Senin, 1 Pebruari 2021

Solusi Komprehensif Problem Gangguan Produksi pada Layer

Solusi Komprehensif Problem Gangguan Produksi pada <i>Layer</i>

Foto: 
Gambar : lesi pada gizzard disebabkan oleh iritasi mikotoksin jenis T-2 toksin & hati nampak membengkak, warna kekuningan (degenerasi melemak) dan rapuh, karena intoksikasi mikotoksin jenis Aflatoksin.

Disajikan oleh 
Drh. Wayan Wiryawan 
PT. Farma SEVAKA NUSANTARA 
& Pengurus / Anggota ADHPI (Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia)
 
 
Fenomena kasus gangguan produksi yang terjadi pada ayam petelur (layer) dengan pola 90/60, bahkan yang awal produksinya lebih dari 90-an persen turun dalam hitungan waktu relatif singkat menjadi tinggal hanya 60% cukup marak terjadi belakangan ini pada hampir seluruh sentra peternakan ayam petelur di Indonesia. Gangguan produksi telur yang ditimbulkan disamping dalam bentuk kuantitas (penurunan jumlah telur yang sangat signifikan setiap harinya), sering juga disertai gangguan dalam bentuk kualitas telurnya. 
 
 
Berdasarkan pada pengamatan dan analisa dibeberapa lokasi peternakan yang bermasalah dengan problem tersebut, kami menyimpulkan ada beberapa faktor utama yang disinyalir menjadi akar masalah dan faktor pemicu kasus tersebut bisa terjadi. Diantaranya;1. berkenaan dengan kualitas pakan (dugaan mikotoksikosis yang menyebabkan terjadinya imunosupresi). 2. karena lemahnya praktek biosekuriti yang diterapkan dilapangan sebelum terjadinya kasus, 3. karena, problem wet droping (kotoran cenderung basah) berkepanjangan dialami kelompok ayam yang bermasalah tersebut sebelum terjadinya kasus infeksi virus plus infeksi sekunder oleh bakteri. 
 
 
Berkaitan dengan kualitas pakan yang disinyalir sebagai salah satu pemicu problem tersebut, dari analisa & pemeriksaan laboratorium yang dilakukan, ditemukan adanya cemaran beberapa jenis mikotoksin (Aflatoksin, Fumonisin, Zearalenon, Ochratoksin dan T-2 toksin) yang ada dalam sediaan pakan yang dibuat atau diberikan pada ayam yang bermasalah dengan problem 90/60 tersebut. 
 
 
Adanya polikontaminasi mikotoksin dalam level rendah dari masing-masing jenis mikotoksin yang mencemari pakan, dan diberikan dalam jangka waktu cukup panjang pada ayam menyebabkan terjadinya gangguan struktur dinding saluran pencernaan, gizzard erotion (lesi pada gizzard), gangguan fungsi hati dan juga gangguan fungsi organ penghasil zat kebal tubuh (limpa, thymus dan sumsum tulang), sehingga menyebabkan terjadinya imunosupresi. Terjadinya imunosupresi oleh karena mikotoksikosis tersebut menyebabkan ayam menjadi peka terhadap infeksi berbagai agen penyakit.
 
 
Faktor pemicu lainnya terjadi karena ayam mengalami gangguan pencernaan berkepanjangan, dimana ayam mengalami wet droping (kotoran basah), amonia tinggi dalam lingkungan kandang dan populasi lalat yang tidak terkontrol sebagai vektor penyebaran agen penyakit, termasuk juga vektor dari cacing pita.
 
 
Lemahnya praktek biosekuriti yang semestinya secara konsisten harus dilakukan menyebabkan tingkat tantangan (challenge) agen penyakit yang ada di lingkungan peternakan cukup tinggi membuat tingkat patogenitas dan virulensi dari virus penyebab infeksi penyakit menjadi meningkat, sehingga menyebabkan infeksi dan gangguan produksi pada ayam. 
 
 
Dari adanya faktor pemicu diatas, membuat terjadinya penurunan status kekebalan tubuh ayam (imunosupresi), sehingga ayam menjadi sangat peka terhadap infeksi agen penyakit. Baik yang disebabkan infeksi virus maupun bakteri dan atau infeksi campuran oleh virus serta bakteri. 
 
 
Agen infeksius yang menyebabkan gangguan produksi dimana produksinya turun secara signifikan mulai dari 90-an persen menjadi tinggal hanya 60-an persen atau bahkan ada yang drop produksinya sampai 50-an persen, diantaranya ada yang diakibatkan infeksi virus AI (baik H9N2 maupun H5N1), atau infeksi virus IB, ND, EDS dan juga IBH serta ada juga karena infeksi kuman Salmonella & E.coli (Kolibasilosis), Clostridium perfringens penyebab NE dan Coryza.
 
 
Langkah – langkah Penanganan 
Solusi penanganan dan untuk mencegah jangan sampai problem 90/60 terulang kembali, ada beberapa tindakan yang kami bisa sarankan untuk dilakukan, diantaranya: 
1. Menjalankan praktik biosekuriti, yakni dilakukan secara konsisten sanitasi atau menjaga kebersihan lingkungan peternakan, membatasi pihak luar (TS obat hewan/orang luar) untuk keluar masuk lokasi peternakan dan lakukan juga program disinfeksi secara rutin pada lingkungan sekitar peternakan untuk tujuan mengurangi cemaran kuman/virus yang ada dalam lingkungan peternakan maupun didalam kandang, baik pada saat periode istirahat kandang maupun saat ada ayam didalam kandang. 
 
 
2. Menggunakan bahan baku pakan berkualitas baik untuk membuat ransum/pakan lengkap buat ayam, seperti memilih dedak, MBM dan juga jagung serta bungkil kedelai berkualitas baik, dimana sangat minim cemaran toksinnya (seperti mikotoksin).
 
 
3. Menambahkan anti-mikotoksin/toksin absorbent yang punya kemampuan mengikat secara optimal semua jenis mikotoksin/toksin kedalam campuran pakan untuk mencegah ayam dari efek mikotoksin/toksin yang menyebabkan imunosupresi.
 
 
4. Untuk mengatasi dan mencegah wet droping (kotoran ayam yang keluar dari kloaka seperti diare/fesesnya pecah dan basah), melalui pakan (dicampurkan dalam sediaan pakan) disarankan pemakaian toksin absorbent untuk mengatasi diare dan menyerap racun. Serta dibarengi dengan pemberian sodium butyrate double buffer yang di desain khusus untuk pemakaian pada unggas & hewan kecil, dimana punya fungsi untuk memperbaiki kondisi vili – vili usus yang rusak akibat keracunan atau pemberian antibiotik (AGP) secara terus menerus sebelumnya. Lalu dikombinasi dengan pemberian produk pengganti AGP seperti essential oils + asam organik yang berfungsi sebagai pengganti AGP untuk menekan populasi kuman entero-patogen pada saluran pencernaan bagian bawah (illium & colon).
 
 
5. Bila terjadi kasus 90/60 tersebut kuat dugaannya karena infeksi virus, maka untuk mempercepat proses kesembuhan ayam, melalui air minum dapat diberikan produk essential oil yang mengandung Eucaliptus sebagai anti-virus yang dikombinasi dengan Mentol sebagai antimikrobial dan mencegah pembentukan eksudat pada saluran pernapasan, sehingga ayam mudah bernapas (untuk menghirup sebanyak mungkin oksigen) serta mengandung Saponin untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh ayam tersebut.
 
 
6. Lakukan vaksinasi dengan menggunakan vaksin apapun yang berkualitas baik dan waktu vaksinasi yang sesuai anjuran pabrik pembuat vaksinnya.
 
 
7. Pastikan selalu memberikan ayam air minum yang telah disterilisasi dengan melarutkan Hidrogen Peroxida yang telah distabilisasi dengan dosis sesuai rekomendasi pabrik pembuatnya, dimana bertujuan untuk mencegah penularan agen penyakit yang mencemari sumber air minum untuk ayam. Pastikan kadar aktif dari H2O2 tetap tersedia dalam air minum yang siap diminum oleh ayam pada level minimum 10 – 20 ppm.
 
 
8. Bila penyebab gangguan produksi 90/60 adalah infeksi bakteri, akan sangat dianjurkan melakukan pengobatan secara tuntas menggunakan antibiotik dengan kualitas terbaik. Serta pemberian produk dengan kandungan kombinasi beberapa jenis essential oil yang dapat membantu mencegah infeksi virus dan bakteri lainnya yang dapat memperparah problem pencernaan maupun pernapasan.
 
 
Demikian solusi komprehensif yang dapat kami sampaikan, semoga dapat membantu mengatasi dan juga sekaligus mencegah problem kesehatan dan gangguan propduksi yang dihadapi pengusaha peternakan ayam petelur dilapangan. TROBOS
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain