Selasa, 6 April 2021

Inilah Indikator Utama Kualitas Jagung Pakan

Inilah Indikator Utama Kualitas Jagung Pakan

Foto: ist/dok.Kementan


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Indikator utama kualitas jagung bukanlah kadar lemak maupun protein, namun justru berat jenis dan kerusakan pada jagung akibat panas.

 

“Lebih baiknya dilihat dari berat jenis jagung dalam satu liter menghasilkan berapa kilogram. Hal ini penting karena berhubungan dengan jagung yang dipanen masih muda atau sudah tua. Kendati demikian, jika masih muda umurnya berarti berat jenisnya akan rendah. Meskipun dengan berat jenis yang rendah belum tentu kualitasnya menurun,” terang Budi Tangendjaja, Konsultan Pakan dan Nutrisi Ternak pada sebuah webinar beberapa waktu yang lalu.

 

Selain berat jenis, kata Budi harus diperhatikan juga kotoran yang menempel pada jagung dan kerusakannya. Misalnnya pada biji yang rusak karena ada jamur akibat pengeringan yang kurang bagus atau disimpan terlalu lama.

 

“Ini akan berpengaruh terhadap makanan ternak juga manusia yang akibat ditumbuhin jamur. Jamur ini akan menggunakan nilai kandungan gizi pada jagung untuk pertumbuhannya. Walhasil nilai gizi pada jagung akan menurun,” dia menerangkan.

 

Sayangnya, menurut Budi, di Indonesia hanya terdapat satu SNI pada jagung sebagai syarat bahan pakan. Seperti kandungan aflatoksin maksimal 50 ppb (part per billion). Standar demikian tentu sulit diterapkan jika digunakan pakan jagung untuk sapi perah.

 

Diuraikannya, ketika sapi perah makan jagung sebagai bahan bakunya maka metabolit dari aflatoksin akan masuk kedalam susu. Walhasil banyak industri sapi perah yang meminta maksimum aflatoksinnya 20 ppb.

 

“Sangat sulit untuk mendapatkan jagung yang aflatoksinnya rendah,” papar dia. Kendati demikian, Budi mengaku telah ada pembahasan mengenai SNI jagung terbaru yang disebut dengan jagung premium pakan untuk memenuhi kebutuhan sapi perah.

 

Budi menjelaskan bahwa jagung ini menjadi faktor penting dalam menyusun ransum baik itu unggas maupun babi. Karena menjadi hal penentu selain bungkil kedelai. Itu terjadi tidak hanya di Indonesia melainkan di negara Asia lainnya.

 

“Jagung paling utama dipakai mencapai 50 % dalam bahan pakan ransum. Sehubungan itu, sebagai nutrisionis sangat penting memperhatikan kualitas jagung,” imbuhnya.

 

Dinamika Jagung Global

Lebih lanjut, Budi menjelaskan bahwa kondisi jagung akhir-akhir ini stoknya menurun secara global. Gara-garanya permintaan China meningkat setelah masa recovery dari penyakit african swine fever (ASF) yang menyerang babi. Ketika stok menurun, permintaan meningkat maka harganya pun pasti meningkat. Kondisi itu, menurut Budi tidak berpengaruh terhadap Indonesia.

 

Sejak pemerintah melarang impor jagung pada 2016 silam, domestic production pun meningkat. Data dari Kementerian Pertanian (Kementan) menyebutka pada 2017, produksi jagung sebesar 30 juta ton dengan luas areal tanaman sebanyak 5,5 juta ha.

 

Akan tetapi berdasarkan Departemen Pertanain Amerika Serikat (USDA) mengatakan jika Indonesia hanya mampu memproduksi jagung sebanyak 12 juta ton diperoleh dengan luas areal tanaman 4 juta ha. 

 

"Jadi ada perbedaan data, diharapkan Kementan dan Badan Pusat Statistik (BPS) memperbaikinya guna bentuk upaya agar perencanaan kedepan lebih baik," harapnya.

 

Lebih lanjut, Budi menyampaikan akibat pelarangan impor jagung, produksi lokal meningkat. Namun tak sebanding dengan konsumsi pakan yang juga meningkat. Artinya produksi jagung lokal tidak memenuhi kebutuhan pakan ternak pada 2016.

 

Akibatnya perusahaan pakan ternak menggunakan substitusi dari jagung berupa gandum. Namun saat ini sudah mulai dihentikan, akibat pandemi Covid-19 dan juga produksi jagung merangkak naik kembali.

 

Terakhir, Budi menyampaikan pada kondisi tertentu jika jagung merosot turun lagi, biasanya di Indonesia menggunakan substitusi pakan berupa bahan baku hasil samping penggilingan misalnya dedak padi, wheat pollard, dan juga mengimpor sumber protein karena Indonesia kekuarangan sumber protein untuk pakan ternak.

 

“Sumber protein itu bisa berasal dari hewani contohnya tepung tulang (MBM) ataupun dari nabati seperti kedeai, bungkil kedelai dan corn gluten meal (CGM),” tandasnya. ed/zul

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain