Kamis, 1 April 2021

Ayam Gaok Terseleksi

Ayam Gaok Terseleksi

Foto: ramdan
Dari kiri Soni Sopiyana, Komarudin, dan Andi Baso Lompengeng Ishak

Gaosi-1 Agrinak, sebagai generasi ke-6 dari ayam gaok terseleksi, pada usia 10 minggu telah mencapai bobot panen sesuai preferensi pasar, yakni 800 gram (betina) dan 1.000 gram (jantan)
 
 
Produksi daging ayam lokal nasional terus mengalami peningkatan pada beberapa tahun terakhir. Pada 2016, produksi nasional daging ayam lokal tercatat sebesar 284.987,77 ton dan meningkat menjadi 298.682,45 ton pada 2020 (BPS, 2020). Hal tersebut diungkapkan Komarudin, peneliti dari Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Balitbangtan Kementan. Lanjutnya, peningkatan produksi ini selaras dengan permintaan nasional pada daging ayam lokal yang menunjukkan tren yang terus meningkat. Tren ini diprediksi akan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan daya beli masyarakat Indonesia. “Oleh karena itu, ketersediaan bibit ayam lokal dengan kualitas unggul sangat dibutuhkan oleh peternak khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya,” jelasnya.
 
 
Lelaki yang akrab disapa Komar ini menuturkan setidaknya terdapat 34 jenis ayam lokal di Indonesia dan 11 diantaranya dapat dikembangkan untuk produksi daging dan telur. Rumpun-rumpun ayam lokal tersebut dapat dikembangkan dan ditingkatkan kualitas produksinya melalui proses pemuliaan untuk menghasilkan bibit ayam lokal dengan kualitas unggul. “Salah satu rumpun ayam lokal yang belum banyak diteliti dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan yakni ayam Gaok,” ujarnya.
 
 
Andi Baso Lompengeng Ishak Kepala Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Ciawi, Bogor Jawa Barat saat dikunjungi TROBOS Livestock beberapa waktu lalu menjelaskan ayam gaok yang merupakan salah satu plasma nutfah asli pulau Madura, Jawa Timur. “Kita sudah melakukan risetnya untuk diusulkan dengan nama ayam Gaosi (Gaok Terseleksi) yang mirip dengan ayam Sensi (Sentul Terseleksi). Saat ini sedang menunggu surat keputusan menteri pertanian,” papar Andi Baso.
 
 
Ia mengatakan ketersediaan bibit ayam lokal dengan kualitas unggul sangat dibutuhkan oleh peternak khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Di sisi lain, Indonesia merupakan negara yang kaya akan berbagai sumberdaya genetik termasuk berbagai rumpun ayam lokal. “Saat ini, Balitnak sedang melakukan riset berdasarkan preferensi konsumen untuk ayam lokal yang berkaki kuning. Permintaan tersebut mungkin terkait budaya ataupun kebiasaan masyarakat,” sebutnya.
 
 
Rencana Pengembangan Galur
Rencana pengembangan galur baru ayam Gaok terseleksi adalah untuk membangun bibit ayam lokal tipe pedaging dalam rangka memenuhi permintaan nasional terhadap daging ayam lokal yang terus meningkat. Ayam Gaok terseleksi yang dikembangkan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai kandidat galur jantan (male line) dalam rangka perakitan bibit ayam lokal pedaging nasional yang setidaknya memerlukan 2 galur jantan dan 2 galur betina pada perkawinan 4 ways crossing untuk menghasilkan GP (Grand Parent) ayam lokal.
 
 
Saat ini Indonesia sudah memiliki satu galur betina (female line) yakni ayam KUB-1 melalui Surat Keputusan (SK) Pelepasan Galur yakni SK Menteri Pertanian RI No. 274/Kpts/SR.120/2/2014 dan satu galur jantan (male line) yakni ayam Sensi-1 Agrinak melalui SK Pelepasan Galur yakni SK Menteri Pertanian RI No. 39/Kpts/PK.020/1/2017. Dengan adanya ayam Gaok terseleksi, diharapkan perakitan bibit ayam lokal nasional dari sisi galur jantan (male line) dapat menjadi lebih lengkap.
 
 
Upaya seleksi juga dilakukan dengan tidak menghilangkan sifat khas atau fenotip ayam Gaok yang tertera pada Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 1056/Kpts/SR.120/10/2014 tentang penetapan rumpun ayam Gaok. Ayam Gaok yang terseleksi akan diperbanyak oleh Unit Perbanyakan Benih Sumber (UPBS) Balai Penelitian Ternak. Ayam umur satu hari atau day old chick (DOC) yang dihasilkan UPBS tersebut akan disebarluaskan melalui program diseminasi Strata-1 dan Strata-2 di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) dan/atau kepada peternak-peternak di seluruh Indonesia, disamping pemberian lisensi kepada beberapa komersial perbanyakan DOC ayam lokal.
 
 
Seleksi dilakukan secara berkelanjutan dari 2013 sampai 2019. Kriteria seleksi utama yang digunakan yakni bobot badan ayam Gaok jantan pada umur 10 minggu. Pada umur 10 minggu, sebanyak 25 % dari populasi jantan sehat dalam setiap generasi diseleksi berdasarkan bobot badan tertinggi, kemudian dipelihara sampai dewasa. Jantan yang dipelihara juga tidak boleh memiliki cacat fisik seperti buta dan cacat pada kaki. Seleksi pada fenotip seperti pola warna, warna shank dan bentuk jengger tidak dilakukan karena fenotip tersebut sudah cukup seragam. Pada populasi ayam betina tidak dilakukan seleksi bobot badan secara khusus, tetapi tetap dipilih ayam-ayam betina yang sehat, tidak cacat dan tidak kerdil.
 
 
Setiap ayam diberikan tanda pengenal (wing band) untuk memudahkan dalam pencatatan performa ayam, pembuatan silsilah keturunan dan proses seleksi. Pada setiap generasi, kurang lebih sebanyak 1.000 ekor DOC (ayam umur sehari) digunakan sebagai replacement.
 
 
Karkas Lebih Besar
Komarudin memaparkan seleksi pada rumpun ayam Gaok untuk menghasilkan galur ayam Gaok terseleksi telah dilakukan oleh tim peneliti Balai Penelitian Ternak. Seleksi dilakukan pada bobot badan ayam umur 10 minggu, karena merupakan kriteria seleksi yang penting pada ayam lokal dalam rangka memenuhi permintaan pasar dengan bobot potong antara 800 sampai dengan 1.000 g/ekor. “Gaosi-1 Agrinak, sebagai generasi ke-6 dari ayam gaok terseleksi, pada usia 10 minggu telah mencapai bobot panen sesuai preferensi pasar, yakni 800 gram (betina) dan 1.000 gram (jantan), dengan porsi karkas ayam jantan lebih besar dibandingkan rataan persentase karkas ayam sentul,” ungkapnya.
 
 
Ia mengatakan pembentukan galur baru ayam Gaok ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi peternakan ayam lokal khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Balai Penelitian Ternak (Balitnak) telah melakukan program seleksi pada ayam Gaok untuk menghasilkan bibit ayam lokal pedaging yang dipanen umur 10 minggu dan dapat dijadikan galur jantan (male line) yang akan disilangkan dengan ayam KUB yang merupakan galur betina (female line). “Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pertumbuhan bobot badan dan karakteristik semen ayam Gaok generasi ke-6 yang dipelihara di Balitnak, ” cetusnya. 
 
 
Soni Sopiyana - kawan penelitian Komaruddin menambahkan, koefisien keragaman (KK) bobot badan umur 10 minggu yang kecil, yang artinya relatif seragam, baik pada ayam jantan maupun pada ayam betina. Koefisien variasi bobot badan umur 10 minggu ayam jantan dan betina masing-masing sebesar 13,81 % dan 13,05 %. “Untuk konversi pakan juga menunjukkan hasil yang baik. Kuantitas dan kualitas semen segar ayam Gaok jantan pada umur 8 bulan masih tergolong normal dan memberikan indikasi bahwa ayam Gaok dapat direkomendasikan sebagai galur jantan (male line),” jelasnya.
 
 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain