Rabu, 7 April 2021

Kuota Impor Daging Berdikari Turun

Kuota Impor Daging Berdikari Turun

Foto: dok.istimewa


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). PT Berdikari mengantongi kuota impor daging sebesar 100 ribu ton tahun ini, jauh di bawah kuota tahun 2020 yang mencapai 190 ribu ton.

 

Direktur Utama PT Berdikari (Berdikari), Harry Warganegara mengaku, total kuota impor daging Berdikari pada 2021, sebesar  100.000 ton, dengan rincian daging kerbau India sebanyak 80.000 ton dan ditugaskan kepada Bulog (Badan Urusan Logistik). Kemudian daging sapi Brazil sebanyak 20.000 ton. Sementara pada 2020, total impor daging sebesar 190.000 ton, dengan rincian 170.000 ton untuk daging kerbau India dan 20.000 ton untuk daging sapi Brasil.

 

“Pada 2020 memang terealisasinya hampir 90.000 ton, mengingat tahun lalu masa pandemic baru dimulai, yang akhirnya melahirkan aturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Sehingga, horeka (hotel, restoran, kafe) sudah pasti tidak jalan. Kendati dalam keadaan seperti itu saja, kuota impor daging hampir terealisasi sebanyak 90.000 ton, sedangkan tahun ini total hanya 100.000 ton dan ini masih berproses,” kilahnya.

 

Sejak empat tahun lalu, Indonesia telah memasukkan daging kerbau dari India dengan penugasan kepada BUMN. “Importasi daging sapi dari Brasil pun dilaksanakan dengan penugasan kepada BUMN. Untuk Berdikari sendiri, pada 2021 ini mendapat penugasan memasukkan daging sapi dari Brasil sebanyak 20.000 ton,” jelasnya.

 

Harga Daging Kerbau India Stagnan

Menurut Harry, harga sapi hidup sekarang sudah di level paling murah yaitu 3,9 Dolar Amerika Serikat (AS) per kg atau setara dengan Rp 56.464,40 per kg. Tetapi jika dibandingkan dengan awal 2020 atau 2019 yaitu 2,6 Dolar AS per kg atau setara dengan Rp 37.642,93 per kg. Ia menilai, harga sapi hidup per kg sekarang naiknya cukup signifikan.

 

Hal tersebut menyebabkan para feedloter tidak bisa mengisi kandangnya dengan penuh, sebab terkadang mereka menunggu dan melihat. “Terkadang ini bisa terjadi secara tiba-tiba, jika tidak mengambil keputusan dan tidak mengambil posisi, maka sama saja. Artinya, tidak bisa dipungkiri bahwa memang harga sapi atau daging sapi di dunia beranjak naik,” keluh Harry.

 

Berbeda dengan sapi, daging kerbau India justru harganya terbilang stagnan. Kemudian tindak lanjut pemerintah sudah ambil posisi, yang mana ada penugasan kepada BUMN untuk mengimpor daging beku, seperti yang telah Harry sampaikan sebelumnya.


Adapun kebutuhan konsumsi daging sapi, yaitu sebesar 696.956 ton. Sedangkan produksi sapi di dalam negeri sebanyak 425.978 ton, sehingga defisitnya adalah 270.978 ton. Data ini dikutip oleh Harry dari hasil rakornis (rapat koordinasi teknis) antara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag). 

 

Stok Sapi Lokal

Sepekan menuju Ramadan yang diprediksi akan jatuh pada Senin mendatang (12/4), membuat beberapa harga bahan pokok meningkat, tak terkecuali daging sapi. Isu ini berkembang akan terjadi pada saat Ramadan sampai Lebaran atau hari besar keagamaan nasional (HBKN).

 

Menanggapi hal ini, Harry Warganegara menyampaikan bahwa sesungguhnya stok sapi lokal yang siap untuk disembelih itu lebih dari cukup.

 

“Di daerah yang utamanya di Karanganyar, Sukoharjo dan Boyolali itu bobot badan sapinya sudah mencapai 800 kg up, bahkan ada yang sampai 1 ton. Artinya, jika bicara untuk kebutuhan hari raya, kita tidak khawatir. Apalagi dibantu dengan teman-teman feedloter (industri penggemukan sapi potong), walaupun memang sekarang isunya harga sapi dari Australia naik,” urainya.

 

Kenaikan harga sapi tersebut, Harry mengungkapkan, sebab saat ini Australia sedang dalam kondisi repopulasi. Sehingga, berefek pada kegiatan ekspor  sapi ke Indonesia. Indonesia memang impor sapi hidup dari Australia saja, dan belum dari negara lain.

 

“Opsi negara pengekspor sapi hidup lainnya, yaitu seperti Meksiko, Chili dan Filipina. Kami juga sudah berkomunikasi dengan para duta besar (dubes) Indonesia di sana. Negara-negara ini memang yang sudah dideklarasi bahwa negara tersebut bebas tanpa vaksin dari penyakit kuku dan mulut (PMK),” terang dia.

 

Harry pun menilai, Indonesia memang memiliki restriksi yang bagus. Namun, dalam keadaan seperti sekarang, itu dapat mempersulit keadaan. Ia memberi contoh, sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 29 Tahun 2019 tentang Ketentuan Ekspor dan Impor Hewan Produk Hewan, memang kepada negara-negara yang belum dinyatakan bebas secara tanpa vaksin untuk sapi hidupnya bisa diimpor, baik itu sapi hidup maupun dagingnya. Tetapi penugasan dilimpahkan kepada BUMN (Badan Usaha Milik Negara) berdasarkan rapat koordinasi terbatas (rakortas). ed/bella

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain