Senin, 22 Pebruari 2021

Inilah Fakta Seputar Daging Sapi Beku Impor

Inilah Fakta Seputar Daging Sapi Beku Impor

Foto: ist/dok.pixabay


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Dampak yang ditimbulkan dari adanya importasi daging beku sapi terbilang kecil. Penyebabnya adalah karena preferensi masyarakat yang lebih memilih konsumsi daging sapi segar, daripada harus mengonsumsi daging sapi beku.

 

Aditya Priantomo - Peneliti Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan, Kementrian Perdagangan menyatakan dalam jangka pendek hanya harga daging sapi beku impor saja yang mempengaruhi harga daging sapi dalam negeri. Apabila terjadi penurunan harga daging sapi impor sebesar Rp 10.000 pada periode sebelumnya, maka harga daging sapi dalam negeri juga ikut mengalami penurunan Rp 724 di periode selanjutnya.

 

Pada seminar virtual “Research Talk 2021” yang dihelat oleh Kementrian Perdagangan RI beberapa saat lalu, dia juga menyoroti belum meratanya distribusi daging beku sapi imporsebaga salah satu faktor signifikan. Adanya daging tersebut hanya ditemukan di kota-kota besar, khususnya pulau Jawa.

 

Bahkan, tegas Aditya menyatakan masih ditemukan pula praktik oplosan daging beku. Caranya adalah dengan dicairkan dan dicampur dengan daging sapi segar. Penjualan daging yang dilakukan biasanya dengan iming-iming daging segar, dengan begitu penjual akan mendapat keuntungan lebih.

 

Meskipun dampak importasi daging sapi beku kecil, langkah ini tetap diperlukan untuk mengisi kekosongan pasokan daging sapi dalam negeri. Sehingga, kestabilan harga mampu tercipta.

 

“Seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Tingginya harga sapi bakalan impor dibarengi dengan berkurangnya pasokan. Jadi, daging sapi beku ini bisa menjadi alternatif bagi para konsumen dan membuat harga daging sapi bisa stabil,” tukas Aditya.

 

Diapun meminta pemerintah lebih fokus untuk melakukan pembibitan saat melakukan pengembangan peternakan. Selain itu, pemerintah juga diharapkan lebih gencar dalam melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat demi mengubah persepsi masyarakat tentang daging beku. Untuk penentuan jumlah impor daging beku, harus disesuaikan dengan keinginan masyarakat terkait jenis dan bagian daging sapi.

 

Kesimpulan penting itu diperoleh Aditya dari analisis dampak impor daging beku terhadap harga daging sapi dalam negeri dengan metode Vector Error Correction Model (VERM).  

 

Penelitian dia terdahulu menunjukkan harga daging sapi dipengaruhi oleh produksi, konsumsi, harga internasional, harga impor dan volume impor. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data bulanan yang tercatat mulai tahun 2015 – 2019.

 

“Adapun deretan komponennya adalah yang berkaitan dengan harga daging impor, volume daging impor, harga daging sapi domestik, harga internasional,” papar dia.

 

Gap, Masih Terjadi

“Pada 2015, kebutuhan daging sapi sekitar 613 ribu ton. Kemudian jumlahnya meningkat pada 2019 menjadi 668 ribu ton. Akan tetapi, adanya peningkatan kebutuhan ini tidak diimbangi dengan jumlah produksi daging dalam negeri,” kata dia.

 

Kondisi ini bertolak belakang terjadi pada produksi daging dalam negeri yang mengalami penurunan setiap tahunnya. Masih menurut Aditya, produksi daging sapi sekitar 506 ribu ton pada 2015. Lalu, pada 2019 jumlahnya jauh merosot menjadi 409 ribu ton saja.

 

Guna mengatasi kekurangan atau gap dari kebutuhan produksi daging sapi, maka salah satu program yang diambil pemerintah adalah melakukan importasi daging beku. Sebagai peneliti, Aditya menilai jikalau peningkatan daging impor beku yang tejadi setiap tahunnya belum mampu menekan harga daging sapi yang masih tergolong tinggi. rw/ajeng

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain