Senin, 1 Pebruari 2021

Bambang Suwignyo: Profil Asam Amino Alfalfa Tropik

Bambang Suwignyo: Profil Asam Amino Alfalfa Tropik

Foto: dok. bambang suwignyo
Tanaman Alfalfa

Tengah intens diteliti kandungan nutrisinya hingga ke profil asam amino untuk berbagai kemungkinan pemanfaatan, termasuk untuk pakan unggas
 
 
Alfalfa (Medicago sativa) atau juga dikenal sebagai lucerne di dunia global telah dikenal sebagai hijauan pakan ternak berkualitas super sehingga mendapatkan gelar queen of forage. Alfalfa termasuk salah satu jenis leguminosa yang memiliki nutrisi tinggi. Alfalfa di daerah tropik seperti Indonesia masih belum populer bukan karena kualitasnya, namun karena proses budidaya yang masih dianggap terbatas. Akses biji alfalfa yang harus impor, dan asumsi bahwa penanaman harus mencari daerah yang mendekati daerah sub tropik (biasanya dataran tinggi) menjadikan alfalfa tidak sepopuler hijauan atau legume lain seperti indigofera.
 
 
Bahkan tidak jarang riset alfalfa ini ditanggapi skeptis karena “sehebat” apapun alfalfa tetap dianggap kurang prospek dikembangkan di daerah tropik. Fakta di lapangan setiap peneliti bisa mendapatkan pengalaman dan capaian yang berbeda berkaitan dengan alfalfa ini. Perbedaan ini sangat wajar, karena karakter saintis yang harus selalu bergerak dan berusaha untuk menemukan hal benar-benar baru, bahkan out of the box. 
 
 
Salah satu capaian menggembirakan terkait alfalfa ini adalah, penulis sebagai peneliti Fakultas Peternakan UGM (Universitas Gadjah Mada) (TROBOS Livestock Edisi 241 Oktober 2019 hal 128) telah berhasil melakukan pembiakan alfalfa yang dapat tumbuh dan menghasilkan biji fertile di daerah tropik. Bahkan, uji viabilitas biji alfalfa tropik yang mulanya sebesar 67 % terus meningkat hingga mencapai 82 %. Hasil uji sekuensing DNA pun menghasilkan kesimpulan, layak disebut sebagai alfalfa tropik. Hal ini menjadikan masa depan alfalfa semakin cerah, karena memiliki peluang besar untuk terbebas dari ketergantungan dengan benih alfalfa impor. 
 
 
Pekerjaan lain yang juga perlu dilakukan dalam penelitian alfalfa ini adalah tidak hanya sebatas untuk menumbuhkan dan panen dalam bentuk hijauan. Namun juga bagaimana cara meyakinkan bahwa alfalfa si queen of forage di dunia global ini juga tetap layak menyandang gelar itu di daerah tropik. 
 
 
Penulis bersama tim peneliti menemukan, bahwa nutrisi alfafa mengandung bahan kering (BK) antara 18,55 – 22,18 %, bahan organik (BO) antara 87,04 – 89,10 %, lemak kasar (LK) antara 7,91 – 10,16 %, dan protein kasar (PK) antara 22,92 – 32,27 %. Sementara pada riset lain yang penulis lakukan, disimpulkan kadar LK antara 2,88 – 6,47 % dan serat kasar (SK) antara 22,71 – 30,07 % juga mengandung Ca (0,46 %), Na (0,12 %) dan P (0,19 %). Untuk menjadi pakan ruminansia, informasi nutrisi tersebut sudah cukup. Namun demikian, nilai nutrisi alfalfa yang bisa mencapai 30 % ini terus memacu kerja tim peneliti Fapet UGM untuk mengeksplorasi lebih lanjut sampai kepada profil asam amino. Profil asam amino ini diharapkan dapat menjawab potensi alfalfa tropik sebagai bahan pakan bagi unggas. Profil asam amino alfalfa dalam bentuk segar dan dalam bentuk hay dapat dilihat pada Tabel 3. 
 
 
Uji kandungan asam amino menghasilkan kesimpulan, alfalfa tropik ini mengandung 17 jenis asam amino termasuk di dalamnya asam amino yang biasanya terdapat di dalam beberapa bahan pakan yang terbatas seperti bungkil kedelai (metionin, sistein, lisin dan triptofan), tepung ikan (metionin dan lisin), dan jagung kuning (lisin dan triptofan). Jika dilihat kandungan jenis asam amino ini maka alfalfa tropik dapat menjadi alternatif bahan pakan yang selama ini dikenal sebagai sumber asam amino bagi pakan unggas seperti jagung kuning, bungkil kedelai, dan tepung ikan. 
 
 
Sejumlah 17 jenis asam amino yang terkandung dalam alfalfa tersebut tidak terpengaruh (rusak) oleh aktivitas selama pengeringan alfalfa baik secara langsung di bawah sinar matahari, dengan pengeringan tidak langsung dari sinas matahari, maupun dengan oven 55 oC, kecuali L-Valin (Suwignyo et al. 2020). 
 
 
Sebagai pembanding, studi literasi dari berbagai jurnal riset nutrisi unggas disebutkan, kebutuhan lisin berkisar 0,45 – 0,85 % dan untuk metionin 0,10 – 0,32%. Lisin dan metionin sebagai asam amino pembatas yang sering digunakan dan sangat diperhatikan dalam campuran pakan unggas. Sebagai perbandingan, kandungan lisin adalah 2,71 – 3,90 %. Kandungan metionin tepung ikan berada pada kisaran 0,99 – 2,71 %, bungkil kedelai mengandung lisin 1,17 – 2,91 % dan metionin 0,7 – 2,51 %. Kandungan protein biji jagung pada umumnya 8 – 11 %, dengan kandungan asam amino lisin 0,05 % dan triptofan 0,225 %. 
 
 
Di negara subtropik, alfalfa selain sebagai salah satu sumber protein terbaik juga kaya berbagai mineral (fosfor, kalsium, kalium, natrium, klorin, sulfur, magnesium, tembaga, mangan, zat besi, kobalt, boron, dan molibdenum) dan vitamin (A, D, E, K, C, B1, B2, B6, B12, niasin, asam pantotenat, inositol, biotin, dan asam folat). Alfalfa kaya akan kandungan karotenoid, dan xantofil yang sangat baik untuk memberi warna kuning cerah pada karkas ayam. Alfalfa memiliki kadar saponin yang tinggi (2 – 3 % dari BK), sehingga memiliki sifat hipokolesterolemik, antikarsinogenik, antiinflamasi, dan antioksidan, energi termetabolis cukup rendah (1,200 kcal/kg).
 
 
Dengan berbagai karakter kandungan nutrisi alfalfa tersebut di atas, maka alfalfa tidak hanya baik untuk pakan ternak ruminansia, namun juga dapat menjadi alternatif bahan pakan bagi unggas terutama (bahan substitusi) sumber asam amino selain jagung, bungkil kedelai dan tepung ikan. TROBOS
 
 
*Peneliti Laboratorium Nutrisi dan Pakan Ternak 
Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain