Kamis, 1 April 2021

Kelinci Unggul dengan Bulu Halus & Mengkilap

Kelinci Unggul dengan Bulu Halus & Mengkilap

Foto: 


Kelinci Reza Agrinak merupakan rumpun kelinci kulit bulu (fur)halus kilap yang konsisten selain mampu dimanfaatkan dagingnya.
Kulit bulu (fur) halus kilap diharapkan mampu memberikan tambahan penghasilan bagi peternak, sehingga dapat mendukung peternakan kelinci komersial
 
 
Usaha peternakan kelinci akhir-akhir inisemakin berkembang karena didorong oleh peningkatan permintaan terhadap produk kelinci, berupa kelinci hias, kelinci
kesayangan, kelinci kontes maupun daging kelinci. “Sebagai konsekuensi, para pelaku usaha ternak kelinci diharapkan mampu meningkatkan usaha ternaknya untuk memenuhi permintaan tersebut. Salah satu kebutuhan utama para peternak kelinci yang mendesak adalah tersedianya bibit unggul dalam jumlah dan kualitas yang memadai,” ujar Bram Brahmantiyo peneliti dari Balai Penelitian Ternak Balitnak), Balitbangtan, Kementan, Ciawi, Bogor, Jawa Barat.
 
 
Ia mengemukakan pembibitan kelinci yang terdapat di lapang, saat ini hanya sebatas pada pembudidayaan ternak kelinci sebagai penghasil calon indukan (baik
pejantan maupun betina) dan masih dikelola secara tradisional sehingga ternak yang dihasilkan belum memiliki standar kualitas.
 
 
Sementara disisi bisnis, kelinci dikenalsebagai ternak unggul, yaitu kemampuan biologisnya untuk tumbuh dan berkembang biak dengan cepat pada kondisi pemeliharaan yang marjinal maupun intensif (seekor induk kelinci per tahun dapat meng-hasilkan > 120 kg bobot hidup dalam kondisi intensif atau 40 kg dalam kondisi marjinal). “Budidaya kelinci merupakan usaha yang menguntungkan baik untuk ternak hias, pedaging maupun bibit (rasio B/C = 1,46 – 3,15), dengan kondisi permintaan lebih tinggi dari suplai,” tutur Bram.
 
 
Bram mengutarakan Balai Penelitian Ternak telah melakukan serangkaian kegiatan penelitian untuk menghasilkan bibit unggul dari jenis-jenis kelinci yang tersedia, dalam rangka mengantisipasi kebutuhan peternak terhadap bibit kelinci unggul. Balitnak telah merintis pengembangan ternak kelinci yang memiliki tujuan ganda, yaitu kelinci Reza-Agrinak (daging dan fur). Daging diharapkan untuk konsumsi protein hewani bagi keluarga, sedangkan fur yang halus kilap dapat menjadi tambahan pendapatan bagi peternak.
 
 
“Kulit bulu yang halus dan kilap diperoleh dengan metode persilangan kelinci Rex dan Satin. Persilangan ini akan menghasilkan kelincidengan kulit bulu halus kilap,” ujar Bram.
 
 
Persilangan Rex dan Satin
Bram memaparkan tujuan pembentukan kelinci Reza Agrinak adalah menyediakan rumpun kelinci kulit bulu (fur) halus kilap yang konsisten selain mampu dimanfaatkan dagingnya. Kulit bulu (fur) halus kilap diharapkan mampu memberikan tambahan penghasilan bagi peternak, sehingga dapat mendukung peternakan kelinci komersial. “Kelinci Reza Agrinak merupakan persilangan dari kelinci Rex (50%) dengan Satin (50%). Kelinci Rex yang digunakan dalam persilangan ini berasal dari Oregon, Amerika yang diimpor sejak 1988–an dan sudah berkembang biak di Balitnak, sedangkan kelinci Satin juga diimpor sejak 1996-an dan sudah berkembang biak di Balitnak,” jabarnya.
 
 
Untuk pembentukan kelinci Reza-Agrinak,diterangkan Bram digunakan 30 ekor kelinci Rex (15 ekor betina dan 15 ekor jantan) dan 30 ekor kelinci Satin (15 ekor betina dan 15 ekor jantan). Setelah dilakukan persilangan maka digunakan F1 hasil persilangan sebanyak 30 ekor silangan antara kelinci Rex dan kelinci Satin (15 ekor betina dan 15 ekor jantan), serta 30 ekor silangan kelinci Satin dan Rex (15 ekor betina dan 15 ekor jantan). Pada F1 persilangan kelinci Rex dan Satin diperoleh kelinci yang memiliki bulu normal semua. Lalu persilangan pun dilanjutkan dengan cara inter se mating (perkawinan antar F1). 
 
 
Pada F2 ini lalu dilakukan seleksi pada kelinci-kelinci yang memiliki bulu halus kilap. Akhirnya pada F2 diperoleh kelinci yang memiliki bulu halus kilap sebesar 6,12 %. Pada F3, seleksi dilakukan untuk mendapatkan kelinci Reza-Agrinak dan diperoleh 88,8 % kelinci Reza-Agrinak. Seleksi pun dilanjutkan sampai mencapai F4 dan didapatkan bahwa kelinci Reza-Agrinak yang memiliki bulu halus kilap sebesar 100 %.
 
 
“Program pemuliaan dilakukan untuk melakukan pemilihan kelinci-kelinci yang memiliki bulu halus kilap, sehingga didapatkan populasi kelinci Reza-Agrinak yang dapat dikembangkan menjadi bibit-bibit bakalan yang dapat didistribusikan apabila ada pengembangan lebih lanjut,” urainya.
 
 
Lanjut Bram akan ada peningkatan kerjasama dengan peternak dan kelompok peternak, asosiasi, pemerintah daerah (pemerintah daerah tingkat provinsi maupun pemerintah daerah tingkat kota/kabupaten), antar kelembagaan di tingkat pusat, serta pihak swasta dilakukan untuk mendorong pengembangan kelinci Reza Agrinak di masyarakat. 
 
 
Pada saat kontes ternak kelinci yang diselenggarakan pemerintah maupun swasta mampu menjadi pemicu untuk tersosialisasinya kelinci Reza Agrinak. “Pada saat ini ada beberapa bibit diberikan dalam rangka kerjasama penelitian seperti BPTP DKI Jakarta, BPTP Sulawesi Utara dan para kelompok peternak kelinci maupun peternak kelinci swasta,” pungkasnya.
 
 
Pengembangan Kelinci Unggul Selanjutnya
Menurut Bram dalam industri peternakan kelinci di negara maju, program persilangan ternak kelinci menggunakan metode three-way crossbreeding. Dimana persilangan pertama dilakukan antara dua bangsa terpilih untuk memperoleh induk-induk silangan yang memiliki reproduktivitas superior melalui pemanfaatan efek heterosis (selanjutnya menyilangkannya dengan pejantan bangsa ternak yang memiliki sifat pertumbuhan yang baik). Sehingga meningkatkan performa pertumbuhan dan bobot badan hasil silangan.
 
 
Dari sudut pandang ekonomi, pertambahan bobot badan harian (pra/pasca-sapih), konsumsi pakan dan rasio konversi pakan merupakan sifat-sifat yang sangat penting dalam perhitungan pertumbuhan produktifitas ternak. “Saat ini sedang dilakukan persilangan kelinci murni HyCole, HyLa dan NZW/New Zealand White lokal di Balitnak agar mendapatkan keturunan kelinci yang adaptif di iklim tropis atau dengan sebutan Kelinci Unggul Adaptif Tropis (KUAT),” ungkapnya.
 
 
Ia melanjutkan, produktivitas kelinci murni HyCole (PP), HyLa (CC) dan NZW (NN) lokal cukup baik di daerah tropis Indonesia. Karakteristik laju pertumbuhan dan pemotongan pada umur 10 minggu memberikan nilai ekonomis yang lebih menguntungkan pada kelinci persilangan dibandingkan kelinci NZW lokal.
 
 
Persilangan kelinci Hycole (PP) dan New Zealand White (NN) memberikan penampilan produktivitas induk yang tidak berbeda antara tetua dengan persilangan resiprokalnya (PN dan NP), tetapi pertumbuhan keturunan PN lebih baik dibanding NP. Begitu pula dengan kelinci Hyla (CC) dan New Zealand White (NN) dan persilangan timbalbaliknya (CN dan NC) memberikan penampilan produktivitas induk yang sama, dan kelinci persilangan CN memberikan performa produktivitas lebih tinggi dibandingkan kelinci persilangan NC. “Sehingga kelinci persilangan PN dan CN merupakan kandidat materi genetik pembentuk kelinci KUAT,” pungkasnya. lTROBOS/Adv
 
 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain