Kamis, 1 April 2021

Dini Widianingrum: Potensi Budidaya Entog

Dini Widianingrum: Potensi Budidaya Entog

Foto: 


Entok atau Entog (dalam bahasa Sunda) diklasifikasikan ke dalam subkingdom Animalia, subphylum Vertebrata, kelas Aves, ordo Anseriformes, family Anatidae, genus Cairina dan spesies Cairina moschata. Entog merupakan ternak lokal dari jenis unggas air yang dipelihara oleh masyarakat untuk dimanfaatkan sebagai penghasil daging.
 
 
Menurut sejarahnya, entog diperkirakan berasal dari Amerika Tengah dan Selatan, yang didomestikasi oleh bangsa Colombia dan Peru dan sekarang sudah ditemukan hampir di seluruh belahan dunia terutama di daerah tropis. Entog memiliki ciri-ciri antara lain banyak melakukan aktivitas di darat, memerlukan kolam untuk perkawinan, pejantan mendesis dan tidak mempunyai bulu seks yaitu bulu yang mencuat dan melengkung ke atas. Entog liar berwarna hitam dan putih, namun dengan adanya proses domestikasi menghasilkan warna yang beragam seperti biru, biru dan putih, cokelat, cokelat dan putih, putih hitam dan hitam, serta lembayung muda dan calical atau tiga warna.
 
 
Di Indonesia, entog menyebar merata di seluruh daerah, terutama di daerah pertanian dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Nama entog di ambil dari bahasa Sunda, sedangkan bahasa Jawanya adalah mentok. Nama lainnya adalah itik manila, itik surati dan serati. Jika dalam bahasa Inggris disebut Muscovy duck, nama yang diambil dari kata nama wilayah Moscow, tempat diperkenalkan pertama kali sebelum diperkenalkan di Eropa Barat. Entog masuk ke Indonesia melalui Manila Filipina sehingga dikenal dengan nama itik Manila dan selanjutnya berkembang baik sebagai ternak lokal Indonesia. 
 
 
Entog umumnya banyak dipelihara oleh masyarakat di pedesaan. Di masa pandemi Covid – 19 ini, pamor entog malah semakin naik daun. Hal ini ditandai dengan semakin tingginya minat masyarakat untuk budidaya entog. 
 
 
Para peternak mengenal jenis entog sebagai entog lokal, kapur, rambon, dan tiktok. Entog lokal merupakan entog yang sudah lama berada di tengah masyarakat, bibit turun temurun, warna bulu hitam putih, dan bobot badan rendah sampai sedang. Entog kapur merupakan entog lokal yang memiliki ciri warna bulu putih dan bobot badan rendah sampai sedang. Entog rambon merupakan entog persilangan lokal dengan entog ras memiliki ciri warna bulu kulawu (abu-abu) dan bobot badan sedang sampai tinggi. Entog mandalung merupakan hasil persilangan antara entog dengan itik memiliki ciri warna bulu campuran bercorak dan bobot badan ringan.
 
 
Peran entog sangat strategis sebagai komoditas penghasil daging di masyarakat. Juga sebagai tabungan bagi peternak yang dapat dijual sewaktu-waktu apabila diperlukan sehingga sangat membantu penguatan ekonomi keluarga.
 
 
Entog sebagai penghasil daging didukung oleh konformasi tubuh yang besar, tulangnya kecil, daging padat, dan bobot badan entog jantan umumnya 3,5 – 4 kg dan betina 2 – 2,5 kg. Daging entog mengandung protein tinggi 16,13 – 19,53 %, rendah lemak 5,71 – 8,16 %, disukai oleh masyarakat dan dapat diolah menjadi berbagai macam masakan antara lain pedesan entog.  
 
 
Konsumsi Ransum Tinggi
Tetapi entog mempunyai tingkat konsumsi ransum yang cukup tinggi mencapai 125 – 200 gram per hari. Hal ini akan mempengaruhi biaya produksi dan pendapatan peternak. Ransum entog periode starter (umur 1 – 2 minggu) mengandung protein kasar 21 % dan energi metabolis 3.000 kkal per kg. Ransum entog periode grower (umur 3 – 23 minggu) mengandung protein kasar 15 % dan energi metabolis 2.600 kkal per kg. Ransum entog periode layer (lebih dari 24 minggu) mengandung protein kasar 18 % dan energi metabolis 2.800 kkal per kg.
 
 
Upaya untuk efisiensi ransum entog antara lain dengan memberikan pakan alternatif berupa pemanfaatan limbah organik seperti ampas tahu dan limbah kangkung untuk entog periode grower dan layer. Ampas tahu mengandung nutrisi yang baik antara lain protein kasar 22,64 %, lemak 6,12 %, serat kasar 22,65 %, abu 2,62 %, kalsium 0,04 %, fosfor 0,06 %, dan gross energy atau energi kasar 4.010 kkal per kg. Efek pemberian ampas tahu dalam ransum dapat menghasilkan bobot badan entog umur 10 minggu 1,365 – 1,741 kg per ekor.
 
 
Pemberian limbah kangkung menjadi alternatif solusi untuk efisiensi ransum yang diberikan pada entog umur 1 – 3 bulan. Cara pemberiannya, yaitu limbah sayuran diiris tipis, direbus sebentar sampai layu kemudian dicampurkan dengan dedak, setelah dingin dapat diberikan ke entog. Limbah kangkung mengandung nutrisi antara lain energi metabolis 475 kkal per kg, protein kasar 15,84 %, lemak kasar 3,52 %, dan serat kasar 18,40 %.
 
 
Sedangkan anak entog bisa diberi ransum broiler (ayam pedaging) periode starter. Hal ini sangat penting untuk pertumbuhan dan pembentukan konformasi tubuh. Apabila pakan awalnya bagus maka entog akan sehat dan tubuh entog dewasa akan besar. 
 
 
Sebagai upaya untuk meningkatkan kesehatan dan pencegahan penyakit dilakukan vaksinasi seperti untuk mencegah ND (Newcastle Disease) atau tetelo. Selalu menjaga kebersihan dan sanitasi kandang dan lingkungan secara rutin. Juga pemberian vitamin yang bisa membantu menjaga kesehatan dan meningkatkan kekebalan tubuh entog.
 
 
Melihat potensi yang ada, komoditas entog masih sangat potensial untuk dikembangkan. Keseimbangan supply (pasokan) & demand (permintaan) akan komoditas entog harus tetap dijaga dengan terus dibudidayakan oleh masyarakat. Tujuan budidaya entog sebagai produksi daging untuk menunjang kuliner khas dan memproduksi bibit untuk dikembangkan lebih lanjut agar keberadaannya tetap lestari, sehingga populasi entog tidak punah. Apalagi budidaya entog cukup mudah dengan potensi pemasaran yang semakin terbuka baik untuk produksi bibit maupun daging. TROBOS
 
 
 
*Dosen & Peneliti Prodi Peternakan 
Fakultas Pertanian Universitas Majalengka
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain