Senin, 1 Maret 2021

SOLUSI KeterbaTASAN Lahan dengan Rumput Steno Agrinak

SOLUSI KeterbaTASAN Lahan dengan Rumput Steno Agrinak

Foto: 


Keunggulannya toleran terhadap naungan, cepat berkembang, rhizoma dan STOLON padat, perakaran kuat, mampu menekan pertumbuhan gulma SERTA tahan terhadap penggembalaan berat. HASIL ANALISIS ekonomi menunjukkan keuntungan yang diperoleh dari budidaya rumput Steno Agrinak ini dapat mencapai kurang  lebih Rp 1.800.000 per bulan per hektar
 
 
Pengembangan usaha ternak memiliki ketergantungan terhadap ketersediaan pakan. Hijauan merupakan sumber  pakan utama untuk ternak ruminansia, oleh sebab itu penyediaan hijauan pakan yang cukup, baik dari segi jumlah maupun kualitas, menjadi hal penting untuk diperhatikan dalam upaya peningkatan produksi ternak ruminansia. Hanya terbatasnya ketersediaan lahan untuk penanaman tanaman pakan ternak menjadi kendala.
 
 
Salah satu upaya yang dapat ditempuh dalam mengoptimalkan pemanfaatan lahan dalam mendukung ketersediaan hijauan pakan dengan mengembangkan tanaman pakan ternak yang toleran terhadap naungan untuk ditanam di lahan perkebunan yang selama ini belum banyak dimanfaatkan seperti di perkebunan kelapa, kelapa sawit, karet dan perkebunan jeruk.
 
 
“Berdasarkan hasil penelitian, rumput Stenotaphrum secundatum menunjukkan pertumbuhan maupun produksi yang lebih baik pada lahan yang ternaungi dibanding lahan terbuka. Penyesuaian rumput ini terhadap kondisi naungan ditunjukkan baik secara morfologi (tinggi tanaman, lebar daun) maupun fisiologis (kandungan klorofil atau hijau daun),” papar Juniar Sirait, peneliti Ahli Madya, Loka Penelitian Kambing Potong Sei Putih, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak), Balitbangtan, Kementerian Pertanian.
 
 
Lanjutnya, penelitian tentang rumput Stenotaphrum di Sei Putih sudah dilaksanakan sejak  2003– 2006, namun terkait rumput Stenotaphrum secundatum var. Steno Agrinak penelitian kembali dilakukan pada 2016 untuk seleksi tahap awal.
 
 
Tujuan dan Prosedur Penelitian
Juniar menerangkan tujuan rumput S. secundatum melalui seleksi massa positif adalah untuk mendapatkan varietas unggul baru yang memiliki produksi dan nilai nutrisi tinggi pada lahan naungan.
 
 
Sasaran yang ingin dicapai adalah penyusunan naskah akademis pelepasan varietas unggul baru (Stenotaphrum secundatum var. Steno Agrinak) untuk melestarikan rumput ini sebagai tanaman pakan yang mempunyai keunggulan dibandingkan varietas asal maupun spesies lainnya karena mampu berdaptasi dengan kondisi lahan yang ternaungi.
 
 
Dengan demikian efisiensi pemanfaatan lahan untuk penanaman tanaman pakan ternak dapat ditingkatkan melalui introduksi rumput S. secundatum var. Steno Agrinak ini pada perkebunan karet, kelapa sawit, kelapa dan perkebunan jeruk khususnya untuk mendukung program SITT (Sistem Integrasi Tana- man Ternak). “Sasaran lain Unggul Tanaman Pakan Ternak,” ungkapnya. 
 
 
Prosedur penelitian ia jabarkan meliputi material genetik, prosedur pemuliaan, prose- dur pengujian, lokasi penelitian dan rancangan penelitian. Material genetik yang digunakan dalam tahapan seleksi adalah rumput S. se- cundatum. Bahan tanam berupa stolon dan diseleksi dari Kebun Percobaan Sei Putih yang ditanam pada 2016 (Gambar 1). Tanaman terseleksi digunakan sebagai material calon varietas untuk kegiatan uji multi lokasi. Sebagai pembanding digunakan rumput S. secundatum varietas asal.
 
 
Prosedur pemuliaan dalam kegiatan ini dilakukan melalui seleksi dengan metode pemurnian “seleksi massa positif”. Kriteria yang digunakan untuk proses seleksi adalah jumlah tunas (> 5 tunas), produksi segar (> 2,5 kg/m2/pemotongan) dan warna daun. Sedangkan prosedur pengujian melalui tahap pertama untuk persiapan pelepasan varietas rumput S. secundatum. Hasil pemuliaan diawali dengan proses seleksi yang dilaksanakan di Kebun Percobaan Sei Putih pada Oktober 2017 hingga awal Maret 2018.
 
 
Metode pemuliaan yang digunakan dalam menghasilkan rumput unggul S. secundatum adalah metode seleksi massa positif, yakni mempertahankan rumput steno baik dan membuang yang tidak baik. Untuk lokasi pengujian dilaksanakan di dataran rendah beriklim basah Sei Putih Kabupaten Deli Serdang dan dataran tinggi beriklim sedang di Gurgur Kabupaten Toba. Pengujian calon varietas rumput S. secundatum pada agroekosistem dataran tinggi berada di Desa Gurgur, Kabupaten Toba, Provinsi Sumatera Utara (1.180 m dpl rataan curah hujan 32-167 mm/bln; dengan jumlah bulan basah 5 bulan dan bulan kering 7 bulan).
 
 
Sama halnya dengan uji multi lokasi di dataran rendah Sei Putih, kegiatan uji multi lokasi diawali dengan persiapan dan pengolahan lahan dilanjutkan dengan pembuatan petak percobaan, aplikasi pupuk dasar menggunakan pupuk kandang, penyiapan bibit dari hasil kegiatan seleksi massa positif, pemasangan paranet, penanaman, pemeliharaan, pengamatan dan pemotongan serta aplikasi pupuk kimia. “Kegiatan peng-ujian calon varietas S. secundatum var. Steno Agrinak dilaksanakan pada 2018,” ujarnya.
 
 
Keunggulan Steno Agrinak
Rumput Stenotaphrum secundatum var. Steno Agrinak dipaparkan Juniar meru- pakan jenis rumput yang cocok tumbuh pada areal dengan intensitas cahaya rendah (toleran terhadap naungan), cepat berkembang, memiliki rhizoma dan stolon yang padat, perakaran kuat, kemampuan berkompetisi dengan gulma sangat kuat, sehingga mampu menekan pertumbuhan gulma serta tahan terhadap penggembalaan berat. “Rumput S. secundatum var. Steno Agrinak selain unggul dibanding varietas asajuga memiliki keunggulan dari sisi produksi bahan kering maupun kadar nutrien dibanding beberapa spesies rumput lainnya yang diuji di Loka Penelitian Kambing potong, seperti Brachiaria ruziziensis, Paspalum conjugatum, Brachiaria humidicola dan Cyrtococcum oxyphilum,” terangnya.
 
 
Selain itu, rumput Steno Agrinak yang diuji terbebas dari serangan hama penyakit karena dikelola dengan sistem budidaya yang baik, mulai dari penyiapan bibit (hasil seleksi), pengolahan lahan yang sempurna, pemupukan menggunakan pupuk kandang dan pupuk kimia serta penyiraman pada saat kekurangan air. “Rumput S. secundatum var Steno Agrinak juga memiliki keunggulan dengan kecernaan nutrien pada kambing yang cukup baik, berkisar antara 60,7 hingga 72,8 % dan sangat disukai oleh ternak,” cetus Juniar.
 
 
Sementara ia katakan keuntungan yang didapat oleh peternak, dengan membudi- dayakan rumput S. secundatum var. Steno Agrinak secara umum peternak tidak memi- liki lahan khusus untuk penanaman hijauan, dengan rumput unggul ini peternak dapat memanfaatkan lahan-lahan ternaungi untuk menanam rumput Steno Agrinak. Hasil analisis ekonomi pada kegiatan pengujian menunjukkan keuntungan yang diperoleh dari budidaya rumput Steno Agrinak ini dapat mencapai kurang lebih Rp 1.800.000 per bulan per hektar.
 
 
Aplikasi di lapangan, peternak sudah banyak menggunakan rumput Stenotaphrum secunda- tum untuk pakan ternak ruminansia, baik rumi- nansia kecil maupun ruminansia besar. Tanaman rumput S. secundatum mempunyai peluang besar untuk dikembang- kan di berbagai daerah di Indonesia, utamanya wilayah yang memiliki lahan perkebunan karet, kelapa sawit, kelapa, kakao maupun perkebunan jeruk.
 
 
Bibit rumput S. secundatum dari Loka Penelitian Kambing Potong yang tercatat sejak 2012 hingga 2018 sudah menyebar sebanyak ±55.000 stek stolon ke beberapa daerah di Indonesia, yakni: Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Nangro Aceh Darussalam, Sulawesi Utara, Kalimantan Barat dan Papua.
 
 
Berbagai kalangan menunjukkan respon yang baik terhadap pengembangan rumput S. secundatum. Sebagai bentuk respon positif adalah permintaan benih rumput ini mengalami peningkatan dari berbagai pihak seperti petani-peternak, pelaku usaha ternak komersial, pemilik perkebunan kelapa sawit, peneliti, dosen, mahasiswa dan berbagai instansi pemerintah.
 
 
“Permintaan ini semakin meningkat setelah Kementerian Pertanian secara resmi merilis rumput S. secundatum var. Steno Agrinak sebagai varietas unggul tanaman pakan ternak melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 12553/KPTS/HK.160/F/11/2020. Sejumlah peternak yang ada di sekitar Kabupaten Deli Serdang sudah menanam rumput ini pada lahan perkebunan sawit milik mereka,” urai Juniar.
 
 
Rumput Steno Agrinak ia ungkapkan adalah rumput yang bisa tumbuh dengan baik bila ditanam di areal yang ternaungi. Rumput ini dapat menjadi solusi dalam mengatasi keterbatasan ketersediaan lahan untuk penanaman hijauan dan dapat dikembangkan secara luas di areal perkebunan. “Pemulia dapat melakukan penelitian untuk menghasilkan varietas baru Rumput Steno yang berbiji sehingga memudahkan dalam pengemba- ngan dan pendistribusiannya,” harapnya. TROBOS/Adv
 
 

 

 
 
 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain