Mimbar TROBOS #13 : Kolibasilosis, Masih Oportunis

Mimbar TROBOS #13 : Kolibasilosis, Masih Oportunis

Foto: 


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Fakta, Escherichia Coli merupakan bakteri normal pada lingkungan yang setiap saat dapat menjadi patogen. Maka, bagaimana cara mencegah dan mengatasi kolibasilosis ?
 
Kolibasilosis atau infeksi E Coli hampir selalu hadir dengan didahului oleh faktor predisposisi, alias infeksi penyakit lain terutama pernyakit pernafasan yang menekan kekebalan tubuh (imunosupresif). “Kolibasilosis jarang ditemui outbreak tanpa didahului kasus pernafasan terlebih dahulu. Perubahan musim mempengaruhi stress broiler sehingga mikroorganisme opportunis ini dapat masuk dan menginfeksi,” ungkap Taopik Robina - Head of Operation Commercial Farm PT Indojaya Agrinusa (Japfa Group) Medan pada Seminar Online Mimbar 13 TROBOS Livestock “Kolibasilosis pada Ayam” pada Rabu (23/2).
 
Selain Taopik, tampil sebagai pembicara seminar yang disiarkan melalui aplikasi Zoom, kanal Youtube AgristreamTV dan Facebook Live Trobos Livestock ini menghadirkan Betty Yuriko – Senior Technical Manager Zoetis Indonesia dan Shervida Rismawati – Technical Education Consultation Medion.
 
AFEC, APEC dan Patogenesisnya
Betty Yuriko menyatakan, E coli ada yang bersifat komensal di fecal dan saluran pencernaan atau avian foecal E coli (AFEC), namun ada yang patogenik atau avian pathogenic E coli (APEC). “APEC bisa ada di pencernan (intestinal APEC) dan ada yang di luar pencernaan (extra intestinal APEC),” kata dia. Dia menambahkan,  E coli yang non patogenik bisa berubah menjadi patogen ketika mendapat transfer sifat patogenisitas dari E coli patogen melalui pillus.
 
Dia menjelaskan, selama usus ayam utuh atau sehat, APEC pada ayam jarang menimbulkan diare hebat. Namun justru extra intestinal  APEC lebih berbahaya pada ayam. Koli di luar usus membuat penyakit pernafasan ayam menjadi lebih berat. Membuat perkejuan di organ dalam seperti usus, hati, jantung, bisa sampai di otak, dan ompalitis (radang yolk sacc / pusar) pada anak ayam (DOC).
 
Patogenesis / masuknya infeksi E coli, menurut Betty dapat terjadi melalui melalui 2 jalur. Pertama melalui telur tetas yang terkontaminasi E coli pada kotoran ayam dll. Embrio tidak akan menetas kalau telur terkontaminasi. Kalau hidup, embrio akan tumbuh kerdil.
 
“Ada gambaran dilatasi atau peradangan hingga perdarahan yang hebat kalau kontaminasinya tinggi. Kalau kontaminasi ringan, embrio dapat menetas tetapi akan menderita ompalitis. Ompalitis berat pada minggu pertama akan menimbulkan kematian tinggi. Kalau tidak berat, maka ayam akan rewel, terus ada perkejuan pada organ dalam, jantung, hati, dll. Lalu ada gambaran ascites,” dia menguraikan.
 
Jalur kedua, Betty melanjutkan, E coli masuk melalui udara tetapi sumbernya berasal dari air. E coli dari air minum masuk melalui usus ayam dan keluar melalui kotoran kandang. Kemudian kotoran menjadi debu kandang yang mengandung koli. Udara kandang akan pekat dengan kuman koli jika sanitasi tidak bagus. Pada kondisi pekat bisa berkonsentrasi 100 ribu- 1 juta partikel E coli pergram partikel udara.
 
“Di saluran pernafasan ada reseptor yang bisa menangkap E coli sehingga menyebabkan radang pernafasan hebat yang disebabkan koli. Pada 6 jam setelah infeksi dalam pernafasan, maka akan ditemukan koli dalam darah, yang akan mengalirkannya ke seluruh tubuh ayam.
 
Dia menggaribawahi, sebagai faktor predisposisi, kejadian konsentrasi amonia tinggi, penyakit ND (newcastle disease), mycoplasma, dan kegagalan manajemen (ventilasi buruk, kepadatan berlebih, litter buruk, air minum tercemar dll)  akan menjadi gangster yang memperberat kasus pernafasan ayam bersama E coli.
 
“Perjalanan serangannya lebih lambat daripada viral, tapi perkejuan pada organ dalam akan menyebabkan peradangan pada saluran reproduksi dan bisa menurunkan produksi telur.  Pada kondisi parah bisa menyebabkan peradangan hebat, bakterimia yang berujung kematian,” tandas dia.
 
Dipaparkan Betty, kolibasilosis bisa bersifat lokal maupun sistemik. Walaupun, kolobasilosis lebih sering dijumpai menjadi sistemik. Tandanya, ada perkejuan-perkejuan / koligranuloma, salpingitis berupa peradangan prkejuan yang padat, besar, pada saluran reproduksi ayam petelur maupun breeder. Pada ayam petelur dan breeder fase produksi, kolibasilosis dipastikan menurunkan produktivitas dan peradangan pada tulang kaki / lutut (synovitis) .
 
“Kolibasilosis pada broiler akan menyebabkan merah melepuh pada otot dada (breast blister) karena selulitis dan perkejuan pada otot dada. Sehingga di luar negeri, hal ini menjadi masalah besar karena mereka suka mengkonsumsi daging dada, sehingga tidak mau daging dada ini rusak,” jelas dia.
 
Shervida Rismawati mengatakan, kolibasilosis menduduki peringkat ketiga penyakit pada ayam broiler dan peringkat kelima pada layer sepanjang 2020. Pada ayam pedaging kolibasilosis terjadi nampir pada semua umur terlebih sebelum 2 pekan. Pada layer, paling banyak kolibasilosis menyerang ayam umur 6 - 14 hari dan 15 - 35 pekan. 
 
Dia pun menyodorkan data, cemaran E coli pada air minum merupakan pencetus kolibasilosis yang menjadi problem utama nomor 2 kualitas air minum ayam di Indonesia. Salahsatu manifestasinya adalah, kasus chronic respiratory disease (CRD) kompleks yang merupakan serangan bersama CRD dan kolibasilosis merupakan ancaman peringkat kedua pada broiler dan peringkat keempat pada pulet dan peringkat ketiga pada layer.
 
Shervida menggarisbawahi, pada kasus low pathogenic avian influenza (LPAI) masuknya serangan E coli akan meningkatkan resiko kematian dari 5% menjadi 50% bahkan lebih tergantung tingkat keparahan kolibasilosisnya.
 
Pencegahan dan Penanganan
Taopik, Betty dan Shervida satu suara, untuk mencegah kolibasilosis, biosekuriti, sanitasi dan desinfektansi harus diperketat. Mereka merekomendasikan klorinasi sebagai langkah yang masih efektif untuk menekan resiko infeksi melalui  air minum. Selain itu, E coli juga dapat ditekan konsentrasinya di lingkungan kandang dengan desinfektansi, dan hampir semua desinfektan efektif pada E coli. Penting juga dilakukan langkah-langkah pengontrolan cemaran amonia.
 
Taopik merinci, dosis klorinasi air minum pada kondisi biasa antara 3 - 5 ppm, namun pada kondisi tertentu bisa dinaikkan hingga 7 ppm tanpa mengganggu kondisi ayam. “Pertimbangannya, untuk konsentrasi 7 ppm atau lebih adalah faktor peralatan dan saluran air saja,” ujarnya.
 
Untuk mencegah kolibasilosis, Betty menawarkan vaksin live yang sudah dimodifikasi sehingga E coli di dalamnya tidak bereplikasi sehingga tidak akan mengkontaminasi lingkungan. Jika sudah terjadi outbreak, pengobatan dapat dilakukan dengan antibiotik kombinasi linkomisin dan spektinomisin yang memiliki sifat sinergi.
 
“Sensitifitas spektinomisin terhadap bakteri gram negatif hanya 75% tapi ketika dikombinasikan dengan linkomisin bisa naik menjadi 85%, dan lebih broad spectrum terhadap berbagai varian E coli.  Linkomisin bisa menggertak sel fagosit dan membantu sel fagosit untuk membunuh kuman, atau disebut host defence mechanism. Kombinasi ini sangat larut pada air, meskipun pada air minum kesadahan tinggi, tetap aman digunakan,” tuturnya.
 
Shervida menjelaskan berbagai jenis antibiotika dapat dipergunakan untuk menghadapi kolibasilosis, sehingga lebih mudah melakukan rolling antibiotik. Diantaranya linkosamida, sulfonamida – diaminopirimidin, tetrasiklin, aminoglikosida dan fluorokuinolon.
 
“Jenis penisilin dapat digunakan, namun tidak boleh untuk kolibasilosis yang disertai CRD atau CRD kompleks,” tandas dia. Selain itu dia pun menyatakan, telah ada di pasaran, sediaan herbal yang dapat juga dipergunakan untuk terapi kolibasilosis ini. ntr
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain