang mendapatkan spirit jiwa beternak dari Kakeknya ini yakin anak-anaknya nanti akan kembali memiliki dorongan yang kuat di bidang peternakan. 
 
 
Sebagai sarjana peternakan yang sudah mengabdikan diri di dunia peternakan selama 35 tahun serta sudah menyelesaikan program keinsinyuran (keprofesian peternakan) di Universitas Gadjah Mada, Didiek berpesan kepada perguruan tinggi yang memiliki program studi peternakan untuk mendesain ulang kurikulumnya. 
 
 
Ketua Umum PB ISPI (Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia) ini menilai, perguruan tinggi harus berpikir out of the box karena sarjana peternakan adalah sarjana terapan yang para lulusannya harus siap mengembangkan profesinya. Proses pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan profesi peternakan sehingga begitu lulus seorang sarjana peternakan bisa men-jalankan profesinya. Dan untuk menciptakan sarjana yang profesional, perguruan tinggi harus menjalin kerjasama dengan swasta, baik perusahaan sapi potong, sapi perah, perunggasan, dan usaha peternakan lainnya. TROBOS/Adv
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain