Rabu, 7 April 2021

Waspada, Bakteri Super Mengintai Peternakan

Waspada, Bakteri Super Mengintai Peternakan

Foto: ist/dok.ZOOM-WAP


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Saluran air minum yang bersebelahan dengan area peternakan di beberapa negara ditemukan mengandung bakteri resisten antibiotik yang sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

 

Adalah World Animal Protection (WAP), yang meneliti saluran air minum yang bersebelahan langsung dengan peternakan di Kanada, Spanyol, Thailand dan Amerika Serikat. Penelitian tersebut dilakukan pada penghujung 2019 hingga pertengahan 2020.

 

Buah investigasi antar negara ini kemudian dipublikasikan dalam sebuah laporan yang berjudul ‘Silent Superbug Killers in a River Near You’. Tim peneliti menemukan adanya gen bakteri resisten antibiotik atau ARGs (Antibiotic Resistance Genes) yang merupakan bahan penyusun superbug atau bakteri super.

 

Temuan tersebut diketahui berada di daerah hilir sungai dari pabrik peternakan di Kanada, Spanyol, Thailand dan Amerika Serikat. Sampel yang terkontaminasi pun ditemukan di daerah hulu dengan tingkat kepadatan peternakan babi yang tinggi. Hal tersebut lantas mengindikasikan bahwa peternakan berskala pabrik dapat melepaskan gen bakteri resisten dan bakteri super ke lingkungan yang lebih masif.

 

Krisis bakteri super tersebut menjadi ancaman yang justru mampu melampaui pandemi virus corona (Covid-19). Per tahunnya, terdapat kurang lebih 700 ribu orang meninggal akibat bakteri super. Dimana, antibiotik tidak efektif mengobati infeksi. Hingga 2050, diperkirakan 10 juta orang meninggal akibat bakteri super tersebut.

 

WAP yang telah melakukan investigasi kemudian menemukan ARG yang resisten terhadap antibiotik adalah sefalosporin generasi ketiga, fluoroquinolones, colistin dan makrolid. Daftar antibiotik tersebut merupakan yang paling menjadi perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

 

WHO merekomendasikan bahwa antibiotik tidak boleh digunakan secara rutin untuk mencegah penyakit pada kelompok ternak. Meski demikian, praktik tersebut tetap dilakukan dengan luas di pabrik peternakan yang kejam, di mana sebanyak 75 % antibiotik dunia digunakan pada hewan ternak.

 

“Babi dan 50 miliar hewan lain yang diternakkan di pabrik mengalami penderitaan dan perlakukan kejam setiap tahunnya. Sebetulnya, ada cara lain dan lebih baik yang dapat ditempuh, yakni dengan berhenti menggunakan antibiotik di seluruh kelompok hewan untuk mencegah penyakit,” kata Jacqueline Mills, Pimpinan Program Peternakan WAP dalam siaran persnya. 

 

Mills menilai, tidak perlu lagi ada pabrik peternaka baru yang dibangun. Sebaliknya, industri makanan perlu merangkul masa depan yang baik dan berkelanjutan. Diantaranya, melalyui pola konsumsi berbasis protein nabati dan memastikan ternak yang ada hidup sejahtera. Sehingga, tercipta kehidupan ternak yang layak.  

 

Berkaca di negeri sendiri, diakui atau tidak, produksi ternak masih pekat dengan penggunaan antibiotik. Sehingga hasil penelitian ini patut menjadi alarm tentang betapa bahayanya pola peternakan pabrik di negara ini.

 

Kondisi di Tanah Air

Di Indonesia sendiri, penggunaan antibiotik pada industri peternakan terpantau cukup besar. Survei dari Kementan (Kementerian Peternakan) pada 2017 membuktikan, bahwa 81,4 % peternak menggunakan antibiotik pada unggas untuk tindak pencegahan penyakit. Sementara itu, 30,2 % peternak menggunakan antibiotik untuk pengobatan dan 0,3 % lainnya masih menggunakan antibiotik untuk pertumbuhan si ternak.

 

Penggunaan antibiotik yang terus menerus dan tidak bertanggungjawab, dikhawatirkan mampu memunculkan ARG dan bakteri super. Keduanya akan menimbulkan bahaya nyata bagi kesehatan masyarakat.

 

Perkiraan total penggunaan antimikroba di Indonesia pada hewan mencapai 761,27 ton pada 2020 lalu. Kemudian, diperkirakan akan mencapai 913,94 ton pada 2030. Meskipun tidak ada perkiraan formal secara nasional, resistensi antimikroba (AMR) dianggap tinggi dan meningkat.

 

Indonesia termasuk di antara lima negara dengan proyeksi kenaikan persentase terbesar dalam konsumsi antimikroba pada tahun 2030. Lima negara yang termasuk dalam 50 negara dengan jumlah antimikroba terbesar yang digunakan untuk peternakan pada tahun 2010 termasuk Myanmar (205%) , Indonesia (202 %), Nigeria (163 %), Peru (160 %), dan Vietnam (157 %). ed/ajeng

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain