Kamis, 1 April 2021

Menuntut Solusi Perunggasan Broiler yang Komprehensif

Menuntut Solusi Perunggasan Broiler yang Komprehensif

Foto: 


Aturan yang berjalan dengan baik akan membuat keseimbangan pertumbuhan produksi baik pada peternak mandiri maupun peternak
integrasi
 
 
Berbagai persoalan di perunggasan broiler (ayam pedaging) tanah air belum juga usai. Salah satunya, kondisi harga live bird (ayam hidup) yang fluktuatif bahkan anjlok di bawah HPP (Harga Pokok Produksi) masih dikeluhkan para pelaku usaha khususnya peternak rakyat/mandiri.
 
 
Ketua Pinsar (Perhimpunan Insan Per­ unggasan Rakyat) Indonesia Jawa Barat, Muhlis Wahyudi menyatakan, akar masalah di perunggasan ini dari hulu ke hilir. Sebagai contoh, ketika Februari 2021 pemerintah mengeluarkan SE (Surat Edaran) Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan tentang pemangkasan produksi broiler, peternak tetap rugi. “Kami tidak merasa kedaulatan ada di tangan kami padahal di ke­tentuan sudah ada. Kami hanya sebagai objek,” sesalnya dalam kegiatan Rembuk Perunggasan Nasional VIII yang digagas Pinsar Indonesia dan GOPAN (Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional) bertema “Perkuat Sinergi Kolaborasi Antar Peternak dalam Mewujud­ kan Iklim Usaha Ayam Broiler Nasional Yang Berdaulat, Adil dan Sejahtera bagi Semua” di Grandballroom The Trans Luxury Hotel Bandung, Jawa Barat, Selasa (2/3).
 
 
Ia melanjutkan, meskipun produksi ayam di kandang bagus tetapi peternak tidak punya kedaulatan dalam menentukan harga pen­ jualan dari ayam yang dipeliharanya. “Harus ada perbaikan instrumental, struktural, dan kultural agar perunggasan broiler ini menjadi lebih baik,” tuntut Muhlis.
Selain itu, ia menuntut evaluasi harga pakan mengingat sekitar 70 % dari HPP adalah biaya pakan. “Kami menuntut pabrikan pakan menurunkan margin keuntungannya sebagai bentuk tanggung jawab karena harga ayam hidup hancur,” tandas Muhlis.
 
 
Peran Berdikari
Ketua Pinsar Indonesia Jawa Tengah, Parjuni menuntut tidak ada segmen budidaya di Roadmap PT Berdikasi (Persero). Berdi­ kari agar lebih fokus pada penyediaan DOC (Breeding Farm) untuk kemudian DOC (ayam umur sehari) tersebut dijual kepada peternak­ peternak kecil sehingga Berdikari mampu jadi pelindung bagi eksistensi peternak kecil. “Berdikari lebih baik fokus ke distribusi dan pengolahan daripada berbudidaya,” pintanya. Direktur Operasional PT Berdikari (Per­ sero), Mohammad Hasyim menyatakan, Berdikasi siap dalam penugasan dan stabilisasi harga di hilir. “Apapun yang ditugaskan peme­ rintah kami sangat siap. Kami pun harus siap dalam distribusi dan rantai dingin di daerah. Hal ini sudah ada dalam perencanaan kami ke depan,” kilahnya.
 
 
Berharap Hasil Maksimal
Ketua Umum Pinsar Indonesia, Singgih Januratmoko mengatakan, bisnis perunggasan adalah salah satu bagian dari bisnis di bidang pertanian dengan omzet sekitar Rp 450 triliun dan menyerap hampir 30 % lapangan kerja. Daging ayam broiler dan telur menjadi salah satu dari 11 bahan pangan pokok yang ke­ tersediaannya harus dijaga baik supply maupun distribusinya. Di masa pandemi Covid­19 ini sumber protein sangat dibutuhkan oleh ma­ syarakat sebagai sumber nutrisi yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh.
 
 
Ia menyampaikan, kegiatan ini sebagai upaya dalam menyikapi dinamika perunggasan nasional. “Semoga momen ini dapat digunakan sebaik – baiknya sehingga dihasilkan satu keputusan yang terbaik bagi seluruh pelaku di industri perunggasan maupun bagi masyarakat Indonesia,” pintanya.
 
 
Dalam situasi seperti ini, lanjut Sing­ gih, peternak mandiri sudah mengurangi chick in dalam jumlah besar akibat kesulitan mendapatkan DOC sejak kebijakan pemang­ kasan DOC. Padahal distribusi DOC idealnya mengacu pada Permentan Nomor 32 Tahun 2017 Pasal 19 bahwa pembagian DOC 50
% untuk peternak mandiri dan 50 % untuk integrator yang belum berjalan dengan baik. “Jika aturan ini berjalan dengan baik akan terjadi keseimbangan pertumbuhan produksi baik pada sisi peternak mandiri maupun sisi peternak integrasi,” ucapnya.
 
 
Sedangkan Ketua Umum GOPAN, Herry Dermawan berpendapat, industri perunggasan hanya ada 4 pilar yaitu pabrik pakan, breeding farm, peternak, dan para bandar/penjual ayam. “Keempat pilar ini sampai saat ini belum bisa bekerja sama dengan baik,” ujarnya.
Ia berpesan agar rembuk mendapat hasil yang maksimal. “Mudah­ mudahan dengan kompaknya pemerintah dalam hal ini Ke­ menterian Perdagangan dan Kementerian Pertanian akan membawa perbaikan bagi kita semua. Juga dengan kehadiran Wakil Menteri Perdagangan menunjukan kepedulian pemerintah terhadap perunggasan nasional agar perunggasan bisa bermanfaat bagi semua pihak,” urai Herry.
 
 
Tuan Rumah di Negeri Sendiri
Dari sisi produksi, perunggasan Jawa Barat menyumbang sekitar 40 % dari produksi nasional. Namun akibat pandemi Covid­19 permintaan menjadi turun dan terjadi fluktuasi harga ayam hidup di tingkat produsen dan pasar. “Perlu kajian regulasi yang berpihak pada semua pelaku usaha secara berkeadilan. Sinergi dan kolaborasi untuk perunggasan nasional agar bisa berdaulat, berkeadilan dan sejahtera,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pa­ ngan dan Peternakan Jawa Barat, Jafar Ismail. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Syailendra berjanji dalam menghitung harga acuan, harga subsidi, dan harga khusus akan dihitung bersama­sama dengan melihat stuktur harga dan koefisien sebagai variabel. “Kita akan mencari keseimbangan harga pasar yang konsep besar keseimbangan itu akan dirumuskan oleh stakeholder,” tandasnya.
 
 
Ia pun menyampaikan siap membantu membuka jaringan pasar dan meminta stake­ holder terkait untuk menyerap produksi ayam dan telur dari peternak rakyat. Juga janji untuk menempatkan cold storage di beberapa lokasi pun sedang dalam proses. “Kami komitmen untuk siap memfasilitasi,” tegasnya.
 
 
Direktur Jenderal Peternakan dan Ke­ sehatan Hewan, Nasrullah meminta semua pihak bekerja sama untuk mencari solusi dari persoalan yang ada. “Kami minta semua berkomitmen. Kami akan beri sanksi jika di hulunya tidak bisa dibereskan dan akan diserahkan ke Satgas Pangan,” tegasnya.
 
 
Ia menyatakan, menjelang puasa dan Lebaran, pihaknya akan terus mengecek ke­ tersediaan karkas di cold storage. Pengawasan dilakukan agar tidak terjadi penumpukan atau defisit dengan alasan adanya kebijakan pangkas produksi.
 
 
Nasrullah juga menegaskan kembali pentingnya pembentukan tim bersama yang terdiri atas perwakilan pemerintah, peternak dan pelaku usaha guna membahas persoalan seperti harga dan pasokan. “Kami berusaha agar produk unggas tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” tegasnya.
 
 
Kepala Sub Satgas Pangan Polri Kombes Helfi Assegaf menyatakan, dinamika di per­ unggasan cukup tinggi dari hulu ke hilir. “Satgas Pangan akan terus berperan dalam menjaga stabilitas, ketersediaan, distribusi, dan harga pangan,” tegasnya.
 
 
Gerakan Makan Ayam & Telur
Hadir secara langsung pada acara yang digagas Pinsar Indonesia dan GOPAN ini, Wakil Menteri Perdagangan RI, Jerry Sambuaga menyampaikan pentingnya meningkatkan soliditas, ketahanan para pelaku usaha, serta ketahanan pangan. “Pemerintah peduli dan hadir guna bisa melihat dan menyerap aspirasi dengan cara mendengarkan langsung. Dengan kepedulian pemerintah diharapkan bisa me­ ningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan para pelaku usaha,” paparnya.
 
 
Selain itu, Jerry juga meminta untuk secara bersama­sama menggalakkan pe­ ningkatan konsumsi ayam dan telur secara nasional agar bisa berdampak pada pertumbuhan dan kesejahteraan dari hulu ke hilir. “Dengan konsumsi ayam dan telur akan semakin memberikan kejelasan dan produktivitas kepada para pelaku untuk meningkatkan kesejahteraan,” ujar pria yang sekaligus mencanangkan Gerakan Makan Ayam & Telur 2021 dengan jargon “Makan Ayam & Telur Untuk Tingkatkan Imunitas”. TROBOS/Adv
 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain