Senin, 1 Pebruari 2021

Ansori: Pemrosesan Ternak secara Syariat

Ansori: Pemrosesan Ternak secara Syariat

Foto: istimewa
Ansori

Berbagai aspek kehidupan baiknya dilandasi dengan aturan, baik agama maupun negara, supaya tidak menyimpang dan merugikan diri sendiri ataupun orang banyak. Menjadi agama yang paling banyak dipeluk, membuat Islam dan kitab Al-Quran banyak dikaji oleh beragam pihak. Secara umum, ajaran Islam berkaitan erat dengan aktivitas yang bertumpu pada perintah serta larangan.
 
 
Perintah dan larangan adalah satu paket yang tidak dapat dipisahkan, demikian pula halal dan haram. Kedua sisi ajaran Islam tersebut tidak lain adalah untuk menguji kepatuhan dan ketaatan manusia. Di sinilah sebenarnya inti dari beragama, yaitu kepatuhan atau ketaatan, dan Islam sendiri salah satu pengertiannya adalah kepasrahan.
 
 
Pasrah dalam hal ini ialah mendengar kemudian mengikuti, baik dalam bertindak maupun mengonsumsi. Sehingga halal dan haram, perintah dan larangan ini semua adalah ajaran Islam. Adapun yang lain-lain itu merupakan turunan atau perincian dari dua hal tersebut. 
 
 
Perintah di dalam Islam sangat banyak, ada perintah yang wajib dan sunnah, perintah yang kaitannya dengan ibadah ritual dan sosial. Begitu pula dengan larangan, sangat luas dan kompleks. Dalam hal makanan, ada halal dan haram, karena sesungguhnya ketaatan seorang manusia untuk mengonsumsi makanan yang halal ini adalah bagian dari ujian atau parameter untuk mengukur kepatuhan dan ketaatan seseorang seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
 
 
Terdapat satu kaidah umum di dalam Islam, yaitu tidak ada yang dilarang oleh agama Islam, yang tidak berdampak atau menyebabkan mudharat, yang berarti bahaya atau kerusakan. Sehingga, ketika Islam melarang ataupun mengharamkan sesuatu, maka sesungguhnya dibalik itu memang akan menimbulkan bahaya atau kerusakan. Hanya terkadang, manusia tidak bisa langsung menangkap makna nilai di balik larangan tersebut.
 
 
Sebaliknya, tidak ada yang diperintahkan oleh Islam yang tidak mengandung nilai maslahat atau manfaat. Apapun yang diperintahkan dan dihalalkan oleh Allah SWT sesungguhnya ada kebaikan di dalamnya.
 
 
Halal dan Baik
Mengutip Surat Al-Baqarah ayat 168, yang artinya “Wahai manusia, makanlah dari (makanan) yang halal dan baik (halalan thayyiban) yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu”. Hal yang menjadi menarik adalah tidak hanya memakan makanan yang halal, tetapi juga thayyib atau baik. Halal merupakan kosa kata yang kerap di dengar, tetapi thayyib sering terlewat dari pengamatan.
 
 
Islam tidak hanya sekadar memerintahkan untuk memakan makanan yang halal, tetapi sekaligus yang baik. Baik inilah menjadi urusan ilmu pengetahuan, sehingga dapat disimpulkan bahwa sebenarnya Al-Quran itu modern, ilmiah, rasional, dan logis. Jika dirinci satu per satu setiap ayatnya, maka sebenarnya kata-kata di dalam Al-Quran sangat luar biasa.
 
 
Para ulama memiliki opini yang beragam dalam mengartikan thayyib, yaitu pertama baik, maksudnya adalah tidak basi atau busuk. Jika makanan busuk dan dikonsumsi, maka dapat menyebabkan sakit perut. Itulah yang dihindari oleh Islam, sehingga di samping makanan harus halal tetapi juga harus thayyib.
 
 
Kedua thayyib diartikan suci, tetapi dalam ilmu pengetahuan disebut higienis. Dengan demikian, menandakan bahwa Al-Quran tidak hanya sekadar memerintah untuk memakan makanan yang halal, tetapi sekaligus menganjurkan makanan harus higienis. Sama halnya dengan masa kedaluwarsa makanan yang berkaitan erat dengan konsep thayyib.
 
 
Ada pula surat Al-Maidah ayat ketiga yang isinya adalah rincian perintah untuk memakan makanan yang halal dan menjauhi yang haram. Kutipan beberapa kalimat dalam surat Al-Maidah ayat ketiga yaitu “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, dipukul, jatuh, ditanduk dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah) (karena) itu suatu perbuatan fasik”.
 
 
Ayat di atas sesungguhnya menjelaskan bahwa makanan yang haram di dalam Islam tidak banyak. Konsep halal di dalam Islam memiliki kaidah, yang mana kaidah Islam ini masuk ke dalam hukum Islam. Kaidah umum atau prinsip-prinsip umum berfungsi untuk mengatur tentang beragam persoalan hukum Islam. 
 
 
Salah satu kaidah di dalam hukum Islam adalah segala sesuatu adalah diperbolehkan atau halal, sampai ada yang melarang atau mengharamkan. Kaitannya dengan makanan di dunia ini terdapat tiga kemungkinan, yaitu halal yang ditunjukkan oleh hadis bahwa makanan tersebut halal, kemudian ada yang dijelaskan keharamannya, tetapi ada juga hewan-hewan yang sesungguhnya secara umum tidak ada ketentuannya dan ini hukumnya halal. 
 
 
Kembali kepada prinsip kaidah di atas, maka segala sesuatu itu hukum aslinya halal. Namun haram karena ada dalil yang mengharamkannya, sehingga jika tidak terdapat petunjuk bahwa itu haram, maka dianggap halal. Sesungguhnya di dalam Islam ini lebih longgar, sebab lebih banyak yang halal daripada yang haram.
 
 
Pada dasarnya semua ternak prinsipnya halal, kecuali ternak yang sudah disebutkan bahwa itu haram. Kata-kata terkait ternak di dalam Al-quran banyak sekali, salah satunya seperti petikan arti surat Al-Baqarah ayat 168 dan Al-Maidah ayat 3 dan masih ada lagi di beberapa surat. Fakultas Peternakan (Fapet) islami sekali di Indonesia, sebab kata ternak merupakan satu tema tersendiri di dalam Al-Quran. 
 
 
Mungkin saat ini mahasiswa Fapet kajiannya hanya dari sisi keilmuan murni, ini bagus sekali bila dikaitkan dengan kajian-kajian hukum Islam. Sebab, kata ternak itu sangat banyak di dalam Al- Quran dan sekaligus dijadikan sebuah judul surat. Ini bukan sesuatu yang kebetulan, sudah barang tentu ini menunjukkan bahwa ternak bagian dari kebutuhan pokok manusia, dan ini merupakan salah satu anugerah dari Allah SWT tentang ternak yang dititipkan kepada manusia. 
 
 
Fapet, salah satu fakultas yang mempelajari dan mendalami ilmu tentang peternakan, sekali lagi merupakan amanah dalam Al-Quran. Jangan sampai ternak tidak bermanfaat, punah dan lain sebagainya. Sehingga, mahasiswa yang kuliah di Fapet bila mengerti prisnsip-prinsip hukum Islam, sebenarnya tidak kalah pahalanya dengan orang yang mengaji di majelis taklim, karena mempelajari ternak yang orientasinya untuk kemaslahatan kehidupan manusia dan kelestarian alam.
 
 
Aspek yang Patut Diperhatikan
Makanan dapat dikatakan halal ketika telah memenuhi dua kriteria, yaitu selain bendanya, seperti sapi atau kambing, yang halal tetapi juga unsur dari luar itu atau faktor X dan disebut halal lighairi. Faktor X diantaranya adalah cara memprosesnya dan metode penyembelihannya. Kendati daging telah diproses secara halal, namun prosedur pengolahannya pun tidak boleh ada campuran barang atau sesuatu yang haram.
 
 
Adapun kasusnya seperti ini, sebenarnya daging sapi atau kambing itu materinya halal, tapi karena bercampur dengan bahan yang haram, sehingga daging tersebut menjadi haram untuk dikonsumsi dan disebut juga haram lighairi. Selanjutnya, cara memperoleh, baik ternak maupun uangnya, tidak boleh dengan cara yang dilarang atau disebut juga dengan bathil, seperti mencuri, membeli ternak dari uang korupsi, melakukan penimbunan dan lain sebagainya.
 
 
Beralih pada standar penyembelihan yang halal, ini menjadi perhatian, sebab penyembelihan merupakan salah satu faktor x atau lighairi. Jangan sampai ternak tersebut halal, namun justru menjadi haram karena prosesnya penyembelihannya tidak benar. Karena itu, saya sebagai orang yang ada di komisi fatwa, perlu menyosialisasikan keputusan fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) tentang penyembelihan halal.
 
 
Alat penyembelihan harus tajam, sehingga ternak tidak diperbolehkan mati karena benturan atau membunuhnya dengan kuku, gigi, taring atau tulang. Proses penyembelihannya diawali dengan niat menyembelih, mengalirkan darah melalui tenggorokan dengan memotong saluran pernapasan, saluran makanan dan saluran pembuluh darah. Di dalam fiqih, mensyaratkan ketiga saluran ini harus terpotong.
 
 
Penyembelihan dilakukan semaksimal mungkin dengan cara manual, tidak didahului dengan stunning atau pemingsanan pada ternak. Kendati demikian, stunning boleh dilakukan pada ternak yang sulit untuk dikendalikan dan tidak memungkinkan jika dilakukan penyembelihan secara manual. Metode pemingsanan ternak boleh dilakukan, tetapi dalam kondisi terpaksa dan tidak menyebabkan kematian pada ternak.
 
 
Penetapan ketentuan stunning, pemilihan jenis dan teknis pelaksanaannya harus di bawah pengawasan ahli, yaitu dokter hewan. Artinya, keputusan fatwa MUI terkait dangan penyembelihan halal yang benar, juga memperhatikan segi ilmu pengetahuan atau teknologi tentang penyembelihan, dan ilmu pengetahuan tentang masalah kesejahteraan hewan.
 
 
Perlu diperhatikan bahwa tidak semua yang halal baik untuk dikonsumsi, sebab harus beriringan dengan thayyib dari segi prinsip, konteks, kualitas dan relativitas. Seperti misalnya gulai itu halal, tetapi tidak selalu baik dikonsumsi oleh orang yang kena kolesterol. Sehingga halal bukan satu-satunya standar, tetapi juga harus memenuhi thayyib. TROBOS
 
 
Dituliskan kembali oleh rubella c milladiah
 
 
*Kepala LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat)
IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Purwokerto
Ketua Komisi Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) Kabupaten Banyumas
 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain