Senin, 1 Pebruari 2021

Restocking Jangan Menunggu Genting

Restocking Jangan Menunggu Genting

Foto: dok. trobos


Persoalan kompleks industri domba dan kambing yang membutuhkan dukungan sumber daya, permodalan, akurasi data hingga kebijakan pemerintah 
 
 
Kelangkaan pasokan komoditas ternak domba dan kambing (doka) menyebabkan harga melambung tinggi satu dasawarsa ini. Berkelit dari kondisi itu, pengusaha sektor hilir memotong doka betina produktif. Sejumlah pihak mulai menyuarakan restocking, jangan menunggu keadaan berubah menjadi genting.
 
 
Pembahasan itu mengemuka dalam seminar daring MIMBAR TROBOS Livestock The Series 11 – Domba & Kambing bertema Restocking Domba dan Kambing, yang digelar melalui aplikasi Zoom dan kanal Youtube AgristreamTV dan agristreamtv.com pada 27 September 2021. Dipandu oleh redaktur pelaksana TROBOS Livestock – Rakhmat Ramdan, seminar ini menghadirkan Dody Hardiansyah Ismail Loebiz – Owner Saung Domba International; Heryo Shasikirono – Ketua DPD Himpunan Peternak Kambing Domba Indonesia (HPDKI) Jawa Timur; Syahid Hasan Al Banna – Ketua Asosiasi Pengusaha Aqiqah Indonesia (Aspaqin); Yudi Guntara Noor – Ketua DPP HPDKI; dan Sugiono – Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.
 
 
Dody Hardiansyah Ismail Loebiz menyatakan kelangkaan pasokan domba dan kambing (doka) yang terjadi saat ini sebenarnya bukan terjadi begitu saja. Melainkan merupakan efek dari kondisi produksi dan permintaan sejak 12 tahun lalu. 
 
 
Menurut dia, solusinya adalah restocking. Pembahasan restocking harus bicara bibit, pembibitan, pembesaran, kebutuhan pasar (bibit dan konsumsi), namun tidak cukup itu. Restocking adalah persoalan kompleks industri doka, ada faktor teknis, daya dukung, lokasi, modal, pelaku, sampai dengan data dan kebijakan pemerintah yang menyeluruh. 
 
 
Dody menyebut pelaku bisnis doka bergerak tanpa data, tak pernah diketahui berapa jumlah stok doka yang siap dimobilisasi ke pasar secara berkelanjutan. Juga tak pernah ada data kebutuhan doka yang valid. Ada 3 sumber data yang memungkinkan yaitu dari Aspaqin, Perkumpulan Penyelenggaraan Jasaboga Indonesia (PPJI) dan HPDKI. 
 
 
Senada, Syahid Hasan Al Banna mendorong agar pemerintah, bersama dengan asosiasi hulu doka seperti HPDKI, Perserikatan Peternak Kambing dan Domba Yogyakarta (PPKDY),  Asosiasi Pengusaha Ternak Indonesia (Aspetindo) dan asosiasi hilir seperti Aspaqin dan PPJI untuk berkolaborasi. “Kita tidak bisa menahan permintaan pasar yang naik terus, bisanya mengatur pasokan,” katanya.
 
 
Fakta Doka
Dody mengungkap fakta komoditas doka, mulai dari harga doka yang naik hingga 165 % dalam kurun 10 tahun, atau setiap tahun rata-rata naik 16,5 %. Sepuluh tahun lalu harga domba jantan hidup Rp 25.000 per kg, sekarang harganya Rp 60.000 – 65.000 per kg. Kenaikan harga wajar karena faktor inflasi harusnya hanya 3 % per tahun. Kalaupun diasumsikan 4 % kenaikan wajar per tahun, maka selama 10 tahun harga doka naik 40 % saja. Jelas ada 8 0% kenaikan harga yang terbentuk oleh permintaan pasar yang melebihi kemampuan pasokan. 
 
 
Kedua, ekosistem usaha doka yang rusak, sehingga sulit membawa kesejahteraan. Karena untuk mendapatkan pasokan seringkali harus susah payah, tidak sebanding dengan perolehannya. Tak bisa berharap stok doka berkembang kalau rantai pasok tidak beres. 
 
 
Ketiga, Dody melanjutkan, efek dari ekosistem yang rusak itu adalah pemain doka berguguran. Keempat, teknologi dan infrastruktur industri komoditas doka yang tidak efisien. Susah untuk efisien dalam budidaya ternak doka saat ini, tertinggal dengan negara lain. 
 
 
Supply – Demand 
Hasan mengajukan analisis supply – demand (pasokan – permintaan) doka.  Dia menduga, saat ini industri doka menghadapi peningkatan permintaan, tetapi ketersediaan barang tetap atau naik sehingga harga naik. “Saya cenderung berpendapat supply turun namun demand naik. Persoalan di supply doka ini beragam,” dia menjelaskan. 
 
 
Selain bermasalah pada supply, ditemukan pula potensi masalah pada demand. Pertama adalah ekspor tidak pada waktunya. Setidaknya kalau demand tidak meningkat, akan menimbulkan isu dan polemik-polemik yang bisa mempengaruhi psikologis pelaku. Kedua, betina produktif ikut dipotong dan dikonsumsi. “Sangat panjangnya rantai pasok juga membuat hambatan pada mekanisme supply – demand,” kata dia. 
 
 
Ia pun menegaskan, antara asosiasi hulu dan hilir doka, perlu kolaborasi, sudah harus sampai pada aksi. Adanya asosiasi hulu dan hilir yang jelas dengan anggota yang jelas seharusnya mempercepat penyerapan produksi hulu langsung ke pelaku hilir.  
 
 
Hasan menggambarkan, konsumsi doka, pada hari kurban saja sekitar 2 – 2,5 juta ekor.  Kalau total setahun bisa 3 – 4 juta ekor, tergantung siapa yang mengatakannya. Sedangkan Aspaqin belum sampai 350.000 ekor. 
 
 
Sengkarut Ekspor
Dody Hardiansyah menganggap ekspor doka sebagai terburu-buru, padahal kondisi dalam negeri belum memungkinkan. Suatu negara layak untuk mengekspor jika memiliki eksposure dalam volume, biaya atau spesialisasi. “Paling mudah ekspor itu kalau ada kelebihan supply. Kita tidak punya kapasitas produksi bahkan kekurangan barang tetapi  ekspor,” sesal dia. Muncul pula sinyalemen peternak akan lebih suka memasok doka untuk ekspor karena harganya lebih menguntungkan.
 
 
Dia pun memberikan contoh kebijakan ekspor sapi di masa lalu, sampai terjadi pengurasan. Dia menyarankan, sejalan dengan kebutuhan restocking saat ini, bukannya ekspor, justru ini saatnya impor induk dalam durasi terbatas, agar jutaan induk itu selamat – tidak dipotong dan berkesempatan untuk berkembang. 
 
 
Heryo Shasikirono memiliki perspektif berbeda. Baginya ekspor doka belum mengganggu segmen kurban dan akikah, karena doka yang laku di ekspor bobotnya di atas 35 kg pe rekor, “Kalau doka untuk kurban kisaran bobotnya 25-35 kg per ekor,” dia menjelaskan. 
 
 
Yudi menganggap keputusan ekspor atau tidak adalah pilihan peternak. “Saya kirim karkas domba ke Jawa Timur untuk pengolahan daging, tidak ekspor meskipun produksi saya lebih.  Meskipun Brunei berani harga Rp 80 ribu perkg, ini semata-mata pilihan,”ujarnya. 
 
 
Krisis Data
Menurut Dody, bekerja tanpa data ibarat menyetir dengan mata tertutup. Dia pun menolak keras anggapan bahwa bagi pebisnis data bisa dikesampingkan. “Jangan harga diserahkan pada pasar saja, karena harga yang wajar selalu berhubungan dengan populasi, kemampuan pasok, daya beli domestik. Dan paling penting, harus ada keuntungan bisnis bagi peternak,” sergahnya. 
 
 
Dia memberikan contoh, semahal apapun harga doka di pasaran umum, tukang kambing selalu kesulitan menaikkan harga di hadapan tukang sate. “Tukang sate itu seperti raja. Ini yang harus diubah,” tandas dia. Terlebih, harga bibit, pakan, pemeliharaan, tidak standar/tidak sama di setiap daerah, sehingga sulit untuk distandardisasi harganya, apalagi hanya berdasarkan pasar. 
 
 
Yudi mengaku selama menjalankan bisnis peternakan, belum pernah menemukan data dasar yang valid. “Mana ada data valid. Industri sapi yang menelan APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) triliunan rupiah juga sama. Maka kalau data tidak valid, saya gunakan harga sebagai indikator,” ujarnya. 
 
 
Pemotongan Doka Betina
Syahid Hasan Al Banna mengungkapkan pemotongan betina produktif, sebenarnya bukan hanya dilakukan oleh anggota Aspaqin. Idealnya adalah pemerintah menggaungkan untuk menghentikan pemotongan doka betina produktif. “Sebagai ketua Aspaqin, mendukung upaya restocking ini melalui hashtag #JantanLebihBaik dan #BesarLebihAsyik,” sebutnya. 
 
 
Melanjutkan uraiannya, pemotongan betina produktif  bukan hanya mengancam bisnis doka di hulu namun juga keberlangsungan bisnis hilir. Besar lebih asyik, karena dalam akikah sebagai ibadah lebih utama memotong doka yang besar. Selain itu, memberi kesempatan pada doka untuk produktif, dan setelah besar dan berkurang produktivitasnya barulah dipotong. 
 
 
Tahun 2000an akikah masih jantan semua. Tapi di 2015 mulai banyak anggota Aspaqin yang berubah memotong doka betina. Awalnya usaha akikah kecil-kecil yang memulai, menyesuaikan dengan daya beli sehingga mengundang lebih banyak konsumen karena murah. Kemudian timbul kompetisi pengusaha akikah untuk memperbesar pasar akikah murah ini dengan memotong doka betina.
 
 
Dody berpendapat gerakan pejantan itu harus melibatkan semua stakeholder. Semua harus sepakat tidak memotong selain pejantan. Semua betina jangan dipotong, dan semua pemotong jangan menyembelih betina. “Sekali lagi mengusulkan, kalau mau betina tidak dipotong, maka potong jalur perdagangannya,” dia menegaskan. 
 
 
Yudi menimpali, selama margin memotong betina lebih tinggi, maka peluang untuk betina jadi buffer stock tetap tinggi. Selama peraturan tidak melarang, dan selama harga betina lebih murah betina akan tetap dipotong. Maka betina harus dihargai sebagai bibit, sehingga mahal. Hanya harga yang akan bisa mengendalikan pemotongan ini.
 
 
Situasi Berubah
Heryo Shasikirono menuturkan, sepuluh tahun yang lalu peternak penggemukan, pedagang dan pemotong belanja doka ke Jawa Timur. Mereka dengan relatif mudah mendapatkan doka seharga  Rp 23.000 – 25.000 per kg betina, dan Rp 28.000 per kg doka jantan. Pada 2020 hingga memasuki 2021 harga betina Rp 43.000 dan Rp 58.000 – 60.000 per kg dengan dinamika perburuan pasokan yang lebih berkelok.
 
 
“Jawa Timur cukup mempengaruhi pembentukan harga doka nasional karena secara populasi adalah peringkat kedua nasional setelah Jawa Tengah,” ujarnya. Membuka data Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Heryo menyebutkan sepanjang 2014 – 2016 sebenarnya terjadi pertumbuhan populasi domba 4 % per tahun. Namun pertumbuhan itu dirasakan tidak mampu mengimbangi demand domba yang semakin meningkat. Indikatornya, terjadi penurunan populasi pada 2017 menjadi 1.362.062 ekor, setelah tercapai angka populasi terbanyak pada 2016 sejumlah 1.370.878 ekor. Pada 2018 populasi domba naik menjadi 1.374.742 ekor dan pada 2019 naik lagi menjadi 1.405.547 ekor. Sedangkan populasi kambing sebanyak 3.476.635 ekor pada 2018 dan meningkat menjadi 3.567.005 ekor pada 2019.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 257/Februari 2021 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain