Senin, 1 Maret 2021

Kolibasilosis Pada Ayam

Kolibasilosis Pada Ayam

Foto: dok medion


Perlu menyusun program yang luas dan komprehensif agar penyakit ini dapat ditekan seminimal mungkin. Jika melakukan pengobatan dengan antibiotik pun harus dirotasi agar tidak terjadi resistensi yang bisa memperparah penyakit ini
 
 
Escherichia coli (E. coli) merupakan bakteri normal pada lingkungan yang setiap saat dapat menjadi patogen. Kolibasilosis atau infeksi E.coli hampir selalu hadir dengan didahului oleh faktor predisposisi, alias infeksi penyakit lain terutama penyakit pernapasan yang menekan kekebalan tubuh (imunosupresif). 
Kolibasilosis jarang ditemui tanpa didahului outbreak kasus pernapasan terlebih dahulu. Perubahan musim disertai kualitas brooding dan air minum dapat memengaruhi stres broiler (ayam pedaging). Akibatnya mikroorganisme opportunis ini dapat masuk dan menginfeksi terutama ketika musim hujan yang disebabkan faktor kelembapan tinggi. 
 
 
“Data menunjukkan, kolibasilosis pada broiler cenderung meningkat ketika musim hujan. Terutama pada periode Oktober – Maret,” ungkap Taopik Robina – Head of Operation Commercial Farm PT Indojaya Agrinusa Medan (Japfa Group) pada Seminar daring MIMBAR TROBOS Livestock The Series ke-13 yang digagas Majalah TROBOS Livestock dan disiapkan TComm (TROBOS Communication) dengan tema “Kolibasilosis pada Ayam”, Rabu, 23 Februari 2021. Acara yang disponsori oleh PT Zoetis Indonesia dan PT Medion Farma Jaya yang disiarkan melalui aplikasi Zoom, kanal Youtube Agristream TV, dan Facebook Live Trobos Livestock ini juga menghadirkan pembicara Betty Yuriko – Senior Technical Manager Zoetis Indonesia serta Shervida Rismawati – Technical Education Consultation Medion.
 
 
Shervida mengutarakan bakteri E.coli yang menyebabkan kolibasilosis memiliki genus Escherichia dan famili Enterobacteriaceae. Bakteri ini masuk ke dalam gram negatif. Hal itu perlu dimengerti karena erat kaitannya dengan pemilihan antibiotik yang efektif dalam mengatasi kolibasilosis. “Bakteri ini tidak tahan asam artinya dalam kondisi pH rendah, bakteri E.coli akan lebih mudah mati dan tidak berspora,” terangnya. 
 
 
Terkait habitatnya, kata dia, E.coli hidup normal pada saluran pencernaan ayam. Bakteri ini mudah tumbuh pada suhu lingkungan normal baik dengan ada atau tidak adanya oksigen. Juga tahan hidup di luar tubuh ayam selama beberapa minggu akan tetapi tidak tahan terhadap kekeringan dan desinfektan.  
 
 
AFEC, APEC, dan Patogenesisnya
Betty Yuriko menyatakan, E.coli ada yang bersifat kuman komensal di saluran pencernaan atau Avian fecal E.coli (AFEC), artinya tidak memberikan kerusakan pada ayam namun ada kelompok yang berbahaya bersifat patogenik atau Avian Pathogenic E.coli (APEC). “APEC bisa ada di pencernaan (intestinal APEC) dan ada yang di luar pencernaan (ekstra intestinal APEC),” katanya. 
 
 
Dia menambahkan, E.coli yang non patogenik bisa berubah menjadi patogenik ketika mendapat transfer sifat patogenisitas dari E.coli patogen. Mekanismenya ketika E.coli donor yang bersifat patogen mentransfer sebagian sifat material selnya pada E.coli resipien melalui pillus. Walhasil E.coli yang bersifat non patogen berubah menjadi nakal. “Arti nakal karena mampu mengakibatkan kerusakan pada ayam,” kilahnya.
 
 
Dia menjelaskan, selama usus ayam utuh atau sehat, APEC pada ayam jarang menimbulkan diare hebat. Namun justru ekstra intestinal APEC lebih berbahaya karena bisa menimbulkan kematian pada ayam. Kolibasilosis di luar usus membuat penyakit pernapasan ayam menjadi lebih berat. Membuat perkejuan di organ dalam seperti usus, hati, jantung, bisa sampai di otak, dan omphalitis (radang pusar) pada anak ayam (DOC).
 
 
Patogenesis/masuknya infeksi E.coli, menurut Betty dapat terjadi melalui 2 jalur. Pertama melalui telur tetas yang terkontaminasi E.coli yang menyerang saluran reproduksi pada induk ayam. Embrio tidak akan menetas kalau telur terkontaminasi cukup berat. Kalau hidup, embrio akan tumbuh kerdil yang mengakibatkan kerusakan pada DOC.
 
 
“Menyebabkan pertumbuhan terhambat dan ada gambaran dilatasi atau peradangan hingga perdarahan yang hebat kalau kontaminasinya tinggi. Kalau kontaminasi ringan, embrio dapat menetas tetapi akan menderita omphalitis. Omphalitis berat pada minggu pertama akan menimbulkan kematian tinggi. Kalau tidak berat, maka ayam akan rewel, terus ada perkejuan pada organ dalam, jantung, serta hati. Lalu ada gambaran ascites,” dia menguraikan.
 
 
Jalur kedua, kata Betty paling sering terjadi di lapangan. E.coli masuk melalui udara tetapi sumbernya berasal dari air. E.coli dari air minum masuk melalui usus ayam dan keluar melalui kotoran kandang. Kemudian kotoran menjadi debu kandang yang mengandung E.coli. Udara kandang akan pekat dengan kuman E.coli jika sanitasi tidak bagus. Pada kondisi pekat bisa berkonsentrasi 100.000 – 1.000.000 partikel E.coli per gram partikel udara. Ketika E.coli keluar dalam bentuk kotoran lalu dihirup oleh ayam akan masuk ke dalam saluran pernapasan. 
 
 
Akibatnya E.coli menjadi troublemaker yang menyebabkan radang pernapasan. Mengingat di saluran pernapasan ada reseptor yang bisa menangkap E.coli. Pada 6 jam setelah infeksi dalam pernapasan, maka akan ditemukan E.coli dalam darah, yang akan mengalirkannya ke seluruh tubuh ayam.
 
 
Dia menggarisbawahi, sebagai faktor predisposisi, kejadian konsentrasi amonia tinggi, penyakit ND (newcastle disease), mycoplasma, dan kegagalan manajemen (ventilasi buruk, kepadatan kandang berlebih, litter buruk, dan air minum tercemar yang mengandung E.coli yang tinggi) akan menjadi gangster yang memperberat kasus pernapasan ayam bersama E.coli. “Perjalanan serangannya lebih lambat daripada penyakit viral, tapi perkejuan pada organ dalam akan menyebabkan peradangan pada saluran reproduksi dan bisa menurunkan produksi telur. Pada kondisi parah bisa menyebabkan peradangan hebat serta E.coli akan menyebar di seluruh organ dalam melalui pembuluh darah yang diistilahkan dengan bakterimia, yang berujung kematian,” tandasnya.
 
 
Kolibasilosis pada broiler akan menyebabkan merah melepuh pada otot dada (breast blister) karena celulitis dan perkejuan pada otot dada. “Sehingga di luar negeri, hal ini menjadi masalah besar karena mereka suka mengkonsumsi daging dada, sehingga tidak mau daging dada ini rusak,” jelas Betty.
 
 
Gejala Klinis dan Patologi Anatomi 
Taopik berpendapat, pada kasus infeksi awal, pada umur 5 hari. Biasanya ditandai ayam mulai gasping, feses berwarna putih pasta, kaki kering serta omphalitis. Menurutnya, kejadian infeksi E.coli pada bagian telur tetas sering dijumpai umur 10 hari, namun peternak baru perhatian pada umur 14 hari waktu akan dan sesudah turun atal. Kondisi ayam lemas, kecil, bagian pantat keras, dan venpasting.
 
 
Shervida menegaskan, kolibasilosis menduduki peringkat ketiga penyakit pada broiler dan peringkat kelima pada layer sepanjang 2020. Pada broiler kolibasilosis terjadi hampir pada semua umur terlebih sebelum 2 minggu. Pada layer, paling banyak kolibasilosis menyerang pada umur 6 – 14 minggu dan 18 – 35 minggu. 
 
 
Dipaparkan Shervida, kolibasilosis bisa bersifat lokal, sistemik, dan sekunder. Bersifat lokal, ayam mengalami omphalitis. Kondisi dimana pusar DOC tidak dapat menutup dengan sempurna sehingga bakteri mudah masuk dan akhirnya menyebabkan radang di bagian tersebut. 
 
 
Normalnya, pusar seekor DOC akan menutup beberapa jam setelah menetas diikuti dengan dimulainya proses penyerapan sisa kuning telur. “Akan tetapi, ketika pusar terlambat menutup dan ada infeksi bakteri E.coli di mesin tetas atau di kandang komersial, maka terjadilah omphalitis,” terangnya.
 
 
Kejadian omphalitis hampir selalu dibarengi dengan infeksi kantung kuning telur (yolk sac infection) yang sama-sama disebabkan bakteri. “Mengingat, kantung kuning telur terletak begitu dekat dengar pusar. Manakala terjadi infeksi kantung kuning telur, sisa kuning telur yang dibawa DOC akan mengeras hingga tidak dapat diserap sebagai cadangan makanan maupun sumber kekebalan (antibodi maternal),” urainya. 
 
 
Dicirikan ayam lesu, lemah dan pusarnya basah disertai dengan diare. Omphalitis ini sering terjadi pada ayam muda yang terjadi peradangan pada kantung kuning telurnya. Selain omphalitis, terdapat gangguan pencernaan berupa peradangan pada usus ketika dilakukan pembedahan. 
 
 
Lalu salpingitis yaitu infeksi E.coli pada saluran reproduksi. Dicirikan ayam lesu dan produksi telurnya turun. “Kalau dilihat dari patologi anatominya, adanya peradangan dan perkejuan pada saluran telur/ovidak. Kejadian ini sering ditemukan pada layer (ayam petelur) saat menjelang bertelur ataupun selama masa produksi. Akibatnya telur-telur yang dihasilkan ketika dibedah menumpuk karena tidak bisa dikeluarkan. Bahkan ada literatur menyebutkan terjadi kepekatan dan kuning telurnya berwarna gelap,” ungkapnya. 
 
 
Berikutnya cellulitis yang dicirikan dengan adanya peradangan di bawah kulit. Namun peradangan ini tidak sering teramati ketika ayam-ayam berada di kandang. Namun ketika pengamatan karkas di rumah potong ayam (RPA) terlihat jelas. Efeknya terjadi penolakan yang tinggi terhadap karkas ayam yang berada di RPA.  
Pada infeksi sistemik yang mulanya kolibasilosis berada di saluran pencernaan bisa beredar melalui saluran peredaran darah ke organ-organ lain yang letaknya berjauhan dengan sistem pencernaan. Bentuknya seperti colisepticemia bentuk pernapasan. Bentuk ini bersamaan dengan kasus CRD bahkan jarang ditemukan akibat E.coli sendiri. Cirinya terjadi penebalan pada selaput hati (perihepatitis) dan selaput jantung (pericarditis). 
 
 
Selain itu, ada panopthalmitis yang diawali dengan pembengkakan dan kemerahan pada mata, bola mata nampak berawan dan buram. Lambat laun akan menimbulkan pembentukan massa mengkeju terlihat mata ayam menonjol. “Ada coligranuloma yang sering ditemui di lapangan. Infeksi ditandai adanya bungkul-bungkul di sepanjang penggantung usus termasuk di usus dan hati,” beber Shervida.
 
 
Infeksi Sekunder  
Kolibasilosis banyak ditemukan dalam bentuk komplikasi dengan penyakit lain. Salah satu bentuk komplikasi yang paling sering ditemukan pada kasus CRD kompleks yang disebut dengan infeksi sekunder. “CRD kompleks merupakan serangan bersama CRD dan kolibasilosis merupakan ancaman peringkat kedua pada broiler dan peringkat keempat pada pullet dan peringkat ketiga pada layer artinya sering sekali terjadi di peternakan,” tutur Shervida.
 
 
Dia pun menyodorkan data, cemaran E.coli pada air minum merupakan pencetus kolibasilosis yang menjadi problem utama nomor 2 kualitas air minum ayam di Indonesia. Salah satu manifestasinya adalah CRD kompleks.
 
 
CRD kompleks ini diawali adanya CRD yang menginfeksi saluran pernapasan di bagian atas. Ketika infeksi tersebut sudah terjadi maka saluran pernapasan sudah terjadi peradangan. Dari situ, gerbong penyakit lain masuk. “Yang tadinya kolibasilosis normal saja akan turut masuk menginfeksi pada ayam yang sudah terserang CRD,” jelasnya. 
 
 
Ditandai adanya airsaculitis. Ketika melakukan pembedahan harus berhati-hati karena bagian airsac ini sangat mudah hilang. Akibat CRD kompleks terjadi peradangan pada laring dan trakea atau saluran pernapasan atas. 
 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 258/Maret 2021
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain