Selasa, 16 Pebruari 2021

Siskeswannas dan Otoritas Veteriner Masih Menantikan Payung Hukum

Siskeswannas dan Otoritas Veteriner Masih Menantikan Payung Hukum

Foto: dok.istimewa


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Berbilang tahun ditunggu, payung hukum bagi sistem kesehatan hewan nasional (Siskeswannas) yang akan menempatkan otoritas veteriner sebagai penyelenggaranya belum kunjung terbentuk.

 

Sistem Kesehatan Hewan Nasional (siskeswanas) merupakan suatu tatanan kesehatan hewan yang ditetapkan oleh pemerintah, dan diselenggarakan oleh otoritas veteriner dengan melibatkan seluruh penyelenggara kesehatan hewan, pemangku kepentingan, dan masyarakat secara terpadu. Hingga saat ini, Kementrian Pertanian (Kementan) masih belum juga menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) tentang siskeswanas.

 

Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Fadjar Sumping Tjatur Rasa menyatakan bahwa pihaknya akan terus mengupayakan agar dapat membuat dan menetapkan payung hukum penetapan siskeswanas. Baik di tingkat sub sistem masing-masing, maupun di tingkat nasional.

 

Belum dibuatnya Permentan mengenai siskeswanas ini, menurut Fadjar dikarenakan banyaknya pihak yang harus terlibat di dalamnya. “Otoritas veteriner Indonesia ini terdapat di bebeapa tempat, misalnya di Kementan, Ditjen PKH, Badan Karantina Pertanian, Kementrian Kelautan dan Perikanan, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta masih banyak lembaga lainnya,” kata Fadjar.

 

Disamping itu, Ditjen PKH juga akan mengupayakan penetapan Veterinary Statutory Body (VSB). Menurut Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE), VSB sejatinya merupakan suatu badan regulator yang otonom untuk dokter hewan dan para profesional veteriner. Sebenarnya, penetapan VSB ini merupakan satu amanah yang harus segera diimplementasikan di Indonesia.

 

“VSB akan memayungi dan melindungi proses pelayanan kesehatan hewan secara nasional, khususnya para praktisi dan seluruh dokter hewan dalam melakukan kegiatannya,” tambah dia.

 

“Saat ini, kami mendukung penerapan prinsip one health di dalam penanganan penyakit hewan menular strategis, khususnya zoonosis,” lanjut Fajar. Antisipasi terhadap bahan biologik berbahaya juga dilakukan, seperti penyimpanan beberapa agen penyakit yang bersifat zoonosis dengan meneraapkan aspek biosekuriti dan keamanan. Kemudian, dilakukan pula penanganan penyakit infeksi baru dan penyakit berulang aau re-emerging disease.

 

“Guna menanggulangi penyakit zoonosis, kami tentunya sudah mendapat dukungan dari para mitra seperti OIE, FAO (Food and Agriculture Organization) dan WHO (World Health Organization)” tukas Fadjar. ed/ajengw

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain