Kamis, 1 April 2021

Menggiring Arah Industri Itik Lokal

Menggiring Arah Industri Itik Lokal

Foto: istimewa


Memetakan sekaligus mengembangkan potensi itik sebagai usaha komersial yang berorientasi pasar dengan menarik generasi milenial untuk terjun pada semua segmen dari hulu sampai hilir
 
 
Harga telur dan daging itik lokal yang tinggi tak menyurutkan minat masyarakat untuk mengkonsumsi. Permintaan yang terus meningkat, membuat produksi kedodoran sehingga menyebabkan pergeseran-pergeseran di sektor budidaya. Tingginya nilai produk itik meskipun tanpa ada proses tambahan apapun diakui menjadi magnet yang kuat bagi pelaku untuk memutar mesin produksinya. Walaupun disinyalir efek dari hal ini tak selalu positif bagi masa depan industri itik lokal. 
 
 
Struktur budidaya, bisnis dan rantai niaga itik yang masih ramah bagi peternak rakyat dinilai merupakan berkah. Namun seiring peningkatan permintaan dari sektor konsumsi rumah tangga dan pelaku usaha hilir telur dan daging itik, maka pemerintah dan akademisi harus segera menggiring pelaku usaha itik untuk membentuk asosiasi pembibit dan peternak itik yang lebih representatif. Selanjutnya bersama-sama menyusun standar teknis (budidaya, performa dan kualitas daging) dan standar ekonomi – bisnis termasuk sistem kemitraan berbasis koperasi peternak, peningkatan populasi/kapasitas produksi, penyeragaman mutu bibit, pengembangan produk yang lebih bernilai ekonomis dan tata niaga lebih efisien.
 
 
Hal itu mengemuka dalam seminar daring MIMBAR TROBOS Livestock The Series ke-15 – perunggasan dengan topik “Strategi Pengembangan Itik Lokal” yang digagas oleh Majalah TROBOS Livestock, disiapkan oleh TComm (TROBOS Communication), dan disiarkan secara langsung melalui aplikasi Zoom serta kanal Youtube Agristream TV dan Facebook TROBOS Livestock, pada Selasa (30/3). Acara yang disponsori oleh PT Gold Coin Indonesia dan PT Malindo Feedmill Tbk ini menghadirkan L Hardi Prasetyo (peneliti pemuliabiakan itik, Chairman World Waterfowl Conference/WWC Indonesia); Fahmida Manin (Dosen Fakultas Peternakan Universitas Jambi), Iwan Setiawan (Dosen Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran), Sabrina Amini (Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas), dan Jack Pujianto (Kepala Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Pelaihari – Kalimantan Selatan). 
 
 
L Hardi Prasetyo menjelaskan sejak 1990-an bicara itik lokal selalu dalam perspektif potensi, prospek, peluang saja, maka dia meminta pembicaraan tentang itik lokal langsung kepada strategi pengembangan secara komersial dengan memperhatikan sumberdaya yang telah tersedia, volume pasar, faktor pendukung dan skema pengembangan ke arah komersialisasi bahkan industrialisasi. “Tentu tidak akan seperti ayam ras, arahnya maupun besarnya,” ujar dia.
 
 
Fragmen struktur industri itik lokal, menurut hardi, telah tersedia dan telah berjalan secara alamiah. Seperti pembibitan, penyedia pakan (pakan pabrikan maupun pakan tradisional), sumber daya manusia (SDM) baik peternak dan pekerja, serta sistem produksi on farm maupun off farm eksisting. Semua itu, lanjut dia, dapat diidentifikasi, dipetakan dan disusun ulang secara lebih baik. 
 
 
Hardi meminta kepada para pihak agar segera mengidentifikasi jenis-jenis itik lokal menurut jumlah ketersediaan dan lokasinya. Kemudian data dilengkapi dengan jenis produk yang akan dihasilkan menurut jenis itik lokal itu, dibantu dengan data performa yang disediakan oleh akademisi dan peneliti. Performa itu kemudian dicarikan cara agar bisa ditingkatkan. 
 
 
Belum lagi bicara bibit unggul, unit/model pembibitan itik lokal masih belum sepenuhnya terspesialisasi. Masih ada pembudidaya itik yang menetaskan sendiri dari induk yang ditangkarkannya sendiri pula. Walaupun demikian, menurut Hardi, apapun bentuk unit pembibitan yang nantinya akan dibangun, dia memberikan patokan tingkat produksi dan kualitas produksi bibitnya bisa konsisten. 
 
 
Bahan pakan bagi pengembangan itik lokal juga harus dipetakan. Bahan pakan lokal apa saja yang bisa disediakan secara kontinu, dan apa saja yang harus didatangkan dari luar daerah. “Formulasi pakan lokal juga akan mendukung operasi mini feedmill. Produksi pakan sendiri untuk budidaya itik di kelompok atau kawasan, sebagai tahapan lanjut pengembangan,” jelasnya.
 
 
Iwan Setiawan menyoroti semakin banyaknya peternak yang mengeluhkan tingginya harga pakan. Dia mengakui masih belum tersedia pakan yang lebih baik namun tetap terjangkau harganya. Sedikit memberikan tips, sebenarnya peternak tidak perlu merisaukan mahalnya harga pakan asalkan tetap efisien sehingga beternak itik lokal tetap menguntungkan. 
 
 
Menurut Hardi, sumber daya manusia sebagai subyek pengembangan itik lokal juga tak luput dari profiling. Juga jumlah peternak yang bersedia mengembangkan, dan level minatnya untuk terjun pada pengembangan itik lokal. 
 
 
SDM masa depan perunggasan itik lokal, Iwan mengatakan, harus segera dibentuk dengan cara yang menarik bagi generasi milenial. Milenial harus diajak komunikasi tentang masa depan itik lokal dan agar diberikan kesempatan penuh untuk berkreasi menurut semesta kreativitas mereka mengembangkan itik ini, pada semua segmen dari hulu sampai hilir. 
 
 
Selanjutnya, Hardi menyarankan untuk melakukan analisis pasar lokal, regional bahkan pada tahap selanjutnya pasar luar negeri/ekspor, untuk 2 produk utama itik lokal yaitu telur dan bebek potong baik berupa hidup maupun karkas. “Seperti kuning telur asin yang diekspor ke Singapura dari peternakan pak Rully (Rully Lesmana/Karawang -red), ada juga yang masih berbentuk telur terbungkus abu. Itu membuktikan sebenarnya pasar itu sudah sangat terbuka, kita hanya harus membuktikan untuk mampu merebut pasar itu. Harus ada kemauan dan konsisten melakukan dengan cara yang tepat,” tandasnya. 
 
 
Dia pun menyoroti antara permintaan dan produksi belum sepenuhnya ketemu dan terhubungkan. Seringkali dia menemukan pengusaha restoran menu daging itik lokal mengeluh tidak ada pasokan karkas, atau pasokan tidak stabil. Kadang pasokan berlebih, dan sering juga kurang bahkan kosong. “Padahal di sisi lain, peternak juga merasa seringkali sulit mengeluarkan itiknya yang sudah umur potong. Ini harus dipertemukan,” dia menuturkan. 
 
 
Tingginya permintaan karkas itik lokal, Hardi menjelaskan, telah menyebabkan peternak itik petelur bergeser orientasi untuk memproduksi itik potong.  Maka permintaan DOD (day old duck, itik umur sehari) untuk dibesarkan sebagai itik potong pun meningkat. “Dari sisi permintaan dan pasar, tidak ada masalah. Namun yang belum terstruktur adalah tata niaganya,” kata dia. Walaupun demikian dia masih menyesalkan bahwa sampai saat ini belum ada data permintaan/kebutuhan daging dan telur itik.
 
 
Standardisasi 
Standar telur, bibit dan karkas itik yang berlaku saat ini, menurut Hardi, terjadi karena permintaan pasar dan konsumen akhir yang menuntut konsistensi pasokan dan kualitas. Diantaranya, konsumen yang dulu tidak ‘rewel’ dengan ukuran-ukuran itu sekarang menuntut telur itik yang berkerabang tebal/kuat, warna yolk cerah, juga warna, ukuran, dan bentuk kerabang telur yang seragam. Pada pasar khusus seperti pasar ekspor menuntut telur itik tanpa cemaran mikroba diantaranya bakteri Salmonella dan terbebas dari cemaran bahan kimia. 
 
 
Pasar telur itik yang sudah lebih dulu ada, belum ada standar baku untuk menentukan kualitasnya. Sama dengan daging itik yang pasarnya terus meningkat sejak 10 tahun terakhir, belum tersedia sistem tata niaga yang tertata dan efisien, disamping masih zonder standardisasi produk. “Karena ketersediaan karkas masih sangat kurang, dan cara memperoleh kualitas daging itik yang baik belum diketahui peternak. Peternak tahunya itiknya segera dijual dan dipotong. Padahal di bawah 5 pekan kualitas karkas itik masih belum baik. Umur potong dan bobot potong juga belum di standardisasi. Jualan daging itik juga mayoritas masih dalam bentuk segar, masih sedikit yang dijual dalam kondisi dingin atau beku apalagi yang berbentuk olahan awetan,” urai Hardi gemas. 
 
 
Pada itik lokal pedaging, pasar menghendaki bibit/DOD itik berwarna bulu seragam, baik yang berwarna coklat ataupun putih. Peternak pembesaran itik potong kini menuntut ukuran/bobot DOD yang seragam dan pertumbuhan yang cepat dan seragam dalam mencapai bobot potong. “Pembudidaya itik potong belum banyak menuntut bibit yang memiliki konversi pakan (feed convertion ratio, FCR) rendah. Namun diperkirakan selanjutnya pun peternak akan menuntut efisiensi sehingga bibit yang memiliki FCR lebih rendah akan lebih diminati,” tandas dia.
 
 
Hardi memberikan gambaran, karkas itik potong yang berkualitas dihasilkan dari itik berumur lebih dari 5 minggu, pada umumnya berumur 5-6 minggu. Bobot hidup antara 1,8 – 2,2 kg per ekor sehingga dihasilkan karkas seberat 1,2 – 1,7 kg per ekor kualitas karkas yang seragam. Pada masakan dengan cara masak tertentu, menghendaki itik potong berbulu putih, karena ditengarai akan menghasilkan olahan dengan warna permukaan kulit yang lebih bersih dan mulus.
 
 
Mengkritisi keberadaan kelembagaan peternak itik lokal, disebutnya kelompok peternak itik lokal banyak yang sudah terdaftar di dinas pertanian/peternakan, namun realitanya anggota kelompok masih menjalankan usahanya sendiri-sendiri. Pengadaan bibit, pakan dan pemasaran oleh kelompok masih belum berfungsi. Termasuk pengembangan variasi produk, pengusahaan nilai tambah melalui proses lanjutan seperti pengolahan sebenarnya sangat penting dilakukan oleh kelompok peternak. Sehingga kelompok dapat melakukan pengelolaan keuangan usaha dengan nilai yang semakin meningkat tidak hanya melalui peningkatan populasi juga mealui peningkatan nilai produk. 
 
 
Perbaikan tata niaga, diuraikan Hardi, masih harus diupayakan secara terus menerus. Karena masih belum ada pihak yang bisa membantu secara langsung untuk menyambungkan antara peternak dengan pasar. Upaya yang dilakukan beberapa pihak pun masih menemui banyak masalah.  “Maka yang bisa dilakukan, kembangkan produksi itik sebagai usaha komersial yang berorientasi pasar,” tukasnya. 
 
 
Iwan Setiawan menyatakan, telur itik memiliki rantai niaga yang paling panjang dibandingkan dengan bibit maupun daging itik, sehigga paling mendesak untuk ditinjau kembali. Telur itik dari peternak dikumpulkan oleh pedagang pengumpul/pengepul, lalu masuk ke grosir telur, dijual lagi kepada pedagang pengecer, baru dijual ke konsumen.
 
 
Hardi berharap komunikasi media bisa menjembatani untuk peningkatan kualitas, sistem informasi pasar dan tata niaga telur dan daging itik lokal. “Karena di bisnis itik belum ada organisasi besar seperti GOPAN dan Pinsar Indonesia. Sudah waktunya kita membangun bersama, siapa yang akan memelopori pembangunan tersebut. Kita harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Apalagi rencananya di 2023, Indonesia akan menjadi tuan rumah konferensi internasional unggas air dunia,” tandasnya. 
 
 
Model Ideal Kelompok Peternak
Hardi memberikan contoh pengelolaan kelompok peternak itik di kelompok yang dikelola UD Maju Jaya. “Kini sudah berbentuk koperasi, peternak anggotanya memiliki semacam buku bank. Setor telur, mengambil pakan, semua dicatat di dalam buku bank. Kelompok ini menjadi prototip ideal, namun ketika dicoba direplikasi di tempat lain sangat sulit. Belum ada yang berhasil,” dia mengungkapkan.
 
 
Diutarakannya, kelompok ternak itik yang berlokasi di Desa Bacem, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar – Jawa Timur itu memiliki anggota lebih dari 100 peternak, dengan skala usaha 500 – 3.000 ekor itik petelur per peternak. Populasi 3.000 ekor itu sudah bisa menjadi sumber penghasilan pokok, bukan lagi sampingan. Ketua kelompok memiliki pembibitan dengan kapasitas 40.000 ekor induk dan mesin tetas berkapasitas 120 ribu butir. Koperasi memiliki fasilitas mini feedmill. Telur yang disetorkan dilakukan grading untuk memilah telur menjadi kelas A, B, dan C. Selain itu juga ada unit pengolahan telur asin.
 
 
Dia pun menggambarkan alur kemitraan usaha itik lokal ideal, harus ada peternak/lembaga yang berperan sebagai inti. Inti memberikan bahan baku berupa bibit, pakan, dll, dan kemudian menerima setoran produk berupa telur maupun daging. Peternak anggota diharapkan lebih fokus mengurusi budidaya on farm karena tidak lagi memikirkan input dan pemasaran. 
 
 
Hardi meyakini pengembangan itik sudah ada model idealnya, dan tidak merupakan utopia, asal pelaku – baik kelembagaan kelompok sebagai inti maupun peternak sebagai mitra mempertahankan nilai kebersamaan dan mematuhi komitmen. Peternak setor produk akhir untuk dipasarkan oleh kelompok, dan kelompok mencukupi semua bahan baku dan bibit dengan kualitas yang baik dan jumlah yang cukup. 
 
 
Menurut dia, usaha ternak itik masih sangat baik ditinjau dari analisis ekonomi. Dia menyebutkan gambaran revenue to cost (R/C) ratio dari usaha ternak itik lokal petelur adalah sebesar 1,23, itik potong sebesar 1,26. dan untuk pembibitan 1,72. 
 
 
Pergeseran Orientasi
Iwan Setiawan menyatakan, melihat data sebaran populasi itik nasional, Jawa Barat menduduki peringkat teratas, disusul dengan Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan. 
 
 
“Jawa barat memiliki populasi unggas air terbanyak sekitar 8 juta ekor. Ini sangat menarik, tetapi kalau diamati pada grafik, produksi itu ada penurunan. Karena sebenarnya pada 2018 populasi 10 juta ekor,” ungkap dia. Selain itu, populasi itik petelur menurun namun populasi itik manila meningkat dengan peningkatan yang setara dengan penurunan populasi itik petelur. Sehingga patut diduga terjadi pergeseran orientasi budidaya itik dari itik petelur menjadi itik pedaging. Sebagian peternak itik petelur diduga telah berganti menjadi peternak itik pedaging, khususnya itik manila. 
 
 
Iwan menerangkan, konsumsi telur itik terus menurun dari 2017 karena perubahan diversifikasi usaha yang cenderung mengarah ke budidaya itik pedaging. “Maka permintaan akan menurun terus untuk telur. Meski masih stagnan secara statistik namun cenderung turun konsumsi telur itik ini. Efeknya, penyediaan telur tetas juga ikut menurun 10 – 30 % karena penurunan populasi itik secara umum dan itik petelur khususnya. Produksi DOD berpotensi terjadi penurunan. Walaupun demikian produksi daging itik justru meningkat,” dia memaparkan. 
 
 
Kelembagaan yang Kuat
Diakui Iwan, sudah ada organisasi peternak seperti Himpunan Peternak Unggas Lokal (Himpuli) untuk mewadahi peternak itik lokal. Organisasi itu sudah dapat dijadikan infrastruktur yang bisa dimanfaatkan oleh peternak. Dari pemerintah, pernah ada program village poultry farming, ada integrasi itik dengan pertanian yang ke semuanya memasukkan unsur pembentukan kelembagaan peternak unggas lokal. “Namun sampai hari ini, peternak itik tidak memiliki kelembagaan pasar,” sesal dia.
 
 
Asosiasi harus tumbuh, bahkan menurut dia, tokoh-tokohnya juga harus muncul ke hadapan publik. “Kalau tidak tumbuh, maka peternak akan berjalan sendiri-sendiri. Peternak itik eksis tapi tidak ada yang menonjol. Tadi seperti kelompok Maju Jaya yang dikisahkan Pak Hardi, itu sebenarnya sangat baik untuk diangkat menjadi salah satu tokoh industri itik nasional,” ujarnya.
 
 
Meski sudah ada fasilitas bagi UMKM untuk mengakses modal dari bank, namun perbankan tetap lah perbankan, sehingga tetap ada saja hambatan akses bagi peternak/kelompok peternak itik lokal. 
Agar posisi peternak semakin kuat, maka kehadiran kelembagaan/organisasi bukan tak bisa dikesampingkan. “Pada bisnis ayam ras organisasi punya peran signifikan. Maka breeding itik sudah seharusnya ada asosiasinya sendiri. Begitu pula pada budidaya itik lokal pedaging dan petelur. Organisasi yang fokus dan kuat harus dibangun dari sekarang,” dia mengungkapkan.
 
 
Iwan mengusulkan untuk membuat visi bersama, semacam roadmap agar orientasi industri itik lokal nantinya bukan hanya domestik namun juga menembus pasar ekspor. “Dengan langkah-langkah yang jelas. DKPP dan BPTU salah satu tugasnya adalah konservasi sumber daya genetik itik, sekaligus menjadi pengembang itik unggul baik berupa parent stock (PS) atau final stock (FS). Jika perlu bekerjasama dengan swasta. Pihak swasta pasti akan sangat profesional dalam bekerja,” terangnya. 
 
 
Dia merinci, kerjasama itu dilakukan dengan pola inti plasma berkelanjutan, kerjasama dibangun melalui pemberian bibit dengan kualifikasi PS, sehingga kelompok peternak mampu menghasilkan FS. Swasta membangun populasi dasar pureline sendiri untuk menghasilkan PS. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 259/April 2021

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain