Kamis, 1 April 2021

Menyiapkan Ternak Unggul dengan Sinbiotik dan Toxin Binder dari Biochem

Menyiapkan Ternak Unggul dengan Sinbiotik dan Toxin Binder dari Biochem

Foto: 


Permasalahan yang terjadi pada masa pedet, akan sangat berpengaruh pada performa saat dewasa
 
 
T Biochem Zusatzstoffe Indone­sia (Biochem) kembali menyapa seluruh pelanggannya di tanah air melalui farminar atau farm management seminar online (18/3/21). Kali ini Biochem berkolaborasi dengan Dairy Pro Indonesia yang mengangkat tema “Strategi Komprehensif Persiapan Bibit Unggul dengan Sinbiotik dan Toxin binder”.
 
 
Dalam sambutannya, Direktur PT Biochem Zusatzstoffe Indonesia, Veny Wibowo meng­ ungkapkan pertumbuhan dan kesehatan sapi pada awal masa pertumbuhan atau masa pedet merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan peternakan sapi. Pada akhirnya hal ini juga yang menjadi salah satu faktor penentu keuntungan yang diperoleh peternak atau pebisnis. Ia berharap farminar ini semakin membuka wawasan peserta akan pentingnya pertumbuhan dan kesehatan pedet.
 
 
Di kesempatan ini Biochem juga mem­ perkenalkan produk sinbiotik dan toxin binder unggulannya yang sangat bermanfaat untuk pertumbuhan dan kesehatan sapi. Veny meng­ ungkapkan, ”Dengan penambahan sinbiotik dan toxin binder yang akan diperkenalkan kali ini akan membantu kesehatan dan juga efisiensi pakan yang pada akhirnya membantu meningkatkan keuntungan peternak.”
 
 
Farminar kali ini menghadirkan nara­ sumber utamanya yaitu Deddy Fachruddin Kurniawan, CEO Dairy Pro Indonesia yang berbagi informasi mengenai kriteria bibit unggul ruminansia dan titik kritis dalam pe­ nyiapan bibit unggul dan dihadiri juga oleh tim dari PT Lautan Luas, sebagai Distributor produk Triple P dan BioTox, yang diwakili oleh Ibu Ratna Melinda.
 
 
Pentingnya Persiapan Bibit Unggul
Saat ini, bibit unggul belum menjadi prioritas utama bagi sebagian besar peternak sapi di Indonesia. Pedet dianggap sebagai produk sampingan belaka dan tidak diper­ lakukan sebagaimana mestinya. Fakta tersebut diungkapkan oleh Deddy berdasarkan penga­ matannya di lapangan. Padahal menurutnya bibit unggul menjadi kunci sukses beternak di kemudian hari.
 
 
Contoh kasus yang sering ia temukan adalah sapi­sapi baru diketahui performanya tidak bagus saat sudah masa laktasi, padahal induk dan pakannya berkualitas baik. Setelah ditelusuri ternyata sapi­sapi tersebut pernah mengalami masalah pada masa pedet. Akibat­ nya investasi yang sudah dikeluarkan menjadi tidak bermanfaat.
 
 
Menurut Deddy, evaluasi baik dan tidaknya bibit unggul atau pedet sangat diperlukan. Salah satu caranya dengan menerapkan kontrol standar pertumbuhan. Pedet dengan pertumbuhan baik dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor genetik, kesehatan, nutrisi, dan kompensasi energi.
 
 
Permasalahan pada masa pedet sangat berpengaruh pada per­ forma saat dewasa dan tantangan lain yang dihadapi peternak adalah kematian pada pedet paling banyak ditemukan adalah karena diare yang disebabkan oleh bakteri, virus, cacing, protozoa, manajemen pakan, dan sebagian besar penyebab diare adalah karena mikroba. “Kita membutuhkan treatment yang sifatnya positif untuk mengatasi diare ini. Dengan cara vaksinasi, antikoksidia melawan diare, atau memberikan bakteri­bakteri menguntungkan. Jika treatment yang di­ lakukan tidak menunjukkan hasil, antibiotik dapat dijadikan pilihan terakhir bukan yang pertama,” terang Deddy.
 
 
Bakteri menguntungkan yang dimaksud­ kan oleh Deddy adalah golongan probiotik, prebiotik, dan sinbiotik. Dikatakannya, golongan probiotik ­ prebiotik tersebut ter­ bukti dapat menurunkan kematian pada pedet, meningkatkan daya sembuh, mencegah diare, meningkatkan neutrofil, dan menurunkan peradangan.
 
 
Triple P® dan B.I.O.Tox®
Biochem menghadirkan Kikieb Maria Kibtiyah, Senior Technical and Sales Execu­tive PT Biochem Zusatzstoffe Indonesia yang memperkenalkan produk sinbiotik dan toxin binder sebagai solusi permasalahan pada sapi. Dikatakannya produk Triple P® dan B.I.O.Tox sudah melalui serangkaian pengujian, terbukti berkualitas dan efektif menghadapi perma­ salahan pada ternak.
 
 
Kikieb menuturkan permasalahan yang sering muncul pada awal kehidupan pedet adalah jumlah patogen yang tinggi dan daya cerna yang buruk, akibatnya sering muncul diare . Untuk mengatasi hal ini, dia menyarankan dua solusi yaitu menambahkan produk sinbiotik dari Biochem Triple P® pada milk enhancer dan milk replacer, serta penambahan Triple P® pada pakan calf starter. Triple P® mengandung dua bakteri probiotik yakni Bacillus subtilis dan Bacillus licheniformis, serta prebiotik dinding sel yeast Saccharomyces cerevisiae roti. Bacillus subtilis membantu meningkatkan daya cerna nutrisi dan kinerja hewan, Bacillus licheniformis efektif menekan patogen dan menstabilkan flora usus, serta Saccharomyces cerevisiae dapat mengikat bakteri patogen dan merang­ sang kekebalan seperti yang terlihat pada gambar 1.
 
 
“Triple P® merupakan sinbiotik untuk mencapai puncak vitalitas ternak dan me­ miliki segudang manfaat. Diantaranya diare berkurang, gangguan pencernaan berkurang, mendukung perkembangan sistem imun, konsumsi susu dan pakan starter meningkat, berat badan harian meningkat, serta efisiensi biaya pengobatan,” papar Kikieb.
 
 
Selanjutnya adalah produk B.I.O.Tox® yang merupakan toxin binder (pengikat mikotoksin) spektrum luas. Diterangkan Kikieb, toxin binder adalah salah satu pilihan yang paling tepat dalam mengurangi efek negatif toksin dan mencegah penurunan produksi pada peternakan. Toxin binder akan mengikat toksin dalam saluran pencernaan dan menghasilkan ekskresi berupa toksin – kompleks toxin binder dalam feses.
 
 
B.I.O.Tox® mampu mengikat mikotoksin pada variasi pH 3­8. Komponen B.I.O.Tox® secara efisien melawan desorpsi, bahkan dalam kondisi yang sangat asam. Dari hasil trial B.I.O.Tox® di University of Teheran, Iran menyimpulkan B.I.O.Tox® menjadikan pH rumen lebih baik untuk mendukung per­ tumbuhan bakteri selulitik, sehingga semakin banyak serat dikonversi menjadi asam asetat yang penting dalam produksi lemak susu. Kemudian efisiensi pakan meningkat, AFM1 dalam susu berkurang seperti terlihat pada gambar 2, serta transfer AFB1 dari pakan ke susu berkurang.
 
 
Dosis B.I.O.Tox® mempengaruhi efisiensi pengikatan. Kikieb menyarankan untuk sapi dengan kontaminasi mikotoksin pada pakan jika rendah dosisnya 10 – 20 g/ekor /hari, sedang 30 – 40 g/ ekor/ hari, dan tinggi 50
– 60 g/ ekor/ hari.
 
 
Veny Wibowo menambahkan Biochem berkomitmen dalam memajukan dunia peter­ nakan dengan menyediakan produk­produk inovatif, berkualitas, aman, dan sudah teruji untuk kesehatan dan performa ternak yang akan meningkatkan keuntungan bagi peter­nak. ˇ´TROBOS/Adv
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain