Senin, 1 Pebruari 2021

Manajemen Nutrisi Pakan Kuda

Manajemen Nutrisi Pakan Kuda

Foto: ramdan


Pemberian pakan pada kuda perlu dilakukan secara hati-hati dan tidak boleh diberikan secara langsung dengan porsi yang terlalu banyak. Lebih baik frekuensi pemberian pakannya yang diperbanyak dari pada kuantitasnya
 
 
Kuda merupakan salah satu hewan jenis monogastrik, yaitu sistem pencernaan dengan lambung tunggal. Diketahui dari data Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa kuda di Indonesia berada di puncak populasinya pada 2012 silam, yang tercatat lebih dari 430.000 ekor. Setelah itu mulai menurun setiap tahunnya, hingga akhirnya pada 2019 populasinya mulai meningkat kembali yaitu lebih dari 390.000 ekor. 
 
 
Berlatar belakang dari menurunnya populasi dan rendahnya riset yang mengulas tentang kuda, Asosiasi Ahli Nutrisi Indonesia (AINI) menggelar zoominar AINI 7: Additive and Supplement bertajuk ‘Kebutuhan Vitamin dan Mineral Kuda serta Strategi Pemberian Pakannya’ pada Kamis (3/9). Ketua Umum AINI, Nahrowi dalam sambutannya menyebutkan bahwa perkembangan kuda di Indonesia memang tidak sebaik perkembangan ternak unggas. Selain jumlah populasi kuda yang terus menurun sejak 2012 hingga 2018, kontribusi para peneliti pada komoditas kuda pun masih sangat terbatas. 
 
 
“Jika kami kaji lebih dalam lagi ternyata membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan biaya yang banyak. Begitu pula dengan mahasiswa, hanya orang-orang tertentu yang memang ingin mengaplikasikan di lapangan seperti ke pengusaha kuda dan lain sebagainya, yang dapat memilih topik risetnya. Di luar itu, saya yakin sekali sangat kecil apalagi dengan kondisi seperti saat ini, tetapi ke depan penelitian kuda ini akan bertambah banyak jika banyak pula sosialisasi terkait kuda,” jelas Nahrowi.
 
 
Lebih lanjut, dia menerangkan tentang pakan kuda yang standar kebutuhan nutrisinya memang masih belum dimiliki, begitu pula dengan ternak-ternak lain. Terlebih lagi, jenis kuda yang terdiri dari kuda pacu, pekerja, pedaging dan lain-lain tentunya membutuhkan nutrisi yang berbeda-beda pula. Tentunya, ini menjadi tantangan AINI untuk mengarah kepada keilmuan kuda untuk ke depannya.
 
 
Perbanyak Frekuensi Pakan
Pada momen yang sama, ADM Animal Nutrition Neovia, M. Denny Sapto Prasetyo menjelaskan bahwa kuda membutuhkan sekitar 40 liter saliva per hari, dengan konsumsi rumput atau pellet yang umumnya di alam liar membutuhkan 16 – 18 jam untuk merumput. “Dalam satu proses pencernaan, kuda membutuhkan waktu sekitar 26 – 36 jam. Misalnya, kuda hari ini makan, kemudian 26 – 36 jam berikutnya baru akan diproses menjadi feses,” ujar pria yang akrab disapa Denny ini.
 
 
Terkait gradasi pakannya, masih menurut Denny, berdurasi 5 jam di lambung, 2 jam di small intestine (usus halus) dan 30 jam di big intestine (usus besar). Alasan durasi 30 jam di dalam usus besar, karena kuda adalah hewan monogastrik yang fermentasinya berada di sekum. Sehingga kuda membutuhkan waktu yang sangat lama di usus besarnya atau sekitar 1 – 2 hari untuk satu proses pencernaan.
 
 
“Lambung pada kuda sangatlah kecil yang hanya dapat menampung kapasitas sebesar 18 liter dan boleh terisi 2/3 nya atau sekitar 12 liter untuk satu proses pencernaan kuda. Maka itu, dalam pemberian pakan pada kuda perlu dilakukan secara hati-hati, dan tidak boleh diberikan secara langsung dengan porsi yang terlalu banyak. Lebih baik frekuensi pemberian pakannya yang diperbanyak dari pada kuantitasnya,” paparnya.
 
 
Di sisi lain, untuk penyerapan karbohidrat bisa didapatkan dari hijauan dan konsentrat atau pun pellet. Dari hijauan, proses pakan masuk kemudian akan menjadi selulosa atau hemiselulosa, dan akan di-breakdown di dalam usus besar. Kemudian akan dipecah menjadi volatile fatty acid (VFA), setelah itu dipecah kembali menjadi tiga asam, yaitu asam propionik, butirat dan asetat. 
 
 
Pada asam propionat akan menjadi glukosa dan glikogen, sedangkan asam butirat akan menjadi lemak serta asam asetat pun akan menjadi lemak. “Berbeda dengan pakan hijauan, pakan komplit atau konsentrat akan menjadi pati yang akan diserap di usus halus dan diubah menjadi glukosa dalam darah. Selanjutnya akan dibentuk kembali menjadi glikogen, namun jika berlebihan akan menjadi lemak,” tuturnya.
 
 
Menurut Denny, nutrisi yang dibutuhkan oleh kuda diantaranya adalah energi yang diperlukan untuk aktivitasnya sehari-hari. Kemudian protein yang sangat diperlukan untuk pembentukan massa otot. Selanjutnya, yaitu air guna menghindari dehidrasi, ada pun serat untuk proses pencernaan atau fermentasinya dan penyerapan lainnya, serta mineral dan juga vitamin.
 
 
Ada pun penemuan baru yang Denny sampaikan yaitu CAB (Cation Anion Balance) Concept, berasal dari formulasi sodium, potasioum, clorin dan sulfur. “Fungsinya adalah untuk mencegah penimbunan asam laktat pada kuda setelah melakukan aktivitas pada jenis kuda yang sering latihan, seperti kuda pacu, tunggang atau yang lainnya. CAB Concept pun bagus untuk mempercepat pemulihan (recovery),” katanya. 
 
 
Berikutnya adalah MOS (Mannan Oligo Saccharides), yaitu semacam prebiotik bersumber dari ekstrak karbohidrat yang baik untuk kekuatan flora di dalam saluran pencernaan kuda. Di samping itu, MOS juga berfungsi untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh atau imun pada kuda. Sedangkan L-Carnitine baik untuk kuda-kuda yang aktivitasnya tinggi, seperti kuda pacu, tunggang, lompat dan lainnya, karena fungsinya seperti body builder.
 
 
“Body builder pada kuda membutuhkan L-Carnitine supaya pembentukan ototnya bisa maksimal. Sehingga, saat ini L-Carnitine digunakan di dalam formulasi ransum pakan kuda, tetapi penggunaannya tidak terlalu banyak yang bagus untuk pembentukan otot dan memaksimalkan kadar lemak untuk dikonversi menjadi energi. Oleh itu, energi akan bertamnbah dua kali lipat dibandingkan kuda-kuda yang tidak menggunakan L-Carnitine,” ungkapnya.
 
 
Kebutuhan vitamin pada kuda yang paling diperlukan adalah ADEK, baik untuk jenis breeding maupun kuda-kuda performa. Vitamin B kompleks pun sangat perlu untuk digunakan kuda-kuda performa sebagai daya tahan dan stamina, tetapi yang paling penting adalah biotin yang berfungsi untuk merawat di kuku kuda. Sebab menurut Denny, ‘no hoofe no horse’ yang artinya tidak ada kuku, tidak ada kuda, karena jika kukunya bermasalah, maka kuda akan pincang dan bisa diapkir.
 
 
Sementara itu, untuk total konsumsi pakan atau feed intake kuda, Denny menguraikan yaitu sebesar 2,5 %. “Dari total feed intake, 1 % adalah dari pakan komplit atau pellet, konsentrat atau pun pakan tambahan, sedangkan 1,5 % lainnya adalah dari hay atau hay kering. Namun, jika menggunakan rumput segar bisa sekitar 2 – 4 %, tergantung dari kualitas rumput masing-masing,” terangnya.
 
 
Hal yang perlu diingat terkait pakan kuda yaitu tidak baik jika pakan diganti secara tiba-tiba. Sebab Denny menjelaskan, kuda membutuhkan transisi pakan di mana selama 4-5 hari untuk adaptasi enzimatik (enzymatic adaptation) dan 9-10 hari untuk adaptasi mikroba (microbial adaptation). Hari pertama sampai ketiga diberikan pakan baru sekitar 25 % dan pakan lama sebesar 75 %, kemudian hari keempat sampai keenam adalah 25 – 50 % pakan baru dan 50 % pakan lama, selanjutnya hari kedelapan sampai kesepuluh diberikan sebanyak 75 % pakan baru dan 25 % pakan lama.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 257/Februari 2021
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain