Kamis, 18 Pebruari 2021

Membedah Teknik Transfer Embrio pada Sapi

Membedah Teknik Transfer Embrio pada Sapi

Foto: dok.TROBOSLivestock


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Transfer Embrio atau yang biasa disebut TE, menggunakan ovum terbuahi (embrio) yang dikoleksi dari saluran reproduksi sapi betina donor, selanjutnya diimplantasi dan dipindahkan ke sapi betina akseptor/resipien sehingga terjadi kebuntingan.

 

Dosen di Departemen Reproduksi, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Abdul Samik menjabarkan beberapa kelebihan TE dibanding dengan IB (Inseminasi Buatan). Meskipun, keberhasilan TE masih jauh di bawah IB yakni hanya 22 %.

 

“Keutungannya adalah memperbanyak keturunan dari jantan dan betina dengan kualitas genetik unggul. Kemudian, akan terjadi peningkatan reproduksi. Karena meningkatnya jumlah anak per kelahiran. Jadi, induk donor yang unggul tidak perlu menunggu setahun untuk menghasilkan pedet (anak sapi) lebih dari satu ekor,” kata dia.

 

Saat ini, TE banyak dilakukan di BET Cipelang. Embrio yang dihasilkan di Cipelang sudah pasti merupakan bibit unggul. “Karena, yang digunakan adalah genetik murni. Berbeda dengan perguruan tinggi yang terjun ke lapangan mencari donor. Genetiknya belum tentu murni, sehingga terkadang hasilnya jauh dari ekspetasi kami,” tambah Abdul.

 

TE pertama kali dikenalkan oleh warga negara Inggris tahun 1890, dan pertama kali dilaporkan pada kelinci. Kemudian, berkembang lagi pada domba pada 1934. Memasuki tahun 1951, TE berkembang dan dilakukan pada sapi, kerbau serta babi. BET (Balai Embrio Ternak) Cipelang sendiri mulai melakukan TE pada 1994 hingga sekarang. Bahkan, perguruan tinggi melakukan TE terlebih dahulu, terutama untuk sapi potong pada 1990 – 2000.  

 

Super Ovulasi

Masih menurut Abdul, teknik yang dapat digunakan dalam TE adalah super ovulasi. Teknik ini memungkinkan petugas untuk mendapat embrio banyak sehingga betina mampu menghasilkan pedet lebih dari satu. Dapat diikuti pula dengan teknologi penentuan jenis kelamin, memungkinkan pemilihan gen dalam rangkaa pembentukan ternak transgenik.

 

Dia merinci, teknik TE dapat pula mengubah tipe ternak dari tipe potong ke tipe perah dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama. Penggunaan embrio beku dirasa lebih efisien karena mampu disimpan lama sebagai stok, serta dapat dibawa ke daerah-daerah yang membutuhkan.

 

Metode TE dilaporkan ada dua. Pertama adalah dengan melakukan super ovulasi donor. Setelah memanen embrio, dilakukan dan klasifikasi. Terakhir, pemindahan embrio pada sapi penerima atau recipient.  Kedua adalah dengan pembekuan embrio. Mikromanipulasi embrio seperti splitting, sexing, dan transfer nukleus juga bisa dilakukan.

 

Menyiapkan Donor dan Akseptor/Resipien

Prinsip dasar dari produksi embrio adalah memilih sapi donor yang berasal dari breed unggul dan murni. Ketentuan dalam memilih sapi donor adalah sehat, umur tidak terlalu tua (sekitar 3 – 8 tahun), memiliki siklus birahi yang teratur, dan memiliki kesuburan serta produktivitas yang tinggi pula.

 

Untuk sapi penerima atau resipien, ketentuan yang harus terpenuhi adalah sama dengan sapi donor, yakni memiliki siklus birahi yang normal dan diusahakan sapi yang sudah pernah beranak. Kemudian, dilakukan sinkronisasi birahi, dan baru dilakukan TE.

 

“Produksi embrio yang saya dan tim lakukan di lapangan adalah dengan in vivo. Selain itu, ada juga in vitro yang dikembangkan di laboratorium. In vivo sendiri merupakan kegiatan memanen atau mengambil embrio yang terdapat dalam uterus sapi betina donor dengan menggunakan media tertentu. Kami menguras embrio yang ada di uterus, kemudian memindahkan embrio pada sapi betina lain (resipien) atau bisa juga dibekukan,” papar dia.

 

Sedangkan metode in vitro yang merupakan fertilisasi antara spermatozoa dengan ovum dalam laboratorium, dengan menggunakan alat seperti cawan petri yang diinkubasi pada alat inkubator CO2.

 

“Faktor keberhasilan TE tergantung dari sapi resipien, kualitas embrio dan teknik transfer yang digunakan. Tentunya, embrio yang dihasilkan harus berkualitas unggul, tidak mengalami kematian dan disimpan dengan baik,” pungkasnya. ed/ajeng

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain