Selasa, 23 Pebruari 2021

Jangan Abaikan Konsumsi Telur !

Jangan Abaikan Konsumsi Telur !

Foto: ist/dok.pixabay


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM) Menjaga imun tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi tinggi, terutama dari protein hewani. Setelah ditilik, masyarakat cenderung memilih telur sebagai kudapannya.

 

Produk ayam petelur (layer) ini memiliki zat gizi lengkap, termasuk di dalamnya kalsium dan seng (Zn). “Nilai biologis telur tergolong tinggi, sekitar 84 %. Ini menandakan jika telur mudah dicerna dan diserap tubuh. Selain bergizi padat, ketersediaan telur melimpah dan harganya ekonomis,” ujar Direktur Gizi Masyarakat, Kementrian Kesehatan RI, RR Dhian Probhoyekti Dipo.

 

Data yang dihimpu BPS (Badan Pusat Statistik) pada 2018 menunjukkan 25,97 % kebutuhan gizi masyarakat berasal dari protein hewani. Apabila diambil rata-ratanya, angka tersebut setara dengan 16,67 gram protein per orang per hari. Padahal, kebutuhan protein per individu adalah 60 gram. Komponen protein hewani menyumbang angka yang dirasa masih sangat kecil, yakni daging 6,89 % atau 4,5 gram dan telur plus susu yang hanya memiliki prosentase 5,31 % atau sama dengan 3,5 gram saja.

 

Pola konsumsi masyarakat di perkotaan dan pedesaan masih mengandalkan asupan dari protein nabati, sebesar 28,72 gram protein per orang per hari. Padahal, konsumsi protein hewani juga mutlak diperlukan agar terhindar dari defisiensi zat besi.

 

“Untuk memetabolisme zat besi, maka dibutuhkn potein hewani. Tidak seimbangnya konsumsi protein hewani dan nabati ini juga berdampak pada tingginya kasus anemia di Indoesia,” kata Dhian khawatir.

 

Fakta, 5 dari 10 ibu hamil di Indonesia terserang anemia. Tentunya, akan berdampak buruh terhadap tumbuh kembang janin. Selain itu, 2 – 3 dari 10 remaja puteri dan wanita usia subur juga rawan menderita anemia. Ditambah lagi, sebagian dari anak usia 6 – 23 bulan tidak mengonsumsi makan-makanan bergizi dan beragam.

 

Dhian memberikan imbauan, bahwa ada baiknya masyarakat mengonsumsi 2 butir telur per hari, guna memenuhi sepertiga dari total kebutuhan gizi tubuh.

 

“Dari penelitian yang ada, telur dapat digunakan sebagai makanan pendamping ASI yang mampu memenuhi kekurangan zat besi, kalsium dan niasin pada anak usia 6 – 8 bulan, 9 – 11 bulan dan 12 – 23 bulan,” tambah dia.

 

Dosen Gizi Universitas Gadjah Mada (UGM), Toto Sudargo menambahkan, salah satu masalah kesehatan yang hingga sekarang masih mengurung negeri ini adalah stunting atau kekurangan gizi. Kasus ini jelas mempengaruhi tumbuh kembang anak, baik itu pertumbuhan pada tubuh dan otaknya. Toto menguraikan target penurunan stunting sebesar 14 % pada 2024 mendatang.

 

“Tentunya, ini adalah kegalauan kita bersama. Apabila tidak ada kerjasama antar pihak, maka saya ragu target akan tercapai. Padahal, 2024 sudah sebentar lagi dan saat ini angka stunting negera kita masih di angka 30 %,” kata Sekretaris Pergizi Pangan ini.

 

Pemerintah jelas harus aktif melakukan edukasi dan imbauan secara masif kepada masyarakat untuk selalu mengonsumsi telur. Program tersebut harus menjadi prioritas, mengingat pentingnya konsumsi telur bagi masyarakat luas. ed/ajeng

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain