Kamis, 18 Pebruari 2021

Pernah Datang Belajar Semasa Orba, Persusuan Indonesia Kini Disalip Vietnam ?

Pernah Datang Belajar Semasa Orba, Persusuan Indonesia Kini Disalip Vietnam ?

Foto: ist/dok.FrieslandCampinaComNg
Sebuah tempat pengumpulan susu di Vietnam.

Jatinangor (TROBOSLIVESTOCK.COM). Persusuan nasional terlihat kepayahan untuk mentas dari problem klasiknya, bahkan berpotensi disalip Vietnam yang pernah belajar budidaya sapi perah kepada Indonesia di masa orde baru.

 

Hal ini terungkap dalam Simposium Ilmiah yang digelar Fakultas Peternakan Universitas Pajadjaran bersama Friesian Flag Indonesia (FFI) secara virtual pada Kamis (18/2). Simposium ini juga membedah peluang kerjasama dalam bentuk magang bersertifikat bagi masiswa dan riset bersama Fapet Unpad - FFI.

 

Fresh Milk Relationship Manager Friesian Flag Indonesia (FFI), Efi Lutfillah pada kesempatan itu menyampaikan indikator paling mudah terlihat adalah realita 95 % proses pemerahan susu yang dilakukan peternak Indonesia masih manual.

 

Dia meengajak melihat ke belakang, pada 1980-an silam Vietnam mempelajari manajemen pemeliharaan sapi perah (termasuk pemerahan susu) ke Indonesia. Hasilnya, saat ini sudah 80 % peternak di sana memerah susu dengan menggunakan mesin, tidak lagi manual. Dari fakta tersebut, Indonesia seharusnya dapat berkaca dari Vietnam yang  pernah menimba ilmu di tanah air.

 

FFI pun tidak tinggal diam, memberikan kesempatan bagi peternak muda untuk mentransformasi peternakannya, sekaligus sebagai pendorong regenerasi peternak, melalui program Farmer 2 Farmer. Program ini menjadi ajang bertukar pengalaman dan ilmu dari peternak di Belanda. Biasanya, para peternak asal negeri kincir angin itu akan datang langsung ke Indonesia, dan membagikan pengetahuannya seputar sapi perah. Bahkan beberapa tahun lalu, FFI berhasil mengirim 4 peternak ke Belanda untuk praktik manajemen pemeliharaan sapi perah secara langsung.

 

“Peternak lokal kita harus bisa menyerap dan mempraktikkan ilmu yang diberikan. Mengapa produksi susu nya berbeda? Kalau di Belanda, produksi susu bisa mencapai 30 kg per ekor per hari atau bahkan lebih. Namun, di Indonesia hanya terpaku di 12 kg saja. Padahal, jenis sapi yang diternakkan juga sama,” kata Efi sembari melempar tawa.

 

Dirinya mengharapkan, perguruan tinggi mampu memaksimalkan hasil riset yang dimiliki dan menggandeng pihak industri. Saat ini, pemerintah sedang mencari konsultan untuk meningkatkan eksistensi sektor sapi perah dan susu. Ketika industri susu dalam negeri bisa didongkak, produksi susu juga akan melonjak. Sehingga, penekanan terhadap susu impor terwujud.“Saya kira, Fapet Unpad bisa menjadi konsultan bagi pemerintah,” ujar dia optimis.

 

Bicara mengenai sapi perah, maka tak bisa lepas dari pembahasan kondisi perususan tanah air. Saat ini, konsumsi susu masyarakat Indonesia hanya 16,5 kg per kapita per tahun, dengan jumlah penduduk sekitar 270 juta jiwa. Apabila menilik kondisi di Malaysia, tentunya negeri ini masih jauh tertinggal.

 

“Konsumsi susu di Malaysia sudah mencapai 60 kg per kapita per tahun. Jika kita bisa naik hingga 20 kg saja, itu merupakan hal yang baik,” Efi.

 

Jumlah peternak sapi perah lokal saat ini sekitar 183 ribu orang dan jumlah koperasi susu sebanyak 59 unit. Menurut Efi, jumlah koperasi tersebut jauh menurun dari tahun 1996, yang pada saat itu berjumlah 80 unit. ed/ajengw

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain