Senin, 15 Maret 2021

CTU Pullchick Perdana DOC FS di Hatchery Sodong

CTU Pullchick Perdana DOC FS di Hatchery Sodong

Foto: 
Hatchery Sodong milik CTU Berkapasitas 400 ribu ekor per minggu

PT Cahaya Technology Unggas (CTU) melakukan pullchick perdana DOC Harim di Hatchery Sodong yang merupakan hatchery milik CTU. Produksi DOC perdana tersebut mencapai Saleable Chick 85 % dari HE Setting. Hatchery Sodong mempunyai kapasitas produksi DOC sebanyak 400.000 ekor
per minggu.
 
 
Berlokasi di Desa Sodong, Pandeglang, Banten PT Cahaya Technology Unggas (CTU) kembali melakukan pullchick perdana DOC Harim (02/02). Dalam kesempatan tersebut, produksi DOC perdana mencapai Saleable Chick 85 %, sedangkan kapasitas produksinya sekitar 400 ribu ekor per minggu. Disampaikan Deputy Manajer Sales CTU, Allan Pratama, hatchery (pembibitan) yang berlokasi di Sodong ini merupakan sepenuhnya milik CTU. “Untuk hatchery Sodong ada 12 mesin single stage dengan kapasitas per mesin 124.416 butir hatching egg dan produksi DOC sekitar 400 ribu ekor per minggu,” terangnya.
 
 
Saat ini lokasi hatchery CTU tersebar di beberapa tempat yaitu Pandeglang, Bogor, Sukabumi dan Garut. “Kami juga ada rencana membangun hatchery di wilayah Jawa Tengah. Harapannya target produksi DOC Harim hingga akhir 2021 bisa mencapai 65 juta ekor,” kata pria yang akrab disapa Allan ini optimis.
 
 
Sementara untuk kandang breeding PS, CTU juga memiliki puluhan kandang di beberapa tempat dengan kapasitas chick in mencapai ratusan ribu di masing-masing lokasi. General Manager CTU Breeding, Anggiat HP Sitompul menjabarkan lokasi Farm PS diantaranya kandang Closed House di Pandeglang, di Purabaya dan Sukajaya Sukabumi (kerjasama dengan CV Selabintana), kandang Open House di Bedor dan Cikuda Ciamis (kerjasama dengan Tanjung Mulya Group) serta dalam pembangunan kandang Closed House tahun ini di Cikawung Tasikmalaya dan Bojong Lopang Sukabumi. “Sedangkan untuk rencana ekspansi kandang breeding PS pada 2022 akan dibangun di Jawa Timur,” urai Anggiat.
 
 
Bisa Bersaing
Dibangun pada 2017, menurut Allan, CTU sebagai pendatang baru cukup bisa diperhitungkan dan diterima peternak. “Bahkan termasuk 10 besar perusahaan breeding dan hatchery secara nasional,” klaimnya. Walaupun diakui Allan saat ini produksi DOC Harim masih sebatas untuk men-support para pelanggan pakan Farmsco yang merupakan unit bisnis Harim Group, tetapi respon peternak pengguna DOC Harim sangat positif, bahkan tingkat complain di bawah 1 % dan mortality sekitar 2 %. “Tentunya ini juga berkat servis dan pelayanan yang terus kami tingkatkan mulai dari melakukan seleksi grading yang ketat, pengadaan mesin candling otomatis untuk meningkatkan hatchability, pengiriman maksimal 1 indukan untuk pelanggan serta servis pasca panen,” tutur Allan.
 
 
Anggiat turut menambahkan, diantara kunci keberhasilan breeding juga hatchery yaitu biosekuriti ketat untuk mencegah penyakit dari luar, DOC dihasilkan dari Grand Parent yang berkualitas, kualitas pakan sesuai kebutuhan ayam, dan manajemen pemeliharaan. Ia mengklaim, saat ini tingkat Saleable Chick CTU diantara 130 – 135 ekor dari 170 butir hatching egg . “Idealnya bisa 148 ekor dari 180 ekor hatching egg. Harapan kami bisa mencapai 140 – 145 ekor dengan berbagai improvement yang dilakukan untuk terus meningkatkan produksi dan kualitas DOC kami,” harapnya.
 
 
Terakhir, meski ada tantangan dalam bisnis ini terutama menurunnya daya beli karena faktor pandemi serta Surat Edaran Dirjen Kementan terkait cutting HE, keduanya optimis bisnis unggas masih memiliki peluang. “Harapan kami, pemerintah bisa segera mengatasi pandemi ini agar bisnis perunggasan bisa kembali berjalan normal seperti semula,” pungkas Anggiat. TROBOS/Adv
 
 
 
 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain