Selasa, 6 April 2021

Nilai Tambah di Perunggasan Harus Dimainkan

Nilai Tambah di Perunggasan Harus Dimainkan

Foto: ist/dok.TROBOSLivestock


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Memainkan nilai tambah produk perunggasan menjadi jalan bertahan bagi Industri perunggasan nasional yang nyaris tidak bisa berkutik soal tingginya biaya produksi, karena hampir 100% faktor input tergantung dengan pasokan luar negeri.

 

Presiden Komisaris Perkasa Grup, sekaligus Wakil Gubernur Sumatera Barat, Audy Joinaldy secara virtual pada Rabu (31/3) menjelaskan, nilai tambah pada level pemrosesan menghasilkan profit yang besar.

 

“Kemudian branding, memang ada beberapa model bisnis yang terjadi di Indonesia, seperti food integrated, yaitu mulai dari biji-bijian misalnya jagung sampai pemrosesan, hingga siap ke tangan pelanggan. Perusahaan saya sendiri, bisa dikatakan telah full integrated, sebab saya punya dari jagung sampai ke prosesing, walaupun dalam skala yang masih sangat kecil dibanding perusahaan integrator lainnya,” ungkapnya.

 

Audy menekankan, bahwa level tertinggi dari nilai tambah sebuah produk adalah merek. Sebab, nantinya merek yang akan membedakan harga di pasaran.

 

Diapun mengajak untuk menengok ke realita perilaku food as a social occasion, yaitu masyarakat akan memotret makanan, kemudian dibagikan ke jejaring sosial seperti Instagram. Sehingga, makanan bukan sebagai kebutuhan lagi (food as need)  atau bahan baku.

 

Investasi Perunggasan

Nilai investasi sub sektor peternakan, baik melalui PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) maupun PMA (Penanaman Modal Asing), hampir sebagian besar terkonsentrasi di komoditas perunggasan. Di sisi lain, untuk angka konsumsi pakan di Indonesia, sebelumnya pada 2020 telah diprediksi akan menyentuh angka 22 juta ton. Namun, akibat adanya pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) angkanya mungkin mendekati seperti pada 2017 – 2018.

 

“Jika target pada 2020 tercapai, maka Indonesia akan masuk ke dalam 10 besar negara yang memproduksi pakan ternak di dunia,” imbuhnya.

 

Ditilik dari berbagai produk peternakan, Audy menilai ternyata untuk harga per gram per protein, yang paling murah adalah telur dan ayam. Sementara, saat ini tahu dan tempe untuk bahan bakunya bisa dikatakan 100 % impor, dan harganya sangat mahal. Kemudian, dilihat dari konsumsi daging ayam per kapita per tahun di Indonesia, mungkin angkanya lebih kurang 12 – 13 kg.

 

“Diantara negara-negara utama Asean seperti Thailand, Singapura dan Malaysia, konsumsi ayam pedaging Indonesia masih sangat rendah. Kita bisa melihat, bahwasannya ada peluang bisnis yang sangat besar di komoditas broiler (ayam pedaging) maupun layer (ayam petelur).  Sebab, dengan captive market yang sangat besar yaitu 270 juta jiwa penduduk Indonesia dan dengan konsumsi yang masih sangat rendah, maka peluangnya masih sangat tinggi,” papar dia.

 

Audy berpendapat, konsumsi di Indonesia masih didominasi oleh rokok, pulsa dan beras. Maka tidak heran, banyak sekali yang terserang penyakit diabetes dan iklan gula khusus penderita diabetes sangat laku. Sedangkan konsumsi daging ayam hanya sekitar lebih kurang 15.000 kg per bulan, sementara telur lebih kurang sebanyak 12.000 kg per bulan.

 

Antisipasi Tantangan

Disebutkan Audi, perunggasan nasional masih harus menghadapi tantangan globalisasi, keterbatasan sumber daya, kesejahteraan hewan, food loss, kelebihan pasokan yang menyebabkan disabilitas harga, ancaman impor dari Brazil, harga pakan yang tinggi sebab harga bahan pakan impor pun tinggi. 

 

Dia menerangkan, Brazil merupakan negara yang biaya produksi ayam pedagingnya paling rendah, sebab Brasil memiliki sumber daya jagung dan SBM, yang mana keduanya adalah bahan baku utama pakan ayam.

 

“Rantai pasok kita masih berantakan, dan saat ini kita harus menjual ayam dalam bentuk  hidup (live bird). Ini mungkin satu-satunya tata niaga di Asia yang masih seperti itu,” sesal dia.

 

Belum lagi harga soy bean meal (SBM) naik-turun, harga DOC (ayam umur sehati) juga bervariasi, stabilitas harga serta tantangan-tantangan lain yang ada di dunia perunggasan. Jagung pun demikian, sekarang harganya cenderung tinggi, sebab Audy mengatakan, Indonesia melakukan impor jagung sama sekali. Sehingga, terkadang agak susah mengontrol harga jagung.

 

“Kemudian, harga boiler tergantung pada supply dan demand pasar. Dalam satu tahun, peternak bisa menjual broiler sebesar Rp 6.000 per kg hidup di Sulawesi, karena usaha saya seluruhnya di Indonesia bagian timur, tetapi bisa juga sampai ke angka Rp 24.000 – 27.000 per kg. Sehingga, price gap di broiler sangat besar sekali dan ini memang akibat dari mekanisme pasar,” terang Audy. ed/bella

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain